Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

30 Dewa Dewi Dimandikan Air Bunga, Simbol Kesucian Sambut Imlek di Sampit

Usay Nor Rahmad • Kamis, 12 Februari 2026 | 14:20 WIB
Ritual Kimsin atau penyucian patung dewa-dewi yang dilaksanakan umat Khonghucu di Kelenteng Kong Miao Litang Jalan MT Haryono Sampit. (Oes/Radar Sampit)
Ritual Kimsin atau penyucian patung dewa-dewi yang dilaksanakan umat Khonghucu di Kelenteng Kong Miao Litang Jalan MT Haryono Sampit. (Oes/Radar Sampit)

SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Menjelang Tahun Baru Imlek, umat Khonghucu di Sampit melaksanakan tradisi pembersihan patung para dewa-dewi di Kelenteng Kong Miao Litang atau Harmoni Kehidupan, Jalan MT Haryono Sampit, Rabu (11/2/2026).

Sebanyak 30 patung dewa-dewi dimandikan menggunakan air bunga sebagai simbol penyucian diri dan harapan menjalani kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru.

Pemuka Agama Khonghucu Wen Shi Suhardi mengatakan, ritual penyucian Patung dewa merupakan tradisi tahunan yang selalu dilakukan menjelang Imlek.

Tradisi ini tidak hanya bermakna membersihkan sarana ibadah, tetapi juga menjadi simbol pembersihan hati umat.

“Hari ini kami membersihkan patung para dewa atau disebut kimsin. Spiritnya adalah membersihkan hati dalam menyongsong tahun baru. Dengan hati yang bersih dan lapang, kita berharap bisa menjalani kehidupan yang lebih baik,” ujarnya.

Ia menjelaskan, jumlah patung yang dibersihkan cukup banyak sehingga proses pembersihan disesuaikan dengan waktu yang tersedia. Jika belum selesai dalam satu hari, kegiatan akan dilanjutkan keesokan harinya.

“Total patung yang ada di Kelenteng Kong Miao Litang ini ada sekitar 30 patung. Kalau hari ini belum selesai, akan kami lanjutkan besok,” jelasnya.

Dalam prosesi Kimsin, patung dimandikan menggunakan air bunga, kemudian dibersihkan dan diberi parfum. Menurut Wen Shi Suhardi, air bunga dipilih karena memiliki makna keharuman dan kebaikan.

“Kami menggunakan air bunga, setelah itu dibersihkan dan diberi parfum. Artinya dalam kehidupan ini kita ingin selalu beraroma wangi, membuang sifat-sifat buruk agar sifat baik melekat,” katanya.

Selain patung, altar persembahyangan juga turut dibersihkan agar umat merasa nyaman saat melaksanakan ibadah. Menurutnya, kebersihan sarana ibadah menjadi bagian penting dalam menciptakan kekhusyukan.

“Secara spesifik kami membersihkan patung dewa dan altar, supaya saat umat sembahyang, media persembahyangan ini sudah benar-benar bersih dan nyaman,” ungkapnya.

Wen Shi Suhardi menambahkan, dalam kepercayaan umat Khonghucu, momen menjelang Imlek diyakini sebagai waktu di mana para dewa melaporkan perbuatan umat selama setahun kepada Tian atau langit.

“Harapannya, dengan segala kebaikan dan pahala yang kita lakukan, umpan balik yang kita terima juga baik,” tuturnya.

Ia juga menekankan bahwa sebelum membersihkan patung dewa atau rupang, umat yang terlibat harus terlebih dahulu membersihkan diri secara jasmani dan rohani.

“Sebelum membersihkan patung dewa, kami membersihkan hati, lalu membersihkan jasmani seperti mandi dan keramas. Ada juga ketentuan, misalnya wanita yang sedang haid tidak diperkenankan ikut, jadi harus dipastikan benar-benar siap,” jelasnya.

Di kelenteng tersebut, prosesi pembersihan tidak menggunakan arak, melainkan air bunga yang dinilai lebih merepresentasikan keharuman dan kesucian.

“Kalau di sini kami tidak menggunakan arak ataupun air kelapa, karena menurut kami air bunga membawa keharuman dan makna yang lebih baik,” tandasnya. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
#Wen Shi Suhardi #Konghucu #imlek