Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Kapal Wisata Berkurang Drastis Tersisa Puluhan Unit Setelah Dihantam Pandemi

Administrator • Kamis, 24 November 2022 | 13:21 WIB
RUSAK: Tanaman sayur warga Kumpai Batu Bawah seperti sawi dan kacang-kacangan rusak dan mati, hanya menyisakan tiang-tiang lanjar (penopang tanaman), setelah terendam banjir beberapa waktu lalu, Sabtu (25/9).(sulistyo/radarsampit)
RUSAK: Tanaman sayur warga Kumpai Batu Bawah seperti sawi dan kacang-kacangan rusak dan mati, hanya menyisakan tiang-tiang lanjar (penopang tanaman), setelah terendam banjir beberapa waktu lalu, Sabtu (25/9).(sulistyo/radarsampit)
PANGKALAN BUN - Kapal wisata yang melayani turis domestik maupun mancanegara dengan rute  Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) berkurang drastis.

Kabid Pemasaran Dinas Pariwisata Kobar, Bambang Sigit Purnomo mengungkapkan, jumlah kapal wisata sebelum pandemi terdata berjumlah 120 kapal, namun setelah pandemi Covid-19 hanya tersisa sebanyak 70 unit.

"Saat TNTP ditutup lantaran Covid-19, banyak kapal yang tidak beroperasi. Banyak kapal yang rusak dan ada juga yang dijual dan saat ini hanya tersisa 70 unit saja," ungkapnya, Rabu (23/11).

Sementara itu, saat TNTP kembali dibuka secara terbatas, jumlah kunjungan wisata ke TNTP semakin mengalami peningkatan, hingga September tahun 2022 tercatat sebanyak 22 ribu lebih wisatawan telah berkunjung ke rumah besar orang utan itu.

Dari puluhan ribuan pengunjung, wisatawan mancanegara mendominasi dan sebagian besar dari Eropa, terutama Spanyol.

Dikatakannya, puncak kunjungan wisatawan ke TN Tanjung Puting terjadi di bulan Juni hingga Agustus. Ini terjadi karena di bulan itu sedang musim dingin dan libur di negara-negata Eropa.

"Untuk skema kunjungan wisatawan puncaknya di bulan Juni hingga Agustus, bulan selanjutnya mulai penurunan kunjungan wisatawan," ujarnya.

Salah seorang pelaku wisata, yang juga pemilik kapal wisata ke Tanjung Putting, Ahmad Yani mengungkapkan berkurangnya kapal wisata dibanding sebelum pandemi dikarenakan banyak kapal yang dijual oleh pemiliknya dan beralih fungsi misal menjadi pengangkut buah sawit.

"Karena waktu pandemi kan kapal tidak beroperasi, dan biaya perawatan juga mahal, sehingga karena tidak ada pemasukan dari usaha jasa wisata ini, ada yang harus menjual kapalnya dan alih fungsi menjadi pengangkut sawit," ujarnya.

Dijelaskan Yani, untuk biaya sewa kapal sendiri ada kenaikan harga pasca kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu, pada waktu sebelum pandemi harga sewa biasa Rp700 ribu hingga Rp900 ribu perharinya.

"Saat ini harga sewa perhari Rp1 juta hingga Rp1,5 juta perhari, tergantung dari besar kapal dan fasilitas yang disediakan," ujar pemilik tour travel Boneo Hijau Persada tersebut. (tyo/sla) Editor : Administrator
#kapal wisata