PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Sudah beberapa hari terakhir antrean kendaraan di sejumlah SPBU di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), tampak seperti ular tak berujung.
Pengendara roda dua hingga roda empat rela berjam-jam mengantre hanya untuk mendapatkan BBM, baik Pertalite maupun Pertamax.
Pantauan Radar Sampit, antrean mengular di empat SPBU dalam kota. SPBU di Jalan Iskandar bahkan kerap tutup tanpa kejelasan.
Warga hanya bisa menebak-nebak: stok habis, atau ada persoalan lain di balik pintu tangki yang kosong.
Spekulasi pun merebak. Ada yang menuding ulah pelangsir, ada pula yang menilai pasokan BBM memang tak sanggup mengejar lonjakan jumlah kendaraan.
Di SPBU Jalan Diponegoro, antrean mobil sampai ke area makam Skip, sementara motor saling berebut ruang di antara panas dan debu.
Pemandangan serupa juga terlihat di Bundaran Tudung Saji dan SPBU Paku Negara. Dua titik yang kini menjadi simbol kelangkaan BBM di Kobar.
Kelangkaan bahkan merembet hingga pelosok. Di SPBU Desa Kubu, Kecamatan Kumai, antrean kendaraan memanjang hingga 1,5 kilometer, memakan separuh badan jalan.
”Ada apa ini BBM susah didapat? Padahal saya mau beli Pertamax, bukan Pertalite. Kalau Pertalite mungkin karena subsidi, tapi Pertamax pun sekarang langka,” keluh Hatimah, warga yang ikut antre sejak pagi.
Situasi ini memicu keresahan. Masyarakat berharap pemerintah daerah dan Pertamina segera turun tangan menormalkan distribusi sebelum antrean berubah jadi kekacauan.
Pemerintah Kabupaten Kobar melalui Asisten II Setda Kobar Hasan Basri mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Pertamina.
”Memang sempat ada kendala distribusi. Tapi kini suplai BBM sudah tiba di Pertamina Kumai dan diharapkan berangsur normal,” ujarnya.
Sementara itu, Sales Branch Manager Kalimantan Tengah PT Pertamina Patra Niaga, Joseph Farel menyebut, cuaca buruk di perairan sebagai penyebab utama.
”Pengiriman dari Kotabaru, Banjarmasin, seharusnya tiba 4 Oktober, tapi tertunda karena kondisi laut,” jelasnya.
Farel menambahkan, tingginya konsumsi saat perayaan HUT Kabupaten Kobar dan konser penyanyi nasional Judika di Kobar Expo turut memperparah keadaan.
”Biasanya konsumsi 150 kiloliter per hari, sekarang melonjak jadi 200 KL,” ujarnya.
Sebagai langkah darurat, Pertamina mengalihkan suplai dari Integrated Terminal Sampit sejak 1 Oktober.
Kapal berisi 1.500 KL Pertamax sudah tiba di Fuel Terminal Pangkalan Bun pada 7 Oktober, dan kapal kedua dengan 2.000 KL Pertalite dijadwalkan datang keesokan harinya.
”Kami juga menambah jam operasional terminal agar distribusi ke SPBU bisa maksimal. Masyarakat tak perlu panik, pasokan BBM segera normal,” tutup kata. (tyo/ign)
Editor : Gunawan.