Radarsampit.jawapos.com - Awal tahun 2026 menyisakan duka mendalam bagi keluarga Angel Julianatan. Rekreasi ke Pemandian Alam Salju yang seharusnya menjadi hiburan di momen liburan justru berujung tragedi. Seorang putri remaja kehilangan nyawanya di awal pergantian tahun.
Malam sunyi menyelimuti Gang Hapakat, Jalan Langsat 4. Puluhan jemaat Gereja Kristen Eka Sinta (GKE) Lingkungan 6 datang turut berduka memberikan doa dan penghiburan bagi keluarga Intermanto, kakek dari korban.
Di sudut rumah, seorang ibu berpakaian merah marun tampak menatap kosong jasad anaknya, Angel Julianatan (12), yang terbujur kaku dengan balutan kain batik.
”Rasanya seperti mimpi. Aku tidak menyangka anakku dipanggil Tuhan begitu cepat,” lirih Merisa, ibu korban, saat ditemui Radar Sampit, Kamis (1/1).
Masih teringat jelas dalam ingatannya, betapa anak sulungnya yang duduk di bangku kelas VI SDN 1 Baamang Barat, begitu antusias menyambut hari pertama sekolah di usai liburan.
”Dia sudah pesan rak buku pakai jasa Cash on Delivery (COD). Uangnya diselipkan di bawah serbet. Aku tidak tahu apakah pesanannya itu sudah datang atau belum,” tutur Merisa sambil menatap jasad putrinya yang mengenakan seragam sekolah.
Menjelang malam pergantian tahun, Angel sempat berucap bahwa suasana tahun baru terasa berbeda.
”Malam tahun baru ini sepi, Mah. Di luar hujan, kedinginan,” ucap Merisa menirukan perkataan putrinya yang kini tinggal kenangan.
Sebelum ibadah perkabungan dimulai, perwakilan keluarga, Turkir, menyampaikan kronologi kejadian. Siang sekitar pukul 12.30 WIB, Angel bermain air bersama saudara sepupunya, Yoga, Destan, Andra, Aksan, dan Kirana di Pemandian Alam Salju di Jalan Jenderal Sudirman KM 6.
Ramainya suasana membuat keluarga tak menyadari Angel tak kunjung muncul saat sesi mandi selesai.
”Saya tidak ikut mandi. Setelah anak-anak semua naik, baru kami sadar Angel tidak ada. Sudah dipanggil lewat pengeras suara tetap tidak ditemukan,” ujar Merisa.
Kolam bekas galian itu memiliki kedalaman sekitar 1,5 meter, namun pada beberapa titik kedalamannya lebih dalam. Sementara Angel, dengan tinggi 153 cm, tidak bisa berenang.
”Dia masuk ke kolam bersama yang lain. Mungkin dia tak sengaja menuju area yang lebih dalam,” kata Merisa.
Angel diperkirakan tenggelam selama dua jam lebih. Barulah sekitar pukul 14.30 WIB, setelah berbagai pihak terlibat dalam pencarian, tubuhnya ditemukan.
Meski mendapat pertolongan pertama dan dibawa ke rumah sakit, nyawa Angel tak terselamatkan. Ia dinyatakan meninggal dunia pukul 16.10 WIB di IGD RSUD dr Murjani Sampit dan kemudian dipulangkan ke rumah duka.
”Malam ini kami mengundang jemaat untuk ibadah perkabungan malam pertama. Rencana jenazah akan dikremasi pada Sabtu atau Minggu,” tambahnya.
Air mata Merisa kembali pecah. Ia masih sulit menerima kenyataan bahwa anak sulungnya pergi terlalu cepat.
”Angel sudah tidak ada. Bagaimana hidupku tanpa dia, rasanya hampa. Tinggal satu saja lagi anakku,” tuturnya di hadapan jemaat.
Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, membenarkan timnya telah melakukan penanganan darurat sesaat setelah laporan diterima.
”Tim Reaksi Cepat sudah berupaya memberikan pertolongan membawa korban ke IGD, namun dinyatakan meninggal pukul 16.10 WIB. Sekitar pukul 17.17 WIB, TRC mengantar korban ke rumah duka,” jelasnya.
Duka yang tak terbayangkan itu mengawali tahun baru bagi keluarga kecil Merisa. Liburan yang semestinya penuh tawa, berubah menjadi kenangan memilukan yang meninggalkan trauma mendalam bagi sang ibu korban. (hgn)
Editor : Agus Jaka Purnama