Di balik lahirnya Kalimantan Tengah, ada nama yang nyaris terhapus dari sejarah, Christian Simbar. Komandan milisi Dayak yang berjuang dengan mandau di satu tangan dan cita-cita otonomi di tangan lain. Sosok pejuang yang dikenang lewat makam sunyi di pedalaman Barito Selatan.
LAPORAN HENY
Perjuangan Christian Simbar dalam pembentukan Provinsi Kalimantan Tengah tak banyak tercatat dalam dokumen resmi. Namun, di tengah riuhnya arus politik nasional tahun 1950-an, ia menjadi motor penggerak dari balik hutan dan sungai pedalaman Kalimantan.
Sejak Provinsi Administratif Kalimantan dibentuk pada 1950, suara-suara dari masyarakat Dayak sudah menginginkan pemekaran menjadi beberapa provinsi.
Aspirasi itu makin menguat pada 1952, saat rakyat dari tiga kabupaten, yakni Barito, Kapuas, dan Kotawaringin, mengajukan berbagai pernyataan, mosi, dan resolusi yang mendesak pemerintah pusat agar segera membentuk Provinsi Otonom Kalimantan Tengah.
Namun, harapan itu pupus sementara, ketika pemerintah pusat pada 1956 menerbitkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1956 yang hanya mengesahkan tiga provinsi baru: Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Kalimantan Tengah dijanjikan akan dibentuk “selambat-lambatnya dalam tiga tahun.”
Keputusan itu mengecewakan masyarakat Dayak. Situasi pun memanas. Ketidakpuasan rakyat melahirkan gerakan militan Gerakan Mandau Talawang Pantja Sila (GMTPS), di bawah komando Christian Simbar.
Dari hutan-hutan Barito dan Kahayan, ia bersama pasukannya bergerak dengan idealisme dan senjata tradisional untuk memperjuangkan hak otonomi daerahnya.
Dari Madara ke Medan Perjuangan
Christian Simbar lahir di Desa Madara, Kecamatan Dusun Selatan, Barito Selatan, pada 5 Juli 1927. Ia anak ketujuh dari delapan bersaudara, dari pasangan Simbar dan Munan Pukau. Ayahnya, seorang petani sekaligus pemilik warung kecil, berasal dari Murutuwu, sementara ibunya dari Dusun Kalahien.
Nama “Christian” baru ia sandang setelah dibaptis oleh pendeta Gereja Dayak Evangelis, Ethelbert Saloh. Di masa kecil, Simbar mendapat julukan ”Mandolin”, diambil dari merek kaleng biskuit yang dijual di warung ayahnya.
Simbar menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Buntok dan lulus pada 1943. Ia kemudian melanjutkan ke MULO Kuala Kapuas (Normaalschool Muara Teweh) dan tamat pada 1946, lalu ke AMS Banjarmasin hingga lulus 1949. Setelahnya, ia bekerja sebagai Kepala Juru Tulis di Kantor Kawedanaan Buntok.
Sejak kecil, Simbar hidup dengan satu mata. Mata kirinya buta akibat kecelakaan di hutan saat mencari akar kayu bersama saudaranya. Meski demikian, hal itu tak pernah melemahkan semangatnya untuk memimpin perjuangan rakyat Dayak.
Mandau, Sungai, dan Cita-Cita
”Christian Simbar bersama lebih dari 25 tentara lawung telah berjuang selama bertahun-tahun. Mulai 1953 hingga 1957, mendesak pemerintah pusat agar membentuk provinsi keempat, yaitu Kalimantan Tengah,” ujar Ricko Kritolelu, Panglima Tentara Lawung Adat Mandau Telawang yang juga cucu Simbar, saat diwawancarai Radar Sampit, Jumat (7/11).
Selama bertahun-tahun, Simbar bergerilya menyusuri daerah aliran sungai Barito, Kahayan, hingga Mentaya. Ia menggalang dukungan masyarakat adat dari pedalaman, membangun kesadaran bersama bahwa Kalimantan Tengah harus berdiri sendiri sebagai provinsi otonom.
Puncak perjuangan itu terjadi pada Kongres Rakyat Tengah di Banjarmasin, 2–5 Desember 1956. Dipimpin Mahir Mahar, kongres dihadiri sekitar 600 utusan dari berbagai wilayah dan melahirkan resolusi yang mendesak pemerintah agar segera membentuk Provinsi Otonom Kalimantan Tengah.
Perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Pada 10 Desember 1956, Ketua Koordinasi Keamanan Daerah Kalimantan RTA Milono mengumumkan rencana pembentukan Provinsi Kalimantan Tengah. Pemerintah kemudian resmi menetapkan 1 Januari 1957 sebagai tanggal berdirinya provinsi tersebut.
Kalimantan Tengah diakui secara hukum melalui Undang-Undang Darurat Nomor 10 Tahun 1957, dan pada 23 Mei 1957, tanggal itu ditetapkan sebagai Hari Jadi Provinsi Kalimantan Tengah.
RTA Milono ditunjuk sebagai gubernur pertama, sebelum tongkat estafet kepemimpinan diserahkan kepada Tjilik Riwut pada 30 Juni 1958. Di bawah pemerintahannya, Kalimantan Tengah berkembang pesat.
Presiden Soekarno bahkan memancang tiang pertama pembangunan ibu kota baru, Palangka Raya, yang berarti “tempat suci yang mulia dan besar”, pada 17 Juli 1957.
Wilayah Kalteng yang awalnya hanya mencakup tiga kabupaten kini telah berkembang menjadi 13 kabupaten dan satu kota. Namun, dalam buku sejarah resmi, nama Christian Simbar tetap samar, nyaris tak disebut.
Dilupakan Sejarah, Hidup dalam Bayang
Meski jasanya diakui masyarakat Dayak, Simbar tak mendapatkan penghargaan layak. Ia hanya menerima sedikit uang sebagai tanda terima kasih. Gagal dalam bisnis yang ia rintis setelah perjuangan, Simbar hidup dalam keterasingan dan kebangkrutan.
Pada 1961, ia kembali ke hutan. Beberapa kabar menyebut ia dipenjara di Balikpapan, bahkan dieksekusi oleh militer. Namun, bertahun-tahun kemudian, kabar itu terbantahkan. Ia ternyata hidup dengan nama samaran Suryatim alias Pak Kasim di Nusa Tenggara Timur.
Simbar mengembuskan napas terakhirnya di Kupang pada 29 Desember 1992 akibat gastritis kronis. Jenazahnya kemudian dipindahkan ke Desa Madara, kampung halamannya, sekitar tahun 2010–2012.
Keluarga Simbar kecewa besar karena pemerintah seakan melupakan pejuang yang justru meletakkan dasar berdirinya Kalteng.
Usulan Penghormatan yang Tertunda
Kini, keluarga dan keturunan Christian Simbar berupaya mengembalikan nama sang pejuang ke panggung sejarah. Hino Nugraha, Sekretaris Jenderal Tentara Lawung Adat Mandau Telawang sekaligus cucu Simbar, berharap Jalan Poros Palangka Raya–Buntok dinamai Jalan Christian Simbar sebagai bentuk penghormatan.
”Terbentuknya Kalimantan Tengah bukan hadiah dari pemerintah pusat, tapi hasil perjuangan Christian Simbar bersama masyarakat adat Dayak dari akar rumput,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari Purdiono, anggota Komisi I DPRD Kalimantan Tengah. Legislator dari Fraksi Golkar itu menyatakan siap memperjuangkan aspirasi masyarakat.
”Saya sudah menyerap aspirasi para tokoh adat di Barito Selatan dan Barito Timur. Keinginan mereka agar Jalan Palangka Raya-Buntok dinamai Jalan Christian Simbar akan kami perjuangkan. Namun, tentu prosesnya harus melalui Gubernur Kalteng karena ini jalan nasional,” kata Purdiono, Sabtu (9/11).
Di tengah hiruk pikuk pembangunan Kalteng yang kini terus berlari, nama Christian Simbar tetap bergema di hati masyarakat adat. Dari hutan-hutan Barito hingga tepian Kahayan, kisahnya hidup sebagai simbol bahwa perjuangan sejati tak selalu tercatat di buku sejarah, tapi di hati mereka yang tak pernah melupakan. (hgn/ign)
Editor : Gunawan.