SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Menjelang pergantian tahun, para pedagang musiman kembang api biasanya mulai menikmati peningkatan omzet. Namun berbeda dengan tahun ini, penjualan justru mengalami penurunan drastis.
Hal ini dirasakan oleh Rizky Alfan, pedagang kembang api musiman di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur.
Menurutnya, penjualan kembang api tahun ini turun hingga 50–70 persen dibanding tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi situasi duka atas sejumlah bencana serta adanya kegiatan Haul Guru Sekumpul, sehingga masyarakat lebih menahan diri untuk membeli kembang api.
“Tahun ini penjualan menurun 50–70 persen. Kita respect kepada korban bencana dan ada acara haul Guru Sekumpul, jadi mungkin orang juga ikut mengurangi penggunaan kembang api,” ujar Rizky, Senin (29/12/2025).
Ia menyebut, pada awal membuka lapak pada 21 Desember, belum ada imbauan resmi dari pemerintah. Namun setelah edaran dari bupati diterbitkan, penjualan semakin merosot.
“Setelah ada edaran bupati, penjualan langsung menurun. Yang laku hanya kembang api kecil untuk anak-anak. Modal saja belum balik, cukup buat makan dan bayar sewa lapak,” ungkapnya.
Meski sepi pembeli, beberapa jenis kembang api berukuran kecil seperti kembang sarai masih diminati anak-anak lingkungan sekitar. Berbeda dengan tahun sebelumnya, ia sering kedatangan pembeli dari kawasan perkebunan.
“Biasanya buka dari jam 10 pagi sampai 10 malam. Sekarang yang beli paling anak-anak sekitar sini saja, tidak seperti dulu banyak dari kebun,” tambahnya.
Untuk harga, Rizky mengatakan tidak ada perubahan signifikan. Ia menjual kembang api mulai dari Rp3.000 hingga Rp180.000, tergantung jenis dan ukuran.
Rizky hanya berjualan kembang api saat musim tahun baru dan pada momen tertentu. Di luar itu, ia bekerja sebagai pengemudi ojek online. Jika barang dagangan tidak habis, akan disimpan kembali untuk tahun depan.
“Kalau tidak habis, disimpan di gudang. Yang penting kering, jangan sampai lembap,” tutupnya. (oes)
Editor : Slamet Harmoko