SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Hari pertama Ramadan 1447 Hijriah menjadi momen tak terlupakan bagi seorang Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Lapas Kelas IIB Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Di tengah suasana khusyuk bulan suci, seorang tahanan berinisial D (19), resmi memeluk agama Islam melalui prosesi pengucapan dua kalimat syahadat di Masjid At-Taubah, Kamis (19/2/2026) lalu.
Prosesi berlangsung sederhana namun sarat makna. D, yang diketahui kelahiran 2007 dan baru menjalani masa tahanan sejak Oktober 2025, mengucapkan syahadat dengan disaksikan langsung Kepala Lapas Kelas IIB Sampit Muhammad Yani beserta jajaran, serta perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Kotim.
Suasana haru menyelimuti ruangan ibadah tersebut. Lantunan doa mengiringi langkah awal D memasuki lembarana baru dalam hidupnya.
Momentum ini terasa semakin istimewa karena bertepataan dengan hari pertama Ramadan, bulan yang penuh dengan ampunan dan pembaruan diri.
Kepala Lapas Kelas IIB Sampit Muhammad Yani mengatakan bahwa keputusan menjadi mualaf murni atas keinginan pribadi yang bersangkutan tanpa paksaan dari pihak mana pun.
“Yang bersangkutan menyampaikan niatnya sendiri untuk masuk Islam. Kami tentu memfasilitasi dan memberikan pendamoingan agar prosesnya berjalan dengan baik dan sesuai tuntunan,” ujarnya.
Menurut Yani, pembinaan di dalam lapas tidak hanya berfokus pada keterampilan dan kemandirian, tetapi juga pada pembinaan mental serta spiritual warga binaan. Ia menilai, perubahan keyakinan yang dilandasi kesadaran pribadi meruoakan bagian dari proses pencarian jati diri dan harapan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
“Semoga dengan memeluk agama Islam di bulan suci Ramadan ini, yang bersangkutan mendapatkan ketenangan hati, kekuatan iman, dan mampu menjalani masa pembinaan dengaan sungguh-sungguh,” tambahnya.
Meski status D masih sebagai tahanan dan terbilang baru menjalani masa penahanan, pihak lapas memastikan ia akan mendapatkan pembinaan keagamaan secara berkelanjutan. Kehadiran petugas dan perwakilan Kementerian Agama dalam prosesi tersebut juga menjadi bentuk dukungan moral agar yang bersangkutan dapat istikamah.
Hidayah bisa datang kepada siapa saja yang dingin-Nya, tidak terkecuali kepada mereka yang berada di balik tembok lembaga pemasyarakatan.
Ramadan kali ini bukan sekadar awal Ramadan bagi D, melainkan juga awal perjalanan spiritual yang diharaoakan menjadi titik balik menuju kehidupan yang lebih baik. (yn/fm)
Editor : Farid Mahliyannor