Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Empat Bulan Bakal ’Disiksa’ Antrean Panjang, Ada Peringatan Keras Dishub Kotim

Rado. • Kamis, 31 Juli 2025 | 12:35 WIB
Antrean kendaraan yang akan melewati Jalan Jenderal Sudirman Kilometer 21 Jembatan Sei Lenggana, Senin (28 /7 /2025). Hal ini menjadi salah satu keluhan pengguna jalan. (Rahmad/Radar Sampit)
Antrean kendaraan yang akan melewati Jalan Jenderal Sudirman Kilometer 21 Jembatan Sei Lenggana, Senin (28 /7 /2025). Hal ini menjadi salah satu keluhan pengguna jalan. (Rahmad/Radar Sampit)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Antrean panjang tak terhindarkan di jalur alternatif yang disediakan selama penutupan Jembatan Lenggana.

Arus lalu lintas ruas Sampit-Pangkalan Bun itu sangat tinggi. Kondisi itu berdampak pada banyak pihak, terutama warga yang melintas.

Dinas Perhubungan Kotim mengingatkan pengemudi angkutan berat agar tidak melebihi kapasitas jalan dan jembatan alternatif selama perbaikan Jembatan Sei Lenggana.

Kendaraan dengan ketinggian muatan lebih dari 5 meter diminta putar balik atau melangsir muatan demi keselamatan bersama.

”Kami meminta putar balik atau mengurangi muatannya, agar tetap aman saat melewati jalan alternatif,” kata Plt Kepala Dishub Kotim, Raihansyah.

Saat sistem buka tutup jalan alternatif dimulai awal pekan ini, lanjutnya, sempat terjadi insiden muatan truk terjatuh akibat muatan sawit terlalu tinggi, lebih dari lima meter.

Truk tersebut kehilangan keseimbangan saat memasuki jalan pengganti.

Kapasitas jalan dan jembatan alternatif maksimalnya delapan ton. Sejumlah kendaraan, terutama truk sawit dan pengangkut material bangunan, melintas dengan beban melebihi kapasitas.

Kepala Seksi Lalu Lintas Dishub Kotim Agus Sunoto menjelaskan, kondisi jalur alternatif yang berada di wilayah rawa atau gambut membuatnya rentan rusak dan ambles jika dilintasi kendaraan dengan beban berat, seperti truk pengangkut CPO bermuatan 16-20 ton.

”Tanah di jalur itu labil. Jika terus dilalui kendaraan berat, maka akan cepat rusak dan menimbulkan gelombang. Itu juga bisa memicu kemacetan,” katanya.

Untuk menghindari risiko tersebut, dia meminta sopir mematuhi batas tonase maksimal 8 ton dan tinggi muatan maksimal 5 meter.

Jika tidak memungkinkan, muatan harus dikurangi atau dilangsir sebelum melintasi jalur alternatif.

”Kami bersama Satlantas Polres Kotim terus menyosialisasikan itu. Kami siaga setiap hari selama perbaikan Jembatan Sei Lenggana berlangsung. Diperkirakan waktu perbaikan mencapai empat bulan,” kata Agus.

Dia juga mengimbau semua pihak, terutama pelaku usaha angkutan, turut mendukung upaya ini demi kelancaran lalu lintas dan keselamatan pengguna jalan.

”Kami berharap kesadaran dari semua pihak agar jalur alternatif tetap aman dilalui sampai proyek selesai,” katanya. (ang/ign)

Editor : Gunawan.
#angkutan berat #Dishub Kotim #Jembatan Lenggana