Ritual Balam Salamat Jadi Puncak Kesakralan di Desa Telaga Baru
SAMPIT,radarsampit.jawapos.com- Festival Telaga Bahalap mengubah Desa Telaga Baru di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang menjadi panggung kebersamaan. Selama tiga hari, warga merayakan warisan leluhur sambil menanam asa menuju desa wisata.
Desa dipinggiran Kota Sampit ini menjadi pusat perhatian ribuan pengunjung dengan Festival Telaga Bahalap yang digelar 25-27 September 2025. Sebuah bukti pelestarian budaya yang memadukan tradisi, seni, hingga perlombaan tradisional.
Kepala Desa Telaga Baru, Nur Firmansyah selaku inisiator kegiatan ini, ingin membuktikan kepada warga dan pemerintah daerah, bahwa Desa Telaga Baru, layak menjadi Desa Wisata. "Melalui Festival Telaga Bahalap, kami ingin membuktikan kepada warga dan instansi terkait bahwa desa ini layak menjadi desa wisata," ujarnya.
Sebagai bukti keseriusan, pihaknya sudah merencanakan usaha kearifan lokal yang dikelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang dinamakan Camp Talab. Lokasinya berada dipinggir Sungai Mentaya, yang dilengkapi kolam pemancingan, api unggun dan 10 pondok kayu penginapan.
"Kami targetkan Oktober ini Camp Talab bisa segera beroperasi dan bisa menjadi sumber perekonomian melalui usaha kearifan budaya lokal dengan menciptakan destinasi wisata," ujar pria yang dipercaya masyarakatgnya menjadi Kades Telaga Baru, sejak 23 November 2023.
Selain itu, Desa Telaga Baru juga merencanakan program eksplorasi desa yang ditujukan kepada wisatawan. Ada beberapa titik lokasi yang bisa dikunjungi. Wisatawan akan dikenalkan dengan tradisi yang dinamakan "Kasai Bahalap" (mengenakan pupur basah), mengunjungi pelaku usaha telur asin yang dinamakan "Menawur Uyah" dan mengunjungi "Alakoh Petah" yang diambil dari bahasa Madura yang artinya pembuatan bata merah.
"Kami juga akan ajak wisatawan melihat produksi ecoprint Talab yang juga dikelola Pokdarwis. Pengrajinnya sudah mengikuti pelatihan Agustus lalu dan sudah ada yang memesan," ungkap Nur Firmansyah.
Tidak hanya itu, wisatawan akan diajak mengikuti tradisi "Membuang Hampas" yaitu proses pemanenan padi hingga menjadi nasi.
"Kami memiliki persawahan seluas 20 Hektare yang lokasinya di depan SMK 3 Sampit di Jalan Ir Juanda. Wisatawan yang datang bisa kami ajak ke lokasi persawahan yang sudah kami siapkan pondok, MCK dan tempat memasak," beber Firmansyah.
Dirinya juga menyadari, project wisata desa ini bisa lekas terwujud jika didukung anggaran. Namun, untuk saat ini ia ingin membuktikan terlebih dahulu kepada masyarakat desa, bahwa apabila rencana pengembangan menuju desa wisata terwujud, ia berani menggunakan anggaran dana desa.
"Saat ini saya ingin membuktikan dulu segala usaha yang kami lakukan bersama Pokdarwis. Jika progressnya mengalami kemajuan dan kami bisa meyakinkan masyarakat, kami baru berani menggunakan anggaran dana desa untuk mewujudkan desa wisata," terang Firmansyah.
Salah satu bukti nyata itu dilakukan dengan mennggelar Festival Telaga Bahalap. Acara ini bukan sekadar hiburan, melainkan membawa misi besar melestarikan budaya dan mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis kearifan local. Serta menjadikan Desa Telaga Baru sebagai desa wisata.
"Festival Telaga Bahalap terlaksana berkat dukungan dana dari Balai Pelestarian Budaya Kalselteng Wilayah XIII serta dukungan dari para sponsor," ungkap Firmansyah.
Dengan dukungan yang ada, pihaknya gotong royong merubah hutan belantara menjadi Panggung Rakyat Telaga Baru yang berlokasi di Jalan Ir Juanda, tepatnya di depan SMPN 4 Sampit.
"Area yang tadinya hutan belantara, kami bangun panggung, gazebo. Kami juga sediakan 10 stand yang diikuti 20 pelaku UMKM. Walaupun setelah diperhitungkan, kegiatan ini menghabiskan anggaran dua kali lipat dari dukungan yang tersedia. Namun, kami tetap berupaya maksimal mensukseskan kegiatan," paparnya.
Ragam Lomba Bernuansa Kearifan Lokal
Festival Telaga Bahalap semakin meriah dengan beragam lomba tradisional. Ada Lomba Tari Dayak Pedalaman dan Tari Dayak Pesisir. Permainan rakyat seperti Bagasing dan Balogo meramaikan.
Keterampilan tangan perempuan desa diuji lewat lomba menganyam lanjung. Sementara kebanggaan terhadap bahasa daerah diwujudkan dalam lomba Bamamai Bahasa Dayak Sampit.
Di bidang seni suara, warga disuguhi lomba vokal solo dan vokal duet lagu daerah. Langit desa pun dibuat semakin berwarna dengan lomba Layangan Hias. Disusul kreativitas anak-anak hingga remaja dalam fashion show bertema batik Kalteng.Ada juga lomba mewarnai untuk kategori TK A, TK B, dan KB.
"Ada 12 cabang lomba yang kami selenggarakan, kurang lebih ada 300an peserta yang ikut serta disaksikan para pengunjung," ungkap Nur Firmansyah.
Tradisi Sakral Balam Salamat
Festival ini semakin sarat makna dengan adanya Ritual Balam Salamat, Kamis (25/9) malam. Sebagai wujud syukur atas keberkahan Sang Pencipta, sekaligus doa bersama agar dijauhkan dari segala marabahaya.
penduduk desa yang berjumlah 4.692 menyalakan obor berjalan dari setiap penjuru kampung sejauh 1 kilometer menuju pusat desa.
Ritual Balam Salamat juga menjadi simbol solidaritas sosial, semangat memperbaiki diri, serta tekad kolektif untuk memajukan desa menuju kehidupan yang lebih harmonis dan sejahtera.
Di kanan dan kiri barisan, para remaja membawa obor sebagai simbol penerang, sementara lantunan adzan menggema penuh khidmat, mengiringi langkah hingga tiba di pusat desa.
Setibanya di pusat desa, masyarakat disambut dengan hidangan santapan, sebagai lambang kebersamaan, kerendahan hati, dan penghormatan kepada Sang Pencipta atas rahmat yang telah dicurahkan kepada seluruh warga Telaga Baru.
Teater Air Mata Senja Membawa Pesan Lingkungan
Salah satu penampilan yang mencuri perhatian adalah pertunjukan teater berjudul “Air Mata Senja.” Pementasan ini mengisahkan kerusakan sungai akibat ulah oknum tak bertanggung jawab.
Lewat gerak, dialog, dan ekspresi, teater tersebut menggugah kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga alam, terutama sungai sebagai sumber kehidupan.
Festival ditutup dengan semarak penampilan John Tralala Group dari Kalimantan Selatan. Musik dan lawakan khas mereka sukses memecah tawa sekaligus menghadirkan suasana akrab di Tengah ribuan penonton. (hgn/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama