SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Warga yang tinggal di sekitar eks gudang karet di Jalan Ir Juanda, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Sampit, kembali mengeluhkan bau menyengat yang diduga berasal dari limbah sawit yang disimpan di area tersebut.
Bau tak sedap itu disebut jauh lebih parah dibandingkan bau karet saat gudang masih beroperasi sebelumnya.
Sejumlah warga mengaku aktivitas sehari-hari mereka terganggu akibat bau menyengat tersebut, bahkan hingga membuat tidak sanggup makan dan minum.
Bau itu diduga berasal dari salah satu kolam penampungan limbah di dalam area eks gudang karet.
“Bau banget, tidak sanggup sampai sakit dada. Sampai-sampai kalau mau makan kami harus menjauh dari sini,” ungkap Ipau, salah seorang warga, Kamis (15/1/2026).
Keluhan serupa juga disampaikan Misnawati, warga lainnya. Ia membenarkan bahwa bau menyengat itu juga tercium hingga ke rumahnya.
“Tempat saya juga keciuman baunya. Sangat mengganggu,” ujarnya singkat.
Warga menilai kondisi ini lebih parah dibandingkan sebelumnya, saat lokasi tersebut masih digunakan untuk aktivitas karet.
Menurut mereka, bau karet memang sempat dikeluhkan, namun tidak sampai menimbulkan dampak fisik seperti sekarang.
“Kalau dulu bau karet masih bisa ditoleransi. Ini beda, lebih parah, menusuk, bikin mual,” kata seorang warga lainnya.
Keluhan ini melanjutkan keresahan warga yang sebelumnya juga viral di media sosial.
Dalam pemberitaan terdahulu, warga sekitar eks gudang karet terkenal itu mengeluhkan bau menyengat yang diduga berasal dari aktivitas penampungan limbah sawit oleh pihak ketiga yang menyewa lokasi tersebut.
Warga menilai penggunaan eks gudang karet sebagai tempat penampungan limbah sawit tidak sesuai peruntukan.
Pasalnya, kawasan tersebut berada di dalam kota dan sangat dekat dengan permukiman padat penduduk.
“AMDAL-nya bukan untuk limbah sawit. Setahu kami peruntukannya untuk karet dan rotan. Ini jelas menyalahi aturan,” ujar Dayat, warga setempat, pada pemberitaan sebelumnya.
Menanggapi keluhan warga, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kotawaringin Timur sebenarnya telah menurunkan tim ke lokasi pada Senin (8/12/2025) lalu. Kepala DLH Kotim Marjuki, membenarkan adanya pengaduan masyarakat terkait bau menyengat di kawasan eks gudang tersebut.
“Setelah menerima aduan, tim langsung turun ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan awal,” kata Marjuki.
Namun, saat pemeriksaan dilakukan, DLH mengaku tidak menemukan bau menyengat sebagaimana yang dikeluhkan warga. Meski demikian, DLH mencatat adanya aktivitas di area eks gudang karet, meski jenis kegiatan dan status perizinannya belum dapat dipastikan.
“Saat tim berada di lokasi, kondisi lingkungan terpantau normal. Bau itu memang tidak terjadi terus-menerus,” jelasnya.
Meski belum menemukan bukti kuat saat pemeriksaan awal, DLH menyatakan akan terus melakukan pendalaman, mengingat lokasi tersebut berada dekat permukiman serta adanya keluhan peningkatan lalu lintas truk.
Warga berharap DLH tidak hanya turun sebatas formalitas, tetapi benar-benar melakukan pemeriksaan menyeluruh, termasuk menelusuri sumber bau dari kolam penampungan limbah yang diduga menjadi penyebab utama.
“Kami berharap DLH betul-betul memeriksa, jangan hanya formalitas. Kami yang merasakan dampaknya langsung,” tegas Ipau.
DLH sendiri mengimbau warga untuk segera melapor jika bau menyengat kembali muncul, terutama dengan informasi waktu kejadian yang lebih detail agar pemeriksaan dapat dilakukan saat kondisi terjadi.
Hingga kini, warga masih menunggu langkah tegas pemerintah daerah untuk memastikan tidak ada aktivitas yang mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan masyarakat di kawasan tersebut. (oes)
Editor : Slamet Harmoko