Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Sering Rusak, Begini Skenario Penanganan Jembatan Patah Jangka Panjang

Administrator • Rabu, 1 September 2021 | 12:50 WIB
SAMPIT – Renovasi total Jembatan Patah di Jalan Kapten Mulyono Kota Sampit, memerlukan anggaran besar agar lebih kokoh. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotim telah melakukan kajian terhadap jembatan tersebut agar tahan lama.

Pekan lalu, Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Kawasan Permukiman (PUPRKP) Kotim melakukan perbaikan setelah ada truk terperosok saat melintasi jembatan.

”Perbaikan lantai, rel ban dipasang, baut yang longgar sudah kami kencangkan,” kata Pengawas Teknis Pemeliharaan Jalan Dinas PUPRKP Kotim Suhardiyono, baru-baru ini.

Suhardiyono menuturkan, Jembatan Patah merupakan bangunan semi permanen yang terbuat dari rangka besi dengan lantai dari kayu ulin. Panjangnya 30 meter dengan lebar 5 meter yang dibangun di bawah tahun 2000.

”Jembatan ini dinamakan Jembatan Patah karena dulu bentuknya mematah seperti trapesium. Awalnya kecil saja, tidak selebar sekarang. Semua lantai terbuat dari kayu ulin,” jelasnya.

Suhardiyono menambahkan, pihaknya telah melakukan kajian terkait masa pondasi dan ketahanan jembatan. Ada usulan dari masyarakat agar lantainya dicor beton. Akan tetapi, menurutnya, jembatan semi permanen tidak bisa dicor, karena akan mudah retak. Setiap dilalui kendaraan, jembatan akan bergerak. Selain itu, cor tidak dinilai tak tahan lama.

”Jadi, tak bisa cor beton. Hanya lantainya saja harus bongkar total. Tentunya anggaran yang dikeluarkan cukup besar,” katanya.

Kepala Seksi Jembatan Bidang Bina Marga Dinas PUPRKP Akhmad Fahmi Rizal mengatakan, pihaknya telah melakukan kajian solusi jangka pendek dan panjang untuk mengatasi persoalan Jembatan Patah.

”Solusi jangka pendek sudah kami lakukan dengan perbaikan jembatan dan menambah material, serta perbaikan lantai,” kata Akhmad Fahmi, Selasa (31/8).

Setelah perbaikan itu, Jembatan Patah diperkirakan bisa bertahan dua tahun. Syaratnya, setiap pengendara yang melewati jembatan itu tidak mengangkut muatan lebih dari sumbu terberat 6 ton.

Lebih lanjut dia mengatakan, jalan di Kotim saat ini masih kelas III. Artinya, beban jalan hanya dapat dilewati 8 ton. Namun, kendaraan angkutan berat yang melintas di Kotim sebagian besar lebih 8 ton, sehingga membuat jembatan berkonstruksi kayu itu reyot dan cepat rusak.

”Kami berharap pengguna jalan mematuhi aturan pemerintah agar jembatan awet dan infrastruktur jalan tidak rusak parah,” ujarnya.

Fahmi mengungkapkan, ada beberapa alternatif solusi jangka panjang terhadap penanganan Jembatan Patah. Pertama, lantai dapat dicor beton, namun harus dikaji secara teknis, apakah pengecoran efektif memperkokoh jembatan atau tidak.

”Apabila dicor beton pada lantai jembatan, harus dikaji secara teknis, karena setiap pengendara yang melintasi jembatan bisa terjadi guncangan. Ada cara lain, ditambah rangka baja di atas jembatan. Hanya saja, perlu perhitungan dan tidak semua kendaraan bisa melewatinya,” katanya.

Alternatif kedua, dengan mengganti konstruksi jembatan semi permanen menjadi jembatan beton permanen. ”Bisa diganti rangka baja, balok T, atau girder jembatan. Tetapi, persoalannya, rangka besi yang ada dikemanakan? Ini memerlukan koordinasi dengan bidang aset dan intansi terkait,” katanya.

Alternatif terakhir, dibangun jembatan baru di sampingnya dan tetap mempertahankan jembatan yang ada. Namun, hal itu perlu anggaran besar lagi.

”Persoalannya terkait anggaran. Di masa pandemi seperti ini, kemampuan keuangan daerah sangat terbatas dan lebih banyak menimbang dan memilah mana yang bersifat mendesak dan perlu penanganan segera, itulah yang lebih dulu diprioritaskan,” tandasnya. (hgn/ign) Editor : Administrator
#jembatan #jembatan patah