SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Jalan poros yang menghubungkan Desa Tanjung Jariangau, Bawan, hingga arah Kuala Kuayan di Kecamatan Mentaya Hulu kini tak lagi sekadar jalur penghubung. Bagi warga, jalan itu berubah menjadi lintasan penuh ujian-licin, berlumpur, dan menyimpan risiko setiap saat.
Wahidah, salah seorang warga sekaligus pengguna jalan, menggambarkan kondisi tersebut dengan nada getir bercampur humor. “Ngeri-ngeri sedap,” ujarnya.
Menurutnya, licinnya jalan tanah itu bahkan “mengalahkan licinnya aspalan kota”.
Saat musim hujan, kondisi jalan makin tak bersahabat. Lumpur tebal menutup badan jalan, membuat kendaraan mudah tergelincir. Bahkan, ia terpaksa berjalan kaki tanpa alas karena terasa lebih nyaman dibanding mengenakan sandal.
“Dari Kuala Kuayan sampai Tanjung Jariangau, saya pakai sandal saking nyaman-nya (Susahnya. red) jalan,” katanya berseloroh, namun menyiratkan kenyataan pahit.
Kondisi ini membuat Wahidah mengaku enggan melintasi jalur tersebut, meski ditawari imbalan. “Jera saya meski diupah ke Kuala Kuayan, maaf saja dulu, tak sanggup,” tuturnya.
Ia menilai kerusakan jalan poros ini sudah berlangsung lama dan belum mendapat penanganan serius. Meski ada beberapa titik yang telah diaspal, namun jumlahnya sangat terbatas dan tidak menyeluruh.
“Emang ada sedikit aspalan, tapi kada sepenuhnya. Cuma beberapa titik ja,” ujarnya.
Wahidah pun mempertanyakan sikap pemerintah terhadap akses vital masyarakat Mentaya Hulu tersebut. Baginya, kondisi jalan yang hancur dan berlumpur ini sungguh memprihatinkan, apalagi jalur tersebut menjadi urat nadi aktivitas warga.
Harapan besar pun disematkan agar tahun ini jalan benar-benar mendapat perhatian. “Semoga saja tahun ini jalan mulus, beaspal semuanya,” ucapnya.
Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Jalan licin kerap membuat kendaraan terjebak, terutama mobil bermuatan. Situasi itu dinilai berbahaya, terlebih jika membawa penumpang rentan.
“Kalau seperti ini bisa-bisa nangis. Mobil banyak terjebak, kasihan. Nanti mobil membawa orang yang ingin melahirkan bisa berojol di jalan,” keluh Wahidah.
Di balik canda dan ungkapan khas daerah, suara Wahidah merepresentasikan keresahan banyak warga Mentaya Hulu.
Jalan poros bukan sekadar infrastruktur, melainkan penentu keselamatan, ekonomi, dan akses hidup sehari-hari. Kini, warga hanya bisa berharap keluhan mereka tak kembali terperosok di lumpur yang sama. (oes)
Editor : Slamet Harmoko