Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Berhenti Dua Kali di Perjalanan, Istri Kades Akhirnya Melahirkan di Ambulans

Administrator • Kamis, 10 Februari 2022 | 10:35 WIB
SEHAT: Sukardi, Kades Bajarau, dan istrinya, Nurul Husnah bersama buah hati yang lahir di ambulans. (SUKARDI FOR RADAR SAMPIT)
SEHAT: Sukardi, Kades Bajarau, dan istrinya, Nurul Husnah bersama buah hati yang lahir di ambulans. (SUKARDI FOR RADAR SAMPIT)
Penantian panjang Kepala Desa Bajarau, Sukardi, dan istrinya Nurul Husnah, terhadap kehadiran si buah hati berakhir. Sang bayi hadir ke dunia di tempat yang tak biasa, di dalam mobil ambulans.

HENY, Sampit

Perasaan cemas dan waspada menanti kelahiran bayi dirasakan Sukardi, Kades Bajarau, Kecamatan Parenggean, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Selasa (8/2) siang,  istrinya, Nurul Husnah (36), mengeluh sakit, pertanda ingin segera melahirkan.

Sukardi dengan sigap berangkat dari rumahnya di Jalan Lesa RT 1 RW 1 Desa Bajarau menuju Rumah Sakit Pratama Parenggean. Meski hanya berjarak satu kilometer dari rumahnya, Sukardi mencari aman. Dia membawa istri menggunakan mobil.

Setiba di rumah sakit, sang istri diperiksa bidan dan dokter. Namun, hasil pemeriksaan menunjukkan sang istri harus dirujuk di RSUD dr Murjani Sampit yang jaraknya sekitar dua jam dari Parenggean.

”Ba’da zuhur saya berdua bersama istri berangkat membawa mobil ke Rumah Sakit Parenggean. Sampai di sana, langsung diperiksa dokter dan bidan. Sudah USG, ternyata air ketuban menipis. Istri diminta menunggu observasi selama tiga jam,” kata Sukardi, Rabu (9/2).

Namun, setelah menunggu observasi selama berjam-jam, tetap tidak ada perubahan. Bidan menyarankan dirujuk ke RSUD dr Murjani Sampit. Tanpa pikir panjang, Sukardi lansung mengiyakan saran tersebut.

Istri Sukardi kemudian dibawa menggunakan ambulans. Dalam ambulans, Nurul ditemani bibi Sukardi, bidan, dan sopir. Sukardi sendiri mengiringi di belakang membawa mobilnya.

”Dalam perjalanan, ambulans dua kali berhenti. Pertama di dekat sebelum Pelantaran. Tukar posisi, bidan di belakang, bibi dipindah ke depan karena istri sudah mengalami kontraksi. Bidan menyarankan agar istri bersabar, menahan sebentar lagi sampai rumah sakit,” katanya.

Perjalanan kemudian dilanjutkan. Rintihan Nurul menahan sakit saat kontraksi dalam ambulans sudah tidak tertahankan. Ambulans lalu berhenti untuk kedua kalinya di Desa Keruing.

”Sopir keluar, saya tanya. Pak, kenapa berhenti lagi?” kata Sukardi dengan wajah cemas.

”Istri bapak mau melahirkan. Pembukaan lengkap,” sahut Sopir.

Mendengar istri mau melahirkan, wajah Sukardi langsung panik dan cemas. Namun, mau tidak mau persalinan sudah tidak bisa ditunda. ”Saya melihat bidan didampingi bibi berjuang memberikan pertolongan kepada istri saya yang sedang berusaha mengeluarkan bayi. Saya ikut bantu berikan semangat kepada istri dengan perasaan cemas, panik, dan waswas, karena melahirkan didalam ambulans di pinggir jalan,” katanya.

Rintihan perjuangan serta peluh keringat akhirnya terbayarkan setelah sosok bayi perempuan dengan berat 4 kg panjang 50 cm lahir dengan sehat dan selamat. ”Tepat pukul 16.30 WIB, titipan dari Allah berupa seorang putri kami lahir dengan sehat dan selamat,” ujarnya.

Sukardi dan istri nampak lega menyambut kelahiran bayi. Perasaan yang tadinya cemas, perlahan hilang diganti bahagia setelah anak keempat dari buah hati Sukardi dan Nurul lahir ke dunia.

”Istri saya termasuk perempuan yang kuat. Anak saya terlahir besar. Berat badannya 4 kg, tetapi ada lagi kakaknya yang lebih besar 4,5 kg saat lahiran. Kami semua tersenyum gembira menyambut putri kami tercinta yang rencananya akan kami beri nama Adiba Khanza Wadina,” ujarnya.

Niat hati ingin berangkat menuju RSUD dr Murjani Sampit akhirnya buyar. Istri Sukardi kembali pulang dan dirawat di Rumah Sakit Pratama Parenggean. ”Sudah setengah perjalanannya, akhirnya kami balik kanan. Istri dirawat di Rumah Sakit Parenggean. Habis zuhur tadi (kemarin, Red) baru dibolehkan pulang ke rumah,” katanya.

Sukardi mengungkapkan, istrinya memiliki hobi jalan-jalan. Bahkan, hobi melancong ke luar kota itu semakin semangat dia lakukan saat hamil besar. ”Istri saya memang senang traveling. Desember 2021 lalu kami berdua traveling ke Pulau Bali dan Jawa. Lanjut lagi ke Banjarmasin. Selama traveling, istri saya tidak mengeluh, padahal jalan kaki kesana-kemari dalam kondisi hamil besar. Mungkin, ikatan batin antara ibu dan anak benar adanya. Istri tidak berharap lahiran di rumah atau di rumah sakit. Keinginannya itu didukung bayi yang masih dalam perut. Si jabang bayi memilih keluar dari rahim ibunya saat dalam perjalanan,” tandasnya. (***/ign) Editor : Administrator
#ibu melahirkan #melahirkan