PANGKALAN BUN, Radarsampit.jawapos.com - Abu pembakaran dari boiler PT. Korindo Aria Bima dikeluhkan oleh masyarakat Kelurahan Mendawai dan Kelurahan Sidorejo, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar).
Dampak terhadap hal itu sudah dirasakan oleh masyarakat sekitar selama bertahun-tahun. Dan hingga saat masih dirasakan masyarakat.
Butiran kristal berwarna hitam pekat tersebut, mengotori halaman rumah, bukan itu saja warga terdampak juga kerap mendapati jemuran mereka kotor oleh abu pembakaran.
Warga yang tidak mau disebut identitasnya mengatakan, bahwa abu pembakaran PT. Korindo sudah dirasakan masyarakat puluhan tahun dan tidak ada solusi atas persoalan tersebut.
"Kalau kami sudah merasakan sejak puluhan tahun debu ini, mengadu tidak tahu kemana, jadi masyarakat banyak yang diam saja hanya bisa mengeluh di media sosial," ujarnya.
Ketua RT 15 Sidorejo, Salim mengatakan bahwa wilayah Kelurahan Sidorejo yang terdampak abu pembakaran selain, di lingkungan mereka juga di RT 10, 11, 14, 28, dan di RT 29.
Selain itu, di kawasan Ponpes Bina Insan, juga terdampak dan para pengurus juga pernah bersuara mengeluhkan persoalan tersebut.
"Yang dirasakan selain debu yang mengotori halaman rumah dan jemuran pakaian, kalau era 90 an dahulu dari abu sampai bau tidak sedap yang dirasakan masyarakat," ungkapnya.
Lurah Mendawai, M Aswin Musani menjelaskan, lantaran lama tidak hujan, abu kemudian emngendap dinatap rumah dan ketika hujan ikut bersama aliran air dan menumpuk.
Menurutnya, Sejatinya batas radius polusi sudah sesuai dengan aturan waktu pabrik dibangun pertama kali, namun seiring berjalannya waktu pertumbuhan penduduk dan pembangunan permukiman bertambah padat, sehingga ada dampak yang dirasakan masyarakat.
"Ini persoalan lama, dan sejatinya dahulu sesuai dengan regulasi batas radius polusi, namun karena perkembangan pembangunan dan pertumbuhan penduduk yang semakin mendekat ke pabrik akhirnya menjadi terdampak, dan lokasi yang paling dekat dengan pabrik, yaitu perbatasan antara kelurahan Mendawai dan Sidorejo," pungkasnya. (tyo/fm)
Editor : Farid Mahliyannor