Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Pertempuran Sukamara, Belanda Serang dari Empat Penjuru, Pejuang Dieksekusi Mati di Depan Penduduk (2-Habis)

Fauziannur • Senin, 19 Agustus 2024 | 12:09 WIB
PAHLAWAN: Para pahlawan asal Sukamara yang gugur di medan perang saat melawan penjajah dan dimakamkan di TMP Bumi Loka Sukamara.   
PAHLAWAN: Para pahlawan asal Sukamara yang gugur di medan perang saat melawan penjajah dan dimakamkan di TMP Bumi Loka Sukamara.  

Setelah pasukan perjuangan rakyat Sukamara terkonsolidasi dengan Tentara Republik Indonesia (TRI) dan tergabung dalam gerakan Ekpedisi MN 1001 di bawah kendali Gubernur Kalimantan Tengah Mohammad Nor, perjuangan mempertahankan kemedekan terus berlanjut.

Ekspedisi MN 1001 merupakan sebuah gerakan para pejuang di Kalimantan Tengah. MN sebagai inisial dari nama Gubernur dan 1001 mengartikan banyaknya taktik dan siasat perang gerilya yang dilakukan Tjilik Riwut dan kawan-kawan, sebagai motivator gerakan strategi perang gerilya tersebut.

Namun, di Sukamara, sebelum strategi tersebut memukul pasukan Belanda, ternyata gerakan sudah tercium dan diketahui oleh pasukan NICA, sehingga mereka mempersiapkan diri menyerang Sukamara.

Serangan terjadi pada April 1946. Inilah kemudian dikenal Serangan Empat Penjuru dan menjadi pertempuran kedua rakyat Sukamara dengan pasukan NICA.

Pada hari Selasa 9 April 1946, diterima laporan dari anggota Angkatan Muda di pos penjagaan Natai Sedawak bahwa pasukan NICA dalam jumlah besar telah memasuki kampung dan membangun pertahanan.

Mereka juga telah menembak mati dua warga Sungai Cabang Barat yakni Anang Bulkan bin Mail dan Ibas bin Mail.

Setelah menerima berita itu, Ketua dan Komandan Angkatan Muda bersama TRI mengadakan persiapan menghadapi musuh dengan memperkuat pos-pos penjagaan.

Tepat hari Rabu 10 April 1946, sekira pukul 8 pagi akhirnya petempuran di dua pos penjagaan meletus. Gugurlah Saleh Kotel, salah seorang pejuang yang bertugas mengintai musuh.

Pertempuran kali ini, tentara NICA dengan kekuatan penuh. Mereka datang dari sebelah timur dari Pangkalan Bun, sebelah barat dari Marau, sebelah selatan dari wilayah Kuala Jelai dan muara laut dan datang dari sebelah utara dari wilayah Pangkalan Muntai dan Sukaraja.

Lantaran itulah, HM Zuhrie, salah seorang tokoh masyarakat menyebut serangan kedua tersebut Serangan Empat Penjuru.

Setelah memasuki kampung Sukamara, pihak Belanda langsung menurunkan bendera Merah Putih dan menggantikannya dengan bendera Belanda.

Meski tidak ada perlawanan masif seperti pertempuran pertama di sungai Jelai, tetapi perlawanan pasukan TRI dan Angkatan Muda cukup berarti dengan sistem gerilya dan membuat kerepotan pasukan Belanda.

Tercatat, dalam serangan kedua pihak Belanda itu telah gugur pejuang Sukamara. Serangan dari pesisir laut telah membunuh Anang bin Mail. Dalam serangan itu juga nampak pasukan Gurkha, yang merupakan tentara sekutu.

Setelah Belanda berhasil menduduki Sukamara, penduduk yang sebelumnya melarikan diri ke hutan bersembunyi tidak mau keluar.

Belanda pun marah dan mengangkat habis harta benda penduduk, lalu membakar rumah mereka yang berjumlah 100 lebih.

Pihak NICA memerintahkan kepada penduduk yang sembunyi agar keluar dan mengancam akan menyerbu ke hutan. Namun ternyata hal itu hanyalah taktik untuk menangkap pejuang yang bersembunyi.

Akhirnya, terjadilah penangkapan besar-besaran di Sukamara. Para pejuang ditangkap dan dihukum eksekusi mati di hadapan penduduk yang keluar dari tempat persembunyian mereka.

Pertempuran 9 dan 10 April 1946 itu menjadi puncak perlawanan rakyat Sukamara hingga kedaulatan penuh bisa direbut Indonesia setelah Konferensi Meja Bundar 1949.

Rangkuman catatan sejarah tersebut diambil dari Buku Sejarah Sukamara edisi cetak 2016, yang disusun oleh Dr. M. Sulhan, Dian Arymami, M.HUM, PhD Cand, dan Maulin Ni’am, S.IP. (***/ign)  

Editor : Slamet Harmoko
#NICA #Pertempuran Sukamara #kalteng #sukamara #pejuang kemerdekaan