Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Mengenal 5 Sistem Hidroponik yang Umum Digunakan Oleh Petani di Indonesia

Heru Prayitno • Selasa, 16 Juli 2024 | 13:00 WIB
Pakcoy yang ditanam dengan cara hidroponik dengan sistem NFT milik Hidroponik 88
Pakcoy yang ditanam dengan cara hidroponik dengan sistem NFT milik Hidroponik 88

JAWA POS RADAR SAMPIT - Sampit menjadi salah satu daerah dengan banyak pegiat hidroponik, jumlahnya lebih dari 40 orang.

Hidroponik adalah metode pertanian yang menggunakan larutan nutrisi sebagai media tanam tanpa melibatkan tanah.

Dalam sistem hidroponik, akar tanaman terendam dalam larutan nutrisi kaya akan unsur hara esensial untuk pertumbuhan tanaman.

Metode ini memungkinkan kontrol lebih baik terhadap nutrisi yang diberikan pada tanaman, sehingga pertumbuhan tanaman dapat dioptimalkan.

Para pegiat hidroponik di Sampit menggunakan berbagai macam sistem, mulai dari nutrient film technique (NFT), deep flow technique (DFT), rakit apung, irigasi tetes, dan sistem wick.

1. Nutrient Film Technique (NFT)

NFT adalah sistem yang paling banyak digunakan oleh pegiat hidroponik di Sampit, seperti Mansyah, Gatot Pratama, Nurcahyo, Susilo Adi, dan banyak lagi.

Dalam sistem ini, larutan nutrisi terus-menerus mengalir mengenai akar tanaman menggunakan pipa PVC dan pompa.

Tanaman tumbuh pada lapisan aliran nutrisi dangkal yang membuat sebagian akar terendam untuk memperoleh nutrisi, sedangkan sebagian lainnya di atas memperoleh oksigen.

Nutrisi diterima oleh akar secara terus-menerus menggunakan pompa air yang ditempatkan pada tandon nutrisi.

2. Deep Flow Technique (DFT)

DFT adalah sistem tanam hidroponik yang menggunakan genangan pada instalasi dan sirkulasi dengan aliran pelan.

DFT hampir sama dengan NFT, namun instalasinya tidak menggunakan kemiringan. Instalasi DFT datar dengan penahan air di ujung pipa untuk mempertahankan air nutrisi yang menggenang.

Jadi, ketika listrik padam, tanaman tidak akan kekeringan. Ketinggian air nutrisi yang menggenang dalam instalasi sekitar 2 hingga 4 centimeter.

3. Drip System (Irigasi Tetes)

Drip system adalah metode hidroponik yang menggunakan sistem irigasi tetes untuk mengalirkan nutrisi ke akar tanaman melalui selang irigasi dengan dripper yang diatur waktunya dengan timer.

Media tanam yang digunakan meliputi batu apung, zeolit, sekam bakar, dan sabut kelapa.

Drip system biasanya digunakan untuk menanam sayuran dan buah-buahan seperti cabai, paprika, tomat, melon, dan stroberi.

Nurcahyo adalah salah satu pegiat hidroponik di Sampit yang menggunakan sistem irigasi tetes untuk menanam melon.

4. Floating Raft System (Rakit Apung)

Rakit apung adalah teknik hidroponik yang menggunakan bak air sebagai wadah dan styrofoam sebagai rakit untuk menjaga tanaman tetap mengapung.

Rockwool dan netpot digunakan sebagai media tanam yang diletakkan di lubang styrofoam.

Teguh Prihantoro dari Mentayaponik adalah salah satu pegiat hidroponik di Sampit yang menggunakan sistem ini.

6. Sistem Wick

Sistem wick mengandalkan prinsip kapiler atau sumbu untuk menyalurkan nutrisi dari wadah ke akar tanaman.

Sistem ini tidak memerlukan listrik atau pompa, sehingga cocok bagi mereka yang ingin belajar hidroponik atau sekadar mencoba-coba. Sistem ini paling sederhana, mudah diterapkan, dan murah. (yit)

Editor : Slamet Harmoko
#hidroponik #pertanian #sampit #Nutrient Film Technique #kotim #kalteng #hidroponik 88