Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Inilah Penyebab Perang Thailand vs Kamboja yang Kembali Memanas

Slamet Harmoko • Jumat, 25 Juli 2025 | 18:47 WIB
Kendaraan lapis baja militer Thailand dikerahkan ke perbatasan Kamboja, pada Kamis (24/7). (BBC)
Kendaraan lapis baja militer Thailand dikerahkan ke perbatasan Kamboja, pada Kamis (24/7). (BBC)

RADAR SAMPIT - Ketegangan di perbatasan Thailand dan Kamboja kembali memanas setelah bentrokan bersenjata pecah pada Kamis (24/7/2025), menewaskan sedikitnya 12 orang.

Insiden ini menandai eskalasi terbaru dari konflik yang telah berlangsung lebih dari seratus tahun, dipicu oleh sengketa kepemilikan atas Kuil Preah Vihear, sebuah situs bersejarah yang diklaim oleh kedua negara.

Sebagai respons, Thailand langsung menutup akses perbatasan, sementara Kamboja memilih memutuskan hubungan diplomatik dan menuduh Thailand bertindak secara berlebihan dalam penggunaan kekuatan militer.

Warga yang tinggal di sekitar wilayah sengketa pun diminta mengungsi demi keselamatan mereka.

Akar konflik ini bermula dari penetapan batas wilayah oleh kolonial Prancis pada awal abad ke-20, saat Kamboja masih berada di bawah kekuasaan mereka.

Ketegangan kembali mencuat pada tahun 2008, saat Kamboja mengajukan Kuil Preah Vihear sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO—sebuah langkah yang ditentang keras oleh Thailand. Sejak saat itu, bentrokan kecil hingga serius terus terjadi, memakan korban jiwa dari kalangan militer dan warga sipil.

Bentrok terbaru dipicu oleh kematian seorang tentara Kamboja pada Mei lalu, yang memicu aksi balasan dan memperburuk hubungan kedua negara.

Dalam dua bulan terakhir, Thailand dan Kamboja memperketat keamanan di perbatasan. Mereka juga menghentikan sejumlah kerja sama seperti impor listrik, layanan internet lintas batas, serta ekspor produk pertanian.

Jumlah pasukan militer yang dikerahkan di wilayah sengketa pun meningkat secara signifikan.

Sejarah Ketegangan Thailand-Kamboja

Ini bukan pertama kalinya ketegangan memuncak antara Thailand dan Kamboja. Konflik biasanya dipicu oleh sengketa perbatasan atau persoalan politik, seperti:

1958 dan 1961: Kamboja memutuskan hubungan diplomatik dengan Thailand terkait sengketa Kuil Preah Vihear.

2003: Kerusuhan dan serangan terhadap Kedutaan Besar Thailand di Phnom Penh memicu Thailand menggelar Operasi Pochentong untuk mengevakuasi warga dan diplomatnya. Sebagai balasan, Thailand mengusir diplomat Kamboja.

2008 dan 2011: Bentrokan militer terjadi di sekitar Kuil Preah Vihear.

2009: Thailand menurunkan status hubungan diplomatik setelah Kamboja memberi dukungan kepada mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra, yang saat itu sedang dalam pengasingan.

 

Sejarah mencatat bahwa konflik ini telah memicu pemutusan hubungan diplomatik sejak 1958, kerusuhan besar pada 2003, dan bentrokan militer pada 2008 dan 2011—semuanya terkait sengketa perbatasan dan sentimen nasionalisme yang terus membara.

Perdana Menteri sementara Thailand, Phumtham Wechayachai, menyerukan penyelesaian damai berdasarkan hukum internasional.

Namun, Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, menegaskan bahwa negaranya harus "menanggapi agresi bersenjata dengan kekuatan bersenjata".

Para pengamat menyebut ketegangan ini bisa terus berlarut karena kurangnya pemimpin kuat yang mampu meredakan konflik.

Hun Manet masih berupaya membangun pengaruh, sementara pemerintahan koalisi di Thailand pun dinilai belum stabil.

Dengan latar belakang sejarah dan konflik politik yang kompleks, sengketa Thailand-Kamboja kembali menjadi sorotan dan menimbulkan kekhawatiran akan krisis regional di Asia Tenggara.(rak/rs/jpg)

Editor : Slamet Harmoko
#perang #Thailand vs Kamboja #perang thailand vs kamboja