Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Imbas Perang AS - Iran, Harga Plastik di Sampit Naik Signifikan, Pedagang Mulai Kurangi Stok

M. Akbar • Kamis, 2 April 2026 | 13:07 WIB
Pedagang plastik di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur.  (Akbar/Radar Sampit)
Pedagang plastik di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur. (Akbar/Radar Sampit)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Harga berbagai jenis plastik di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini mulai dirasakan para pedagang, bahkan beberapa jenis plastik dilaporkan mengalami kenaikan hingga 50 hingga 100 persen.

Salah seorang pedagang plastik di Pasar Keramat Sampit, Iyan, mengatakan kenaikan harga tersebut terjadi secara bertahap sejak pertengahan Ramadan dan semakin terasa setelah Hari Raya Idulfitri.

“Kenaikan mulai terasa sejak pertengahan bulan puasa, tetapi saat itu belum terlalu signifikan. Setelah Lebaran, kenaikannya semakin terasa dan sampai sekarang sudah sekitar lima kali mengalami kenaikan,” kata Iyan, Kamis (2/4/2026).

Menurut Iyan, salah satu contoh kenaikan terjadi pada plastik untuk kemasan es. Jika sebelumnya dijual sekitar Rp34 ribu per pak, kini harganya mencapai Rp55 ribu per pak atau naik sekitar Rp21 ribu.

Baca Juga: Isu Kenaikan BBM Tak Sampai Picu Kepanikan di Sampit

“Plastik untuk es dulu sekitar Rp34 ribu per pak, sekarang sudah Rp55 ribu,” tambahnya.

Kenaikan juga terjadi pada plastik cup untuk minuman. Harga yang sebelumnya sekitar Rp320 ribu per dus kini meningkat menjadi Rp465 ribu per dus.

Selain itu, plastik jenis kantong barang juga mengalami kenaikan cukup tajam. Ia menyebutkan, ada jenis plastik yang sebelumnya dijual sekitar Rp15 ribu kini naik menjadi Rp30 ribu atau meningkat hingga 100 persen.

“Ada juga plastik barang yang dulu Rp15 ribu sekarang sudah Rp30 ribu. Semakin bening kualitas plastiknya, biasanya kenaikannya juga semakin tinggi,” jelasnya.

Ia menambahkan, bahkan ada jenis plastik yang saat ini harga modalnya sudah mencapai Rp53 ribu, padahal sebelumnya dijual sekitar Rp35 ribu. Kondisi tersebut membuat pedagang harus berhati-hati dalam melakukan pembelian barang dari distributor.

“Kami jadi tidak berani mengambil banyak karena harga dari distributor sudah naik terlebih dahulu,” ujarnya.

Menurut Iyan, distributor menyebutkan kenaikan harga tersebut dipengaruhi oleh naiknya harga bahan baku plastik, khususnya biji plastik, serta adanya keterbatasan bahan tertentu yang digunakan dalam proses produksi.

Selain itu, sistem pemesanan barang juga berubah. Jika sebelumnya pembelian bisa dilakukan dengan sistem pembayaran tempo, kini sebagian distributor menerapkan sistem pre order (PO) dan pembayaran harus dilakukan lebih awal.

Baca Juga: Harga BBM Pertamina 1 April 2026 Tetap, Tidak Ada Kenaikan di Seluruh Indonesia

“Kalau dulu masih bisa pembayaran tempo, sekarang sudah tidak bisa. Kadang juga harus pesan dulu melalui sistem pre order,” ungkapnya.

Terkait respons pelanggan, Iyan mengaku sebagian pembeli terkejut dengan kenaikan harga tersebut. Namun ada pula yang memaklumi karena memahami bahwa kenaikan berasal dari distributor.

“Banyak yang kaget, ada juga yang memaklumi. Bahkan ada yang mengira kami yang menaikkan harga sendiri,” ucap Iyan.

Meski demikian, ia mengaku tidak terlalu mempersoalkan hal tersebut karena kenaikan harga memang berasal dari distributor.

Saat ini, kata Iyan, sebagian barang masih bisa dijual dengan harga lama karena masih menggunakan stok lama. Namun jika stok tersebut habis, pedagang tidak memiliki pilihan selain mengikuti harga terbaru dari distributor.

“Untungnya kami masih punya stok lama, jadi masih bisa dijual dengan harga lama. Tapi kalau stok lama habis, mau tidak mau kami harus mengikuti harga yang baru,” terangnya.

Ia menambahkan, kenaikan harga plastik tersebut juga berdampak pada omzet penjualan yang mulai menurun. Pedagang kini lebih berhati-hati dalam menambah stok karena khawatir daya beli masyarakat menurun.

“Omzet pasti berkurang karena kami juga tidak berani menyetok terlalu banyak seperti sebelumnya, takut barangnya tidak laku,” tutupnya.

Seperti dikethui bahwa industri plastik nasional mulai merasakan tekanan akibat eskalasi konflik global di Timur Tengah, yang memicu kenaikan harga bahan baku di pasar internasional. 

Harga bahan baku plastik bahkan dilaporkan melonjak hampir dua kali lipat dalam beberapa waktu terakhir.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiyono mengatakan, situasi geopolitik yang memanas turut memengaruhi rantai pasok bahan baku industri, terutama karena kondisi Selat Hormuz yang semakin tidak pasti.

"Saat ini situasi perang makin intens, saling serang dan kondisi Selat Hormuz makin sulit. Industri fokus ke manajemen feedstock dan barang jadinya," kata Fajar seperti dikutip dari CNBC Indonesia, Kamis (2/4/2026)

Di sisi lain, kenaikan harga bahan baku juga mulai terasa di pasar domestik. Menurut Fajar, lonjakan harga internasional ikut mendorong kenaikan harga di dalam negeri.

"Harga internasional naik banyak dan dalam negeri pasang harga naik tinggi, dan kebetulan pas pembatasan angkutan Lebaran, maka stok jualan hanya untuk memenuhi kontrak lama saja," jelas dia.

Ia mengatakan, ketidakpastian pengiriman juga menjadi tantangan tersendiri bagi industri karena jadwal kapal pengangkut sulit diprediksi.

"Feedstock harga juga naik banyak sekali, dan ketidakpastian angkutan kapal juga susah diprediksi," katanya.

Fajar mengungkapkan, kenaikan harga bahan baku plastik saat ini cukup signifikan. Jika sebelumnya berada di kisaran Rp15.000 hingga Rp17.000 per kilogram (kg), kini harganya sudah mencapai sekitar Rp30.000 per kg.

"Dari Rp15.000-Rp17.000 naik ke Rp30.000 (per kg)," ucap Fajar.

Kenaikan tersebut, lanjut dia, terjadi pada harga bahan baku plastik yang digunakan oleh industri dalam negeri. "Iya, bahan baku plastik," pungkasnya. (ktr-2/sla)

Editor : Slamet Harmoko
#harga plastik naik #perang AS - Iran #sampit #kotim #kalteng