Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Penting! Kenali Perilaku Buaya Agar Tak Menjadi Mangsanya

Agus Jaka Purnama • Sabtu, 5 April 2025 | 06:00 WIB
Petugas BKSDA Resort Sampit saat mengevakuasi buaya sepanjang 1,5 meter di sekitar pemukiman warga, baru-baru tadi.
Petugas BKSDA Resort Sampit saat mengevakuasi buaya sepanjang 1,5 meter di sekitar pemukiman warga, baru-baru tadi.

radarsampit.jawapos.com - Buaya merupakan reptil yang hidup di air, dan salah satu dari 23 jenis spesies hewan amfibi yang umumnya berukuran besar dan termasuk hewan karnivora atau hewan pemakan daging. Ukuran buaya bervariasi.

Buaya terkecil adalah kerdil dengan panjang sekitar 5,6 kaki (1,7 meter) dan berat 6-7 kilogram. Sementara buaya terbesar pernah ditemukan dengan panjang 20,24 kaki (6,17 meter) dan berat 907 kilogram.

Dilansir Live Science, buaya adalah hewan karnivora atau pemakan daging. Di alam liar, buaya memakan seperti ikan, burung, katak, atau krustasea.

Buaya akan memakan mangsanya dengan rahang yang besar, kemudian menghancurkannya. Selanjutnya akan menelan seluruh mangsanya.

Buaya memilik rahang yang kuat dengan banyak gigi berbentuk kerucut dan kaki pendek dengan jari berselaput cakar. Buaya tidak bisa mengunyah atau memecah makanan kecil seperti hewan lainnya.

Rahang buaya dapat memberikan tekanan 5.000 pon per inci persegi. Sehingga dapat menggigit lengan atau kaki tanpa masalah.

Menurut Hellen Kurniati, pakar buaya di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), buaya muara dengan nama latin Crocodylus porosus ini merupakan satu jenis buaya yang ganas dan berbahaya.

Semakin besar ukuran buaya, mangsanya akan semakin besar juga untuk mencukupi kebutuhannya.

Namun, dalam banyak kasus di mana manusia menjadi korban keganasan buaya di Indonesia, penyebabnya sering lantaran manusia yang lalai ketika berada di wilayah habitat buaya. Pada dasarnya buaya adalah hewan agresif dan ganas.

Mengutip dari beberapa sumber, selain buaya muara, ada beberapa jenis buaya yang hidup di Indonesa.

Buaya Irian (Crocodylus novaeguneae) yang hidup di wilayah Papua. Buaya Kalimantan (Crocodylus raninus) yang banyak ditemui di pulau-pulau di Kalimantan. Serta buaya Senyulong (Tomistoma schlegelii) yang banyak ditemui di Pulau Sumatera.

Dari keempat jenis tersebut, buaya muara merupakan yang paling ganas dan berbahaya. Sebab, Crocodylus porosus dapat mencapai panjang maksimal hingga 7 meter, sementara tiga jenis lainnya hanya 5 meter.

"Dari sejumlah kasus, buaya muara yang paling banyak menyerang manusia," ujar Hellen. Pada minggu-minggu pertama kehidupannya, buaya memakan serangga, krustasea, siput, ikan kecil, katak, dan berudu. Buaya yang lebih tua umumnya memakan ikan dan lebih suka memangsa unggas air dan mamalia.

Kadang-kadang, anggota dari salah satu spesies yang lebih besar bisa memakan manusia, meskipun insiden seperti itu jarang terjadi sehingga buaya tidak dapat dianggap sebagai pemakan manusia.

Buaya juga adalah pemangsa dan menghabiskan sebagian besar waktu di air. Mereka biasanya hidup di dekat danau, sungai, lahan basah dan bahkan beberapa daerah air asin.

Binatang ini, yang memangsa mamalia besar adalah aligator. Baik buaya maupun aligator, mereka hanya menyerang ketika ada objek yang bergerak di sekitarnya.

Buaya dan aligator memiliki beberapa adaptasi yang memungkinkan mereka mendeteksi mangsa potensial secara efektif. Antara lain :

Kulit Sensitif : Kulit mereka dilengkapi dengan reseptor sensorik khusus yang disebut organ sensorik integumen (ISO) yang terletak di moncong mereka. Reseptor ini dapat mendeteksi getaran kecil dan perubahan tekanan di dalam air, sehingga mereka dapat merasakan gerakan di dekatnya.

Pendengaran Akut : Buaya memiliki kemampuan pendengaran yang sangat baik. Mereka dapat mendengar suara di atas dan di bawah permukaan air, yang membantu mereka mendeteksi mangsa yang mendekat.

Penglihatan : Mata mereka beradaptasi untuk penglihatan siang dan malam. Mereka memiliki membran nictitating (kelopak mata ketiga yang melindungi) yang memungkinkan mereka melihat di bawah air sambil menjaga mata mereka tetap lembap dan terlindungi.

Kamuflase dan Siluman : Buaya dan aligator memiliki kamuflase yang baik di lingkungan perairannya, yang membantu mereka tetap tidak terdeteksi oleh mangsa hingga mereka siap menyerang. Keheningan mereka memungkinkan mereka untuk berbaur dengan lingkungan sekitaR.

Isyarat Perilaku : Buaya juga dapat menangkap isyarat perilaku halus dari hewan mangsa, seperti cipratan, gemerisik di tumbuhan, atau pergerakan bayangan.

Adaptasi ini bekerja sama untuk membuat buaya dan aligator menjadi predator penyergap yang sangat efektif di habitatnya.

Mengapa Buaya Menyerang Manusia

Hellen Kurniati, Peneliti utama Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesa (LIPI) mengatakan,  penyebab buaya menyerang manusia adalah karena buaya kehilangan pakan alaminya.

Dikutip dari nationalgeographic, Ketika wilayah yang ditinggali buaya mengalami penurunan jumlah makanan, maka buaya akan mencari wilayah baru yang mampu menjamin keberlangsungan hidup mereka.Buaya merupakan predator yang menargetkan hewan dengan ukuran lebih kecil dari ukuran tubuh mereka.

Hewan yang menjadi incaran mereka adalah ikan, burung, reptil, dan mamalia kecil.Sedangkan reptil yang memangsa mamalia besar adalah aligator.

Baik buaya maupun aligator, mereka hanya menyerang ketika ada objek yang bergerak di sekitarnya.

Selain itu, pembangunan wilayah yang mengalihfungsikan kawasan habitat buaya juga berdampak pada jumlah makanan buaya. Karena pembangunan, habitat alami buaya terganggu dan buaya menjadi mudah bersinggungan dengan manusia secara langsung.

Dilansir dari laman BBC, Rick Langley dari dari Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan North Carolina di Raleigh, mengatakan bahwa serangan buaya cenderung menjadi lebih umum karena populasi manusia dan buaya semakin meningkat.

Sedangkan pembangunan yang dilakukan oleh manusia semakin gencar dilakukan dan merambah habitat buaya.

Tidak hanya populasi, musim juga mampu menjadi faktor pemicu agresivitas buaya. Musim kemarau merupakan musim kawin bagi buaya, sehingga beberapa jenis dari mereka akan menjadi lebih sensitif dan mudah menyerang.

Sebenarnya, manusia bisa saja berdampingan dengan buaya tanpa harus menimbulkan masalah. Selama aturan-aturan yang sudah ditegakkan dipatuhi oleh manusia.

"Hidup berdampingan dengan predator besar berbahaya mengharuskan kita untuk memahami perilaku mereka dan menjaga perilaku saat berada di sekitar mereka," ucap Simon Pooley dari Birkbeck College, University of London.

Berikut cara-cara untuk mengidentifikasi area yang mungkin banyak buayanya   

Mencari Informasi dari Penduduk Lokal

Penduduk lokal biasanya memiliki pengetahuan yang baik tentang lingkungan sekitar mereka, termasuk daerah-daerah yang sering dikunjungi buaya. Bertanya kepada penduduk lokal tentang tempat-tempat yang harus dihindari adalah langkah pertama yang efektif.

    Mengamati Tanda-tanda Fisik

Buaya sering meninggalkan jejak yang dapat dikenali, seperti bekas tapak di lumpur, gesekan tubuh pada tanah, atau sisa-sisa makanan. Mengamati tanda-tanda ini bisa membantu Anda mengidentifikasi keberadaan buaya di suatu area.

Waspada dengan Perairan yang Tenang 

Buaya sering ditemukan di perairan yang tenang seperti sungai, danau, rawa, atau laguna. Hindari berenang atau berkegiatan di area seperti ini, terutama di wilayah yang sebelumnya dikenal memiliki populasi buaya.

    Menggunakan Teknologi dan Sumber Daya Online

Teknologi modern dan internet dapat menjadi alat yang sangat berguna. Situs web pemerintah, aplikasi pemantauan satwa liar, dan forum online sering memberikan informasi tentang lokasi yang berpotensi berbahaya dan panduan keselamatan.

    Memperhatikan Peringatan dan Tanda

Banyak kawasan yang diketahui memiliki populasi buaya akan memasang tanda peringatan di sekitar area tersebut. Memperhatikan dan mematuhi tanda-tanda atau peringatan ini sangat penting untuk keselamatan anda.

    Konsultasi dengan Pemandu atau Petugas Profesional

Jika Anda berencana untuk mengunjungi alam liar, mempertimbangkan untuk menyewa pemandu profesional yang memiliki pengetahuan mendalam tentang wilayah tersebut dan dapat memberikan informasi serta perlindungan yang lebih baik.

 Langkah-langkah untuk Keamanan Tambahan:

-Beraktivitas di Siang Hari

Buaya lebih aktif pada malam hari hingga dini hari, sehingga beraktivitas di siang hari dapat mengurangi risiko bertemu dengan buaya.

-Tetap Jauh dari Tepi Air

Saat berada di dekat perairan yang berpotensi terdapat buaya, hindari berada terlalu dekat dengan tepi air. Buaya bisa bergerak cepat dari air ke darat.

- Jangan Memberi Makan Buaya

Memberi makan buaya bisa mengajarkan mereka untuk mengasosiasikan manusia dengan makanan, meningkatkan risiko serangan.

Mengetahui tempat yang banyak buayanya dan mengambil langkah-langkah pencegahan adalah kunci untuk menjaga keselamatan anda saat berada di alam liar. Dengan memanfaatkan informasi dari berbagai sumber dan mengikuti panduan keselamatan, anda dapat menikmati keindahan alam tanpa mengorbankan keamanan anda.(bbc/natgeo/int/gus)

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Agus Jaka Purnama
#menyerang #perilaku #buaya #dimangsa buaya #Crocodylus porusus #pemangsa #hewan #lipi #manusia