SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Pergerakan harga komoditas pangan di pasar tradisional Kota Sampit sebagian masih memberatkan meski Lebaran telah berlalu dua pekan. Instansi terkait tak bisa berbuat banyak.
Cabai rawit termasuk salah satu komoditas pangan kebutuhan bahan pokok yang terus berfluktuatif. Sebelum Lebaran hingga setelahnya, belum kunjung stabil. Kabarnya, kenaikan harga disebabkan petani yang gagal panen.
Pantauan Radar Sampit di Pasar Tradisional Al Kamal Sampit, harga cabai rawit masih melambung tinggi di harga Rp100 ribu per kilogram.
”Sebelumnya pernah turun Rp 85-90 ribu. Ini, sudah dua hari harga lombok naik lagi Rp100 ribu per kg," kata Dewi, pedagang di Pasar Al Kamal, Selasa (15/4).
Lombok rawit yang ia jual berasal dari petani asal Barabai. Setiap hari Dewi mampu menjual 3-5 peti berisi lombok masing-masing 40 kg per peti.
”Ini cuma bawa dua peti (80 kg) saja, baru buka sudah diserbu pembeli. Ini sudah mau habis. Stoknya enggak banyak. Biasanya bawa 3-5 peti," ujarnya
Sementara itu, penjualan cabai keriting yang sebelumnya Rp80-100 ribu per kg, kini turun di harga Rp55-60 ribu per kg.
”Lombok keriting sudah turun empat hari ini. Kalau beli banyak saya kasih murah Rp 55 ribu per kg," ujarnya.
Komoditas lainnya, bawang merah yang sebelumnya Rp45 ribu per kg, mulai turun menjadi Rp43 ribu per kg.
”Bawang merah sudah lama turunnya, sekitar tiga minggu yang lalu. Bawang putih masih sama, Rp45 ribu dan tomat yang masih naik dari harga Rp13-15 ribu, naik lagi menjadi Rp18 ribu per kg," ujarnya.
Penurunan harga juga terjadi pada ayam potong. Setelah sempat dijual di harga Rp48 ribu per kg saat Lebaran, ayam yang dipasok dari peternak Banjarmasin mengalami penurunan harga.
”Harga ayam potong sudah empat hari ini Rp30 ribu per kg. Saat Lebaran sempat tinggi di harga Rp48 ribu, seminggu ini harga ayam sudah kembali stabil," ujar Sori, pedagang ayam di Pasar Al Kamal.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kotim Fahrujiansyah mengatakan, pasokan cabai rawit di Kotim masih bergantung pada kiriman dari Jawa, karena produksi lokal tak mencukupi.
”Karena masih musim hujan, tanaman cabai rawit di Kotim kurang baik. Itu kendalanya," ujar Fahrujiansyah.
Pasokan dari Jawa ataupun Kalsel secara otomatis ada tambahan biaya, sehingga harga yang dijual lebih mahal.
”Memang, kebutuhan cabai rawit di Kotim juga dipasok dari Banjar yang juga mulai berkurang karena ada petani yang gagal panen," ujarnya.
Pihaknya tak dapat berbuat banyak mengatasi tingginya harga cabai. ”Masih koordinasi dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kotim, mudah-mudahan memungkinkan disediakan hasil panen petani lokal untuk memenuhi kebutuhan cabai rawit di Sampit," katanya. (hgn)
Editor : Gunawan.