Bocil Boyolali Bikin NASA Sungkem (Part 2): Ketika Komputer Bekas dan ChatGPT Jadi Duet Maut Penyelamat Siber

Slamet Harmoko • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 12:15 WIB
Ibrahim Al Abrar, siswa kelas 6 SDN Geneng 3 Kemusu, Boyolali menunjukkan surat apresiasi dari NASA. (Radar Solo)
Ibrahim Al Abrar, siswa kelas 6 SDN Geneng 3 Kemusu, Boyolali menunjukkan surat apresiasi dari NASA. (Radar Solo)

 

Ternyata kisah Mas Ibrahim Al Abrar, bocah ajaib dari Boyolali ini, jeroannya jauh lebih bikin kita melongo dan terharu, Lur! Kalau kemarin kita baru tahu kulit luarnya kalau dia anak desa yang belajar dari YouTube, sekarang fakta barunya keluar dan sukses bikin kita para orang dewasa berasa "dilepeh" sama bakat alaminya.

Ternyata oh ternyata, Ibrahim ini baru kelas 6 di SDN Geneng 3, Kecamatan Kemusu. Dan yang bikin merinding, dia sudah mulai mencicipi dunia coding sejak masih kelas 3 SD!

Baca Juga: Kotim Zona Merah Karhutla: Ketika Tanah Gambut Mulai "Batuk" dan Air Tawar Jadi Barang Mewah

Anak umur 9 tahun yang biasanya masih sibuk nangis minta dibelikan es krim atau main layangan di sawah, si Ibrahim ini sudah sibuk memelototi baris-baris kode program.

Nah, ada beberapa rahasia dapur di balik kesuksesan Ibrahim yang baru terungkap hari ini:

1. Belajar Pakai AI (Kecerdasan Buatan)

Ini dia trik keren zaman now. Di saat banyak orang dewasa memakai teknologi AI cuma buat bikin skripsi instan atau nyari jawaban tugas, Ibrahim justru menjadikan AI sebagai teman diskusi dan mentor siber pribadinya.

Kalau dia bingung atau mentok saat belajar materi coding yang njlimet, dia tinggal tanya dan diskusi sama AI. Ditambah lagi bimbingan dari "kakak-kakak online" di komunitas daring yang rajin ngirimin dia tutorial. Kreatif betul memanfaatkan teknologi!

2. Modal Awal Cuma HP, Naik Kelas Pakai Komputer Bekas

Perjuangan Ibrahim ini bener-bener dari nol alias semenjana banget, Lur. Awalnya dia cuma modal nekat mengetik kode-kode program lewat layar telepon genggam (HP) yang kecil itu. Bisa dibayangkan betapa pegalnya itu mata dan jempol.

Untungnya, sang ayah, Pak Aminudin Salas, adalah seorang guru Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) di SMKN Kemusu.

Sadar kalau anaknya punya bakat yang ndak biasa tapi perangkatnya minim, Pak Aminudin langsung membelikan komputer bekas biar anaknya bisa belajar lebih leluasa. "Pokoknya yang penting positif didukung," kata sang ayah. Mantap betul bapak satu ini, ndak pelit investasi buat masa depan anak!

3. Bapaknya Guru IT, tapi Tetap Angkat Topi

Uniknya lagi, Pak Aminudin blak-blakan mengakui kalau dia sendiri ndak menguasai dunia cyber security atau coding. Basis keahlian beliau adalah jaringan (networking). Jadi, keberhasilan Ibrahim menembus sistem NASA ini murni hasil keringat, kepintaran, dan keotodidakan si anak sendiri, bukan karena hasil les privat atau "disuapi" ilmu sama bapaknya.

Dampak Celah yang Ditemukan Ibrahim (Broken Link Hijacking):

Kalau lubang digital di situs NASA ini ndak buru-buru dilaporkan dan ditutup oleh Ibrahim, dampaknya bisa fatal. Link mati itu bisa dicaplok orang jahat buat dijadikan link phishing alias situs tiruan penipu.

Bayangkan kalau ada orang kena tipu miliaran rupiah gara-gara mengklik link resmi yang mengatasnamakan NASA. Untung ada bocah Kemusu yang menyelamatkan!

Melihat kegigihan Ibrahim yang berawal dari HP kentang, komputer bekas, sampai akhirnya dapat surat penghargaan resmi dari Amerika pada 9 Juli 2026 kemarin, kita bener-bener diajarkan satu hal: fasilitas mewah itu nomor dua, yang nomor satu itu kemauan.

Ibrahim sudah membuktikan kalau tinggal di pelosok Kemusu yang jauh dari gemerlap kota besar ndak menghalangi dia buat punya otak kelas dunia. Sekarang, selain bercita-cita jadi ahli cyber security profesional, dia juga tetap rendah hati dan rajin berbagi ilmu lewat akun Instagram-nya.

Yuk, kita doakan bareng-bareng semoga komputer bekas milik Ibrahim awet, sinyal internet di Kemusu lancar jaya, dan kelak bocah ini beneran bisa jadi benteng pertahanan siber Indonesia. Jangan sampai pas sudah gede nanti, keahliannya malah dipakai buat nge-hack situs pemerintah cuma demi jualan database ya, Le. Tetap di jalur lurus dan bikin bangga Boyolali!  (*)

Editor : Slamet Harmoko
Ibrahim Al Abrar Ciber Security boyolali coding nasa