Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Beruang Madu Masuk Permukiman Warga karena Habitat Rusak

Koko Sulistyo • Rabu, 14 Januari 2026 | 09:50 WIB

Beruang madu berkeliaran di permukiman masyarakat Kecamatan Pangkalan Banteng.
Beruang madu berkeliaran di permukiman masyarakat Kecamatan Pangkalan Banteng.

PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Kemunculan beruang madu di permukiman warga kembali meresahkan masyarakat di Kecamatan Pangkalan Banteng, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar). Sedikitnya tiga desa dilaporkan mengalami teror satwa liar tersebut dalam beberapa waktu terakhir.

Beruang madu pertama kali terlihat di Desa Karang Mulya. Selang beberapa waktu kemudian, kemunculan beruang juga dilaporkan warga Dusun Semanggang, Desa Pangkalan Banteng. Bahkan, satu orang warga dilaporkan mengalami luka serius di bagian wajah akibat diserang beruang liar.

Hingga kini, beruang tersebut belum berhasil ditangkap oleh Wildlife Rescue Unit (WRU) Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Pangkalan Bun, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah. Terbaru, pada Selasa (13/1/2026), beruang madu kembali terlihat di Blok F PT Indo Truba Tengah, Desa Aminjaya.

Situasi ini membuat warga semakin waspada. Pemerintah desa setempat pun mengeluarkan imbauan agar masyarakat tidak beraktivitas sendirian di kebun serta membawa alat perlindungan diri.

Kepala Desa Aminjaya, Yuni, menyebutkan bahwa beruang yang muncul di wilayahnya diduga berbeda dengan yang terlihat di Desa Karang Mulya dan Dusun Semanggang. 

“Wilayah Semanggang dan desa kami jaraknya cukup jauh, sehingga kemungkinan beruangnya berbeda,” ujarnya.

Menurut Yuni, hingga saat ini pemerintah desa belum melakukan koordinasi langsung dengan BKSDA maupun kepolisian sektor setempat. Hal itu lantaran beruang yang muncul di dua wilayah sebelumnya juga belum tertangkap.

Sebagai langkah awal, pemerintah desa terus mengumpulkan informasi terkait lokasi kemunculan beruang.

“Kami masih memetakan titik-titik kemunculan. Apakah ada sarang tertentu atau hanya berpindah-pindah mencari tempat baru,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala SKW II Pangkalan Bun BKSDA Kalimantan Tengah, Dendi Sutiadi, mengatakan tingginya intensitas kemunculan beruang di Kecamatan Pangkalan Banteng akan ditindaklanjuti dengan rapat koordinasi bersama unsur terkait.

Ia menegaskan bahwa alih fungsi hutan menjadi kebun, baik oleh korporasi maupun masyarakat, menjadi salah satu pemicu konflik antara manusia dan satwa liar.

“Habitat beruang semakin tertekan akibat pembukaan lahan dan perkembangan desa. Satwa liar yang tersisa akhirnya berkeliaran di sekitar permukiman,” terangnya.

Dendi menambahkan, beruang memiliki daya jelajah yang luas. Selain itu, musim buah seperti durian, nangka, dan cempedak juga kerap menarik beruang mendekati kampung warga.

“Jika ruang hidup satwa liar masih dijaga dan tidak terus dialihfungsikan, maka konflik seperti ini dapat diminimalkan,” pungkasnya. (tyo/yit)

 

Editor : Heru Prayitno
#beruang madu #Kotawaringin Barat (Kobar)