SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Daya beli yang kian meredup, pengunjung yang datang tak selalu ramai, menjadi tantangan bagi pengurus Pasar Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) di Kota Sampit.
Pasar yang berdiri sejak tahun 2004, dulunya ramai dan menjadi pasar kebanggaan Kotawaringin Timur (Kotim), pasar yang berada di tepian Sungai Mentaya, kini dihadapkan pada perubahan zaman.
Tidak hanya banyaknya pasar yang bermunculan baik secara offline maupun online, pasar ini juga minim perhatian dari pemerintah daerah.
Pengurus Pasar PPM Sampit Tajudin Noor mengungkapkan, pada 7 Desember 2024 lalu, ia bersama pengurus Pasar PPM pernah menghadiri rapat yang dipimpin langsung oleh Rimbun Ketua DPRD Kotim bersama anggota DPRD Kotim Komisi 2 dan Komisi 4.
Dari pertemuan itu menghasilkan 7 kesepakatan, salah satunya pengelolaan Water Closed (WC) agar diserahkan pengelolaannya kepada pengurus Pasar PPM.
”Kami saat itu bahagia mendengarnya. Walaupun WC tapi hasilnya lumayan. Sehari dua WC bisa menghasilkan Rp150-250 sehari. Dan, upah penjaganya Rp80 ribu. Namun, sampai hari ini, kami belum mendapat keputusan dari hasil rapat yang sudah ditandatangani Ketua DPRD Kotim. Kami ingin menanyakan bagaimana tindak lanjutnya pengelolaan penyerahan WC," kata Tajudin Noor, Rabu (3/9).
Permintaan ini bukan semata mencari penghasilan, namun PPM yang ada saat ini sudah semakin sepi pengunjung. Banyak toko di lantai 1 dan 2 tutup dan tak sanggup membayar iuran bulanan.
”Tahun 2024 lalu, Pak Bupati Kotim Halikinnor pernah hadir menyerahkan sertifikat hak pakai. Bupati pernah berjanji karena PPM sepi. Tolong jangan ditagih iuran bulanan. Supaya tidak membebani pedagang. Yang terjadi sampai hari ini, pedagang tetap ditagih," ujarnya.
Uneg-uneg ini ia sampaikan dihadapan Wakil Bupati Kotim Irawati dan berharap agar hal itu ditindaklanjuti.
”Mungkin kami yang salah tidak menindaklanjuti secara tertulis. Kami tetap meminta agar bupati tidak menagih agar kami tetap bisa bertahan berjualan di PPM," ujarnya.
Tajudin juga salah menyangka, ia mengira setelah diserahkan sertifikat hak pakai, semua urusan selesai, namun ternyata masih ada yang belum selesai.
”Kami sudah bayar Rp1 juta untuk mengurus sertifikat hak pakai, kalikan saja 600 kios yang ada di PPM. Sudah hampir setahun ternyata masih ada yang belum selesai," ujarnya.
Pengurus PPM juga sudah berupaya agar PPM bisa kembali ramai pengunjung. Pengurus juga sudah mengajukkan proposal tiga kali ke Pemkab Kotim namun hingga saat ini belum dikabulkan.
”Di atas itu rencana ingin buat taman langit lengkap dengan kafe kuliner, tapi tiga kali proposal kami ajukan belum juga dikabulkan. Jadi, apalah daya kami, bagaimana kami bisa membangkitkan semangat berusaha jika pemerintah daerahnya saja kurang memperhatikan," ujarnya.
Tajudin juga memohon maaf apabila uneg-unegnya tak nyaman.
”Maaf saya curhat seperti ini karena inilah yang kami hadapi. Saya sampaikan apa adanya. Kami pedagang manut saja, tak ingin demo, kami juga orang yang paham kehidupan. Kami hanya berharap janji pemerintah agar segera ditindaklanjuti," ujarnya.
Wakil Bupati Kotim Irawati menanggapi bahwa usulan dari pengurus Pasar PPM sudah ditindaklanjuti.
Namun, memasuki periode kedua masa kepemimpinan Harati, Pemkab Kotim dihadapkan pada efisiensi anggaran.
”Taman langit itu hampir dilaksanakan, sudah diukur dan saya lihat sendiri ke atas. Tapi, manusia hanya bisa berencana, Allah lah penentu segalanya. Pemerintah daerah dihadapkan pada efisiensi anggaran. Yang mana anggaran difokuskan untuk bidang pendidikan dan kesehatan, sehingga ada beberapa kegiatan yang sudah terencana tertunda. Kami mohon maaf sebesar-sebesarnya," kata Irawati.
Di tahun 2025 ini, Pemkab Kotim juga masih dihadapkan pada efisiensi anggaran.
”Walaupun kebijakan efisiensi anggaran ini menghambat dan menunda beberapa kegiatan. Kami masih kami tetap berusaha agar Kotim bisa bangkit dan masyarakat kedepannya bisa hidup lebih sejahtera," ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Irawati mengajak agar tetap menjaga solidaritas dan semangat kebersamaan dan jangan mudah terprovokasi.
”Saya juga ingin mengajak masyarakat untuk menjaga persatuan dan kekompakan. Jangan mudah terprovokasi. Kita juga ingin daerah Kotim selalu kondusif, perputaran perekonomian tetap berjalan baik dan pedagang bisa tetap berusaha mencari sumber penghasilan," katanya. (hgn/ign)
Editor : Gunawan.