Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

PAD Sarang Walet masih Tak Bergairah. Di Kotim Bakal Didata Ulang, Potensi Ekspor Menjanjikan  

Yuni Pratiwi Iskandar • Jumat, 16 Januari 2026 | 07:00 WIB
Deretan Bangunan sarang burung walet di salah satu sudut Kota Sampit
Deretan Bangunan sarang burung walet di salah satu sudut Kota Sampit

SAMPIT,radarsampitjawapos.com- Sektor usaha bangunan sarang walet di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih tak bergairah untuk mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sejak tahun 2024, tren pendapatan dari sektor usaha ini tercatat menurun.

Kondisi ini membuat Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kotim menyesuaikan target sekaligus merencanakan pendataan ulang terhadap keberadaan dan produktivitas gedung sarang walet di lapangan.

Kepala Bapenda Kotim Ramadansyah mengungkapkan,  pada 2024 target PAD sarang burung walet ditetapkan sebesar Rp560 juta, namun realisasinya hanya mencapai Rp347.122.362.

“Memasuki 2025, kami menurunkan target menjadi Rp300 juta karena mempertimbangkan tren penurunan produksi. Namun realisasi justru melampau target. Pada tahun 2025 target kita turunkan menjadi 300 juta, malah dari prediksi kita di atas realisasinya, yakni Rp353.360.470,” ujarnya.

Di tahun 2026 ini lanjut Ramadansyah, Bapenda kembali menurunkan target PAD sarang burung walet menjadi Rp260 juta. Menurutnya penyesuaian ini didasarkan pada berbagai informasi di lapangan terkait menurunnya produksi hingga adanya gedung walet yang sudah tidak produktif.

Ramadansyah menjelaskan, dalam rapat evaluasi akhir tahun 2025 bersama para camat, Bapenda telah menyampaikan rencana pendataan ulang bangunan sarang burung walet. Pendataan ini akan dilakukan bersama pihak pemerintah kecamatan dan pemerintah desa.

“Tahun ini akan kami lakukan pendataan kembali sarang burung walet, kami akan melakukan bersama pihak kecamatan dan desa,” ujarnya.

Ramadansyah juga mengungkapkan, sudah ada beberapa surat dari pemilik gedung walet yang menyampaikan bahwa bangunan walet mereka sudah kosong atau tidak lagi menghasilkan.

“Memang sudah ada beberapa surat dari beberapa pemilik gedung sarang walet yang menyampaikan bahwa mereka sudah tidak ada isinya lagi. Dari dulu yang sekian kilogram, sekarang kosong,” tuturnya.

Meski demikian, Ramadansyah menegaskan bahwa kondisi tersebut tetap perlu dibuktikan melalui pendataan langsung ke lapangan.  “Ini kami belum tahu buktinya karena belum kami data lagi ke lapangan,” ucapnya.

Dijelaskannya, pendataan ulang menjadi penting untuk memetakan mana sarang walet yang masih produktif, kurang produktif, hingga yang sudah tidak berproduksi sama sekali.

“Informasi ini sudah kami komunikasikan dengan pihak kecamatan untuk melakukan pendataan ulang, pendataan kembali keberadaan sarang burung walet yang produktif dan tidak produktif, bahkan yang tidak ada isinya sama sekali,” paparnya.

Namun demikian lanjutnya, Bapenda mengakui adanya kendala dalam proses pengawasan. Pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk masuk langsung ke dalam gedung sarang walet.

“Memang kita kesulitan kalau mengukur tingkat kejujuran pengusaha bangunan walet, karena kita tidak punya kewenangan untuk masuk ke dalam gedung itu,” sebutnya.

Karena itu lanjut Ramadansyah, sistem penilaian potensi PAD walet  masih sangat bergantung pada kejujuran wajib pajak melalui mekanisme self assessment.

“Tinggal bagaimana para pemilik gedung walet ini bisa menyampaikan secara jujur. Kalau memang ada isinya,  berapa kilo. Kalau disampaikan sesuai dengan data yang ada, Alhamdulillah saat ini sebagian besar sudah aktif sebagai wajib pajak melakukan pembayaran, selain menyampaikan ada penurunan produksi,” terangnya.

Menurut Ramadansyah, penurunan produksi ini juga sulit diverifikasi secara teknis. “Kalau misalkan dia sebelumnya panen 10 kilogram turun jadi 5 kilogram juga susah, karena kita tidak bisa melihat langsung. Mereka hanya menyampaikan, ini kan sifatnya assessment sendiri,” paparnya.

Selain itu, pola panen juga berubah. Jika sebelumnya panen bisa dilakukan setiap bulan, kini banyak pembudidaya sarang walet yang tidak lagi rutin panen.  “Dalam satu tahun mungkin saja mereka yang dulunya tiap bulan panen, sekarang belum bisa setiap bulan panen,” tukasnya.

Informasi beredar di masyarakat, harga sarang burung walet lokal di Kotim belakangan ini bervariasi, mulai dari Rp 4-Rp5 juta perkg sampai bisa mencapai Rp 18 juta perkg untuk kualitas premium dan ketika permintaan pasar tinggi.

Biasanya, menjelang perayaan Imlek yang tahun ini jatuh pada 17 Februari, permintaannya meningkat.

Secara nasional diinformasikan, bahwa Kementerian Perdagangan (Kemendag) mendorong peningkatan volume dan nilai ekspor produk sarang burung walet Indonesia ke Tiongkok.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengungkapkan, Indonesia adalah produsen terbesar sarang burung walet terbaik di dunia dengan kualitas premium. Proses pengolahan ketat dan memenuhi standar internasional.

Dikutip dari Jawapos.com, Kementerian Perdagangan menaungi Forum China-Indonesia Bird's Nest Trade Summit, yang menjadi wadah strategis untuk membangun komunikasi efektif antara pelaku usaha sarang burung walet kedua negara.

”Forum ini kami harap dapat semakin menonjolkan keunggulan sarang burung walet Indonesia, sehingga berkontribusi memperkuat hubungan dagang antara Indonesia dan Tiongkok,” ujar Budi.

Budi menyampaikan kerja sama pelaku usaha kedua negara dapat menciptakan ekosistem perdagangan yang berkelanjutan dan saling menguntungkan. Pemerintah mengharapkan adanya sinergi dengan asosiasi, para eksportir dan pemerintah daerah untuk semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin pasar sarang burung walet dunia.

Saat ini, Indonesia merupakan penghasil sarang burung walet terbesar di dunia dan Tiongkok merupakan pasar utamanya. Pada 2024, ekspor sarang burung walet Indonesia ke dunia tercatat sebesar 428 juta dolar AS.

Di sisi lain, pada tahun tersebut, Tiongkok mengimpor sarang burung walet dari dunia sebesar 634,95 juta dolar AS dan hampir 70 persen berasal dari Indonesia, yaitu sebesar 428,79 juta dolar AS. Selain itu, dalam lima tahun terakhir (2020-2024) ekspor sarang burung walet Indonesia ke Tiongkok tumbuh positif dengan tren sebesar 3,75 persen.

Selain Tiongkok negara tujuan ekspor Indonesia lainnya adalah Hongkong dengan nilai ekspor sebesar 62,35 juta dolar AS, Vietnam (22,01 juta dolar AS), Singapura (17,81 juta dolar AS), Amerika Serikat (14,71 juta dolar AS), dan Taiwan (7,75 juta dolar AS).

Dilansir dari data Analisis Komoditas Ekspor 2020-2024 milik Badan Pusat Statistik (BPS), komoditas ini memiliki rata-rata peranan sebesar 91,69 % terhadap total ekspor sektor peternakan. Pada tahun 2024, peranan komoditas ini bahkan mencapai 97,59 %, tertinggi selama periode tersebut.

Meskipun begitu, volume dan nilai ekspor komoditas sarang burung walet pada 2024 sama-sama menurun dari tahun sebelumnya. Volume ekspor menurun 100 ton dari 1,350 ton menjadi 1,250 ton. Sedangkan nilai ekspor menurun dari 670 ton menjadi 560 ton.

Nilai ekspor komoditas sarang burung selama tahun 2020-2024 cenderung menunjukkan tren yang berfluktuatif. Peningkatan nilai ekspor terjadi pada tahun 2020, yaitu sebesar 48,47 % menjadi sebesar US$540,4 juta, mengindikasikan terjadinya peningkatan harga komoditas pada 2020.

Sebaliknya, terlihat indikasi terjadinya penurunan harga komoditas sarang burung pada tahun 2021. Hal tersebut nampak dari terjadinya penurunan nilai ekspor sebesar 4,32 % sehingga menjadi US$517 juta, padahal berat ekspornya mengalami peningkatan sebesar 14,71 % dari yang sebelumnya 1.312,5 ton menjadi 1.505,5 ton.(yn/gus)

Grafis Tujuan Ekspor Sarang Walet Indonesia  2020-2024:

  1. Tiongkok 428,79 juta Dolar AS
  2. Hongkong 62,35 juta Dolar AS
  3. Vietnam 22,01 juta Dolar AS
  4. Singapura 17,81 juta Dolar AS
  5. Amerika Serikat 14,72 juta Dolar AS
  6. Taiwan 7,75 juta Dolar AS

 

 

 

 

 

Editor : Agus Jaka Purnama
#Ramadansyah #bangunan #pendapatan asli daerah (PAD) #Kotawaringin Timur (Kotim) #Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) #sampit #ekspor sarang walet #bergairah #sarang walet