Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

29 Juli, Hari Harimau Internasional: Misteri Absennya Harimau di Hutan Kalimantan

Usay Nor Rahmad • Selasa, 29 Juli 2025 | 08:16 WIB
Macan dahan Kalimantan (Neofelis diardi borneensis) (Sumber: Yayasan IAR Indonesia)
Macan dahan Kalimantan (Neofelis diardi borneensis) (Sumber: Yayasan IAR Indonesia)

Radarsampit.jawapos.com - Setiap 29 Juli, dunia memeringati Hari Harimau Internasional untuk menggalang kesadaran akan nasib kucing besar yang kian terancam.

Di Indonesia, harimau Sumatra menjadi simbol perjuangan konservasi. Namun ada fenomena unik yang memicu tanya: Mengapa Kalimantan pulau berhutan hujan terbesar ketiga dunia tak memiliki satupun populasi harimau liar?

Pemisahan Zaman Es yang Menentukan

Jawabannya terletak pada sejarah geologis Nusantara. Sekitar 20.000 tahun silam, ketika permukaan laut jauh lebih rendah, Sumatra, Jawa, dan Bali menyatu dengan daratan Asia dalam paparan Sundaland. Kondisi ini memungkinkan harimau bermigrasi dari Asia daratan.

"Kalimantan meski secara fisik dekat, terpisah oleh Selat Karimata yang tetap menjadi penghalang perairan dalam selama zaman es," jelas Dr. Anya Rahmawati, pakar biogeografi LIPI. "Tak ada jembatan darat yang memungkinkan harimau menyeberang."

Ekosistem yang Tak Ramah dan Persaingan Ketat

Kalimantan mengembangkan ekosistem unik yang kurang cocok bagi harimau. Dominasi hutan rawa gambut dengan vegetasi rapat menyulitkan harimau—predator yang mengandalkan kecepatan dan ruang terbuka.

Selain itu, pulau ini telah memiliki penguasa rantai makanan lain yang mengisi relung ekologis serupa.

Macan dahan Kalimantan (Neofelis diardi borneensis) dengan kemampuan memanjat luar biasa menjadi predator puncak utama.

Didukung beruang madu dan kucing hutan, mereka menciptakan kompetisi alami yang tak memberi ruang bagi kolonisasi harimau.

Mitos 'Harimau Kalimantan' yang Menyesatkan

Beredarnya cerita rakyat tentang harimau Kalimantan ternyata berasal dari kesalahan identifikasi.

"Warga kerap mengira macan dahan sebagai harimau karena corak bulunya," ungkap Budiono, peneliti Yayasan Borneo Nature.

Tak ada satu pun bukti ilmiah fosil, catatan sejarah, maupun DNA yang mengonfirmasi keberadaan harimau di Kalimantan.

Mitos ini justru berbahaya karena mengaburkan urgensi perlindungan macan dahan yang kini statusnya rentan punah.

Pelajaran Pahit dari Kepunahan Harimau Jawa-Bali

Ketidakhadiran harimau di Kalimantan justru menjadi cermin betapa rapuhnya populasi harimau Sumatra.

Spesies endemik terakhir Indonesia ini menyusul nasib harimau Jawa (punah 1980-an) dan harimau Bali (1937) dengan sisa populasi kurang dari 600 ekor.

Ancaman utamanya bukan hanya perburuan liar, melainkan fragmentasi hutan oleh perkebunan sawit dan HPH.

"Setiap tahun, 2,7% habitat harimau Sumatra menyusut," tandas Direktur Konservasi KLHK, mengingatkan bahwa tanpa intervensi, tragedi kepunahan akan terulang.

Aksi Nyata untuk Penjaga Hutan Sumatra

Memeringati Hari Harimau Internasional, WWF Indonesia meluncurkan inisiatif "Adopsi Jejak Harimau" yang memungkinkan publik berkontribusi pada patroli anti-perburuan.

Masyarakat juga diajak melaporkan perdagangan ilegal satwa dilindungi melalui aplikasi E-Pelaporan KLHK.

"Selamatkan harimau Sumatra bukan untuk kita, tapi untuk keseimbangan alam yang dirampas anak cucu kita," pesan Dian Sastrowardoyo, Duta Konservasi Nasional, dalam kampanye terbarunya. (*)

Editor : Slamet Harmoko
#hutan kalimantan #Hari Harimau Internasional #harimau