Radar Utama Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno Kalteng

Urai Kemacetan di Jembatan Sei Lenggana, PT MAP Buka Akses Alternatif untuk Kendaraan Kecil

Heru Prayitno • Rabu, 6 Agustus 2025 | 12:37 WIB

  

Antrean kendaraan yang akan melewati Jalan Jenderal Sudirman Kilometer 21 Jembatan Sei Lenggana, Senin (28 /7 /2025). Hal ini menjadi salah satu keluhan pengguna jalan. (Rahmad/Radar Sampit)
Antrean kendaraan yang akan melewati Jalan Jenderal Sudirman Kilometer 21 Jembatan Sei Lenggana, Senin (28 /7 /2025). Hal ini menjadi salah satu keluhan pengguna jalan. (Rahmad/Radar Sampit)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Perbaikan Jembatan Sei Lenggana di Jalan Jenderal Sudirman Kilometer 21, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, yang dimulai sejak Senin (28/7/2025), mengakibatkan kemacetan panjang akibat sistem buka tutup di jalan darurat.

Puncaknya terjadi pada Selasa malam (5/8) hingga Rabu pagi (6/8), saat arus lalu lintas ditutup total untuk seluruh kendaraan. Antrean kendaraan pun sangat panjang.

Menanggapi kondisi tersebut, salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit, PT Mulia Agro Permai (PT MAP), membuka akses jalan alternatif bagi kendaraan kecil.

“Kami membuka akses jalan kebun untuk kendaraan seperti mobil travel, ambulans, mobil pribadi, mobil dinas, dan sepeda motor. Ini sebagai bentuk empati kami terhadap masyarakat yang terdampak kemacetan,” ujar Senior Manager Humas PT MAP, Tri Cahyo Juni Kurniawan, Rabu (6/8).  

Senior Manager Humas PT Mulia Agro Permai Tri Cahyo Juni Kurniawan
Senior Manager Humas PT Mulia Agro Permai Tri Cahyo Juni Kurniawan

Jalur alternatif tersebut dapat diakses dari arah Sampit melalui Jalan Jenderal Sudirman Kilometer 18, dan akan tembus kembali di Kilometer 29.

Namun demikian, Tri Cahyo juga mengungkapkan bahwa dibukanya akses tersebut memiliki risiko, terutama terkait potensi pencurian buah sawit milik perusahaan.

“Kami berharap ada perhatian dan dukungan dari pemerintah daerah, karena dibukanya jalur ini bukan tanpa risiko. Pencurian sawit bisa meningkat,” tegasnya.

Tri Cahyo juga menyoroti maraknya keberadaan peron atau tempat pengumpulan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang diduga menjadi penadah hasil curian. Ia menyebut praktik ini diperparah dengan keberadaan pabrik kelapa sawit yang tidak memiliki kebun sendiri. 

“Kondisi ini membuat pencurian sawit semakin subur. Kami harap ada tindakan tegas terhadap pabrik-pabrik sawit tanpa kebun dan peron-peron ilegal yang diduga menampung sawit curian,” pungkasnya.

Menurut Tri Cahyo, aksi pencurian ini bukanlah kejadian baru, melainkan telah berlangsung berulang kali dalam beberapa bulan terakhir. Ini mengakibatkan kerugian besar bagi perusahaan. 

Dia menduga para pencuri ini berada di bawah pengaruh narkoba, karena sering kali melawan petugas keamanan saat kepergok mencuri. 

Baca Juga: Kotawaringin Timur Belum Miliki Rumah Potong Unggas, Ini Akibatnya

“Ini sudah sangat meresahkan. Kami kehilangan hasil panen akibat aksi pencurian ini,” ujar Tri Cahyo. 

Pihak perusahaan menyatakan telah melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian dan meningkatkan pengamanan di area perkebunan, termasuk menambah jumlah personel keamanan dan melakukan patroli rutin.

“Namun kami tetap membutuhkan dukungan dari aparat dan masyarakat sekitar agar pelaku bisa segera ditindak. Kami juga menduga adanya jaringan yang sudah terorganisir, karena pencurian dilakukan secara sistematis,” tambahnya. (yit)

 

Editor : Heru Prayitno
#Jembatan Lenggana #jalan alternatif #PT MAP