PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com - Abrasi di pesisir Pantai Kumai Kabupaten Kotawaringin Barat,Kalteng semakin parah.
Pengikisan akibat gelombang laut dan rob nyaris menghabiskan badan jalan yang merupakan akses utama warga Desa Keraya.
Bila dibiarkan, abrasi akan mengakibatkan badan jalan terputus. Dalam beberapa tahun terakhir abrasi sudah mengikis hampir separuh badan jalan.
Penanganan abrasi telah dilakukan beberapa kali oleh pemerintah daerah, namun tak dapat menahan hantaman gelombang laut. Satu titik ditangani, muncul titik abrasi lainnya di sepanjang jalan Desa Keraya.
Penanganan pertama pada tahun 2017 silam, cekungan akibat abrasi di badan jalan membuat jembatan penghubung ambruk. Selain perbaikan jembatan, cekungan abrasi ditutup dengan tanggul yang terbuat dari tumpukan pasir yang dimasukan ke dalam karung.
Abrasi terparah terjadi pada tahun 2021 silam. Tujuh rumah nyaris ambruk dihantam ombak laut. Pemerintah daerah kemudian merelokasi penduduk yang terdampak abrasi.
Pada tahun 2024 ini abrasi kembali terjadi, jalan sepanjang 30 meter mengalami erosi akibat dihantam gelombang pasang secara terus menerus.
Dinas PUPR Kabupaten Kotawaringin Barat langsung terjun ke lokasi untuk melakukan pencegahan abrasi.
Kabid Sumber Daya Air (SDA) Nety Juniarty Nengsih mengatakan, abrasi yang terjadi sepanjang 30 meter di jalan poros Desa Keraya, Kecamatan Kumai, saat ini dalam penanganan menggunakan teknologi geobag.
"Penanganan sementara yang dilakukan yaitu dengan pemasangan geobag yang diisi dengan material pasir," terangnya, Sabtu (19/10).
Untuk penanganan jangka panjang, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat juga telah mengusulkan untuk penanganan sepanjang 760 meter di titik kritis Pantai Keraya melalui dana APBN dan APBD Provinsi Kalteng.
"Pengisian material ke dalam geobag atau bahan geotextile, kita bekerja sama dengan pemerintah desa dan masyarakat setempat," pungkasnya. (tyo/yit)
Editor : Slamet Harmoko