SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Kondisi cuaca panas dan minim hujan yang dirasakan masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dalam beberapa hari terakhir bukan tanpa sebab.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan, dinamika atmosfer global hingga regional saat ini berkontribusi besar terhadap berkurangnya pembentukan hujan, sekaligus memicu meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi (Stamet) H Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, menjelaskan bahwa cuaca di Indonesia dikendalikan oleh sejumlah pengendali iklim utama, yakni El Nino–La Nina, Muson Asia, Muson Australia, serta Indian Ocean Dipole (IOD).
“Indonesia ini dikendalikan oleh empat pengendali iklim tersebut. Kombinasinya sangat mempengaruhi cuaca kita,” ujar Mulyono saat pemaparan analisis dinamika atmosfer.
Ia menjelaskan, saat La Nina terjadi, curah hujan di Indonesia cenderung meningkat. Sebaliknya, ketika El Nino aktif, curah hujan akan berkurang. Selain itu, peran angin muson juga sangat menentukan.
“Angin barat dari Asia membawa uap air, sehingga kita lebih basah. Sebaliknya, muson Australia atau angin timur membawa uap panas yang sifatnya kering, membuat wilayah kita lebih kering,” jelasnya.
Sementara itu, pengaruh Indian Ocean Dipole (IOD) juga turut diperhatikan. Jika IOD bernilai negatif, maka curah hujan di wilayah barat dan tengah Indonesia cenderung meningkat. Namun saat ini, kondisi IOD masih berada pada fase netral.
“Untuk kondisi muka laut saat ini, anomali suhu permukaan laut di dasarian I berada di sekitar minus 0,31, itu masuk kategori netral. Prediksi enam bulan ke depan, Februari hingga Juli, juga masih netral. Artinya, tidak ada peningkatan curah hujan signifikan untuk Indonesia bagian barat dan tengah,” kata Mulyono.
Paparan BMKG juga menunjukkan, curah hujan Dasarian III Januari 2026 di wilayah Kotim berada pada kategori rendah hingga menengah, berkisar antara 20–50 mm dan 50–75 mm, dengan sifat hujan di bawah normal. Kondisi ini berpotensi memicu terjadinya karhutla.
Selain faktor iklim global, cuaca kering di Kotim dalam sepekan terakhir juga dipengaruhi oleh keberadaan siklon tropis. Mulyono menjelaskan, pada periode 14–20 Januari 2026, terdapat dua siklon di wilayah utara dan selatan Indonesia.
“Uap air kita tertarik ke utara dan selatan karena adanya siklon, sehingga wilayah kita berada dalam kondisi kering dan tidak terjadi pembentukan hujan yang masif,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pada 15 Januari, bibit siklon yang semula terdeteksi di pagi hari berkembang menjadi siklon pada malam hari di wilayah Filipina. Hal ini menyebabkan uap air dari Kalimantan ikut tertarik keluar wilayah.
“Makanya saat itu kondisi kita terasa cukup terik. Di tanggal 20 siklon mulai melemah, tapi efeknya masih terasa beberapa hari ke depan. Bahkan hari ini masih ada bibit siklon di wilayah selatan yang kembali menarik uap air,” jelasnya.
BMKG juga mencatat, pada 11 Januari lalu, wilayah Sampit didominasi awan tanpa hujan dengan durasi yang sangat singkat. Secara analisis, curah hujan harian tergolong rendah dan bersifat di bawah normal, padahal secara klimatologis seharusnya sudah di atas 100 mm.
“Kemarin beberapa titik tidak hujan sama sekali. Rekap kami, hingga saat ini terdata sekitar 60 titik panas,” kata Mulyono.
Hotspot terbanyak terpantau di wilayah utara Kotim, seperti Kecamatan Antang Kalang, Telaga Antang, dan Bukit Santuai. BMKG memprediksi kondisi kering mulai terasa sejak 13 Januari dan berlanjut hingga pertengahan bulan.
“Perkiraan hujan baru mulai muncul sekitar tanggal 25 Januari. Namun untuk Dasarian III Januari masih kategori rendah,” ujarnya.
BMKG memproyeksikan, curah hujan akan mulai meningkat pada Dasarian I Februari 2026 dan masuk kategori normal pada Februari. Pada Maret, curah hujan diprediksi berada pada kategori menengah, dengan peningkatan lebih lanjut pada April dengan sifat hujan normal.
Dengan kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat dan pemangku kepentingan untuk tetap waspada terhadap potensi karhutla, mengingat cuaca panas dan kering masih berpeluang terjadi dalam beberapa waktu ke depan. (oes)
Editor : Slamet Harmoko