Radar Utama Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno Kalteng

Sejarah Istilah ”Jin Buang Anak” Jadi Tempat Berlindung Edy Mulyadi, tapi…

Administrator • Selasa, 25 Januari 2022 | 10:26 WIB
Edy Mulyadi.
Edy Mulyadi.
Istilah ”jin buang anak” seketika populer saat Edy Mulyadi, sosok yang menolak keras pemindahan ibu kota negara (KN) ke Kalimantan Timur, menyampaikannya untuk menggambarkan wilayah Kalimantan. Protes keras dari masyarakat Kalimantan langsung bermunculan dari berbagai penjuru.

Setelah mendapat kecaman dari berbagai pihak, Edy Mulyadi meminta maaf dan membuat klarifikasi terkait penyataannya tersebut. Menurutnya, istilah ”jin buang anak” dipakai untuk menggambarkan tempat yang jauh.

”Jangankan Kalimantan, dulu monas itu disebut tempat ’jin buang anak’,” ujarnya melalui akun Youtube pribadinya, Senin (24/1). Dia menegaskan, konteks ”jin buang anak” dalam pernyataan itu adalah untuk menggambarkan tempat jauh, bukan untuk mendiskreditkan pihak tertentu.

Penelusuran Radar Sampit, Alberthiene Endah, dalam buku yang berjudul ”Ciputra The Entrepreneur: The Passion of My Life" (2019), mengungkapkan kisah suatu wilayah yang disematkan istilah 'Jin Buang Anak'.

Dikutip dari faktaidn.com, buku itu mengkisahkan sejarah kesuksesan Ciputra dalam pembangunan kawasan di selatan Jakarta pada era 1980-an yang kini jadi salah satu kawasan paling elite di Jakarta, yaitu Pondok Indah dan Bintaro.

Meski mengambil istilah populer di Jakarta, yakni tempat ”Jin Buang Anak” untuk menilai satu wilayah, namun Ciputra berhasil mengubah keadaan dari istilah itu. Ciputra memulainya dari intuisi yang tajam terhadap peluang.

Kiasan semacam itu, masih menurut faktaidn.com, juga berlaku di banyak wilayah untuk menggambarkan kawasan yang dahulunya bukan apa-apa, sepi penduduk, namun ke depan akan jadi wilayah yang bernilai atau elite.

Istilah tempat ”jin buang anak” juga menjadi bahasa candaan daerah yang kerap terdengar di daerah Palembang. Istilah itu bermakna lokasi yang jauh dari fasilitas umum dan terpencil.

Meski Edy Mulyadi telah meminta maaf dan menjelaskan maksud pernyataannya, sebagian besar masyarakat Kalimantan tetap tidak terima. Istilah tersebut dinilai tidak tepat dipakai di kalangan umum yang lebih luas. Sebaliknya, justru mengandung ujaran kebencian dan penghinaan.

Selain itu, dalam video viral terkait pernyataan Edy Mulyadi yang menyudutkan Kalimantan itu, dia juga menyebut sasaran pasar IKN tersebut. ”Kalau pasarnya kuntilanak dan genderuwo, ngapain kok bangun di sana,” kata Edy.

Setelah itu Edy juga bertanya pada rekan di sampingnya. Dia mengatakan, rekannya itu tak akan mau pindah dari Jakarta ke Penajam, Kalimantan Timur untuk membeli rumah. Rekannya langsung menyahut, ”Hanya monyet,”. Perkataan itu langsung disambut tawa rekan-rekannya yang lain, tanpa ada klarifikasi.

Pernyataan penolakan yang disertai berbagai kata-kata yang diduga hinaan dan melecehkan itu langsung menuai protes keras masyarakat Kalimantan. Seruan agar Edy ditangkap menggema di media sosial. Sejumlah pihak juga langsung melaporkan hal tersebut ke aparat kepolisian. (ign) Editor : Administrator
#edy mulyadi #ujarankebencian #ibu kota negara #IKN #kalimantan