Di saat anak-anak seumurannya mungkin lagi sibuk mabar Mobile Legends sampai larut malam atau bikin konten joget-joget ndak jelas di TikTok, bocah sekolah dasar (SD) asal Boyolali, Jawa Tengah, ini malah sibuk ngobrak-abrik sistem keamaanan lembaga antariksa paling elite di dunia.
Namanya Ibrahim Al Abrar. Bocah ajaib ini baru saja sukses meraih penghargaan prestisius berupa Letter of Recognition (LOR) resmi dari NASA (Badan Antariksa Amerika Serikat).
Penghargaan berstempel resmi dari Amerika itu didapat Ibrahim setelah dia berhasil menemukan lubang alias celah kerentanan digital (bug) pada salah satu situs resmi milik NASA melalui program Vulnerability Disclosure Policy (VDP) di platform Bugcrowd. Surat cinta penuh apresiasi itu mendarat di tangannya pada tanggal 9 Juli 2026 kemarin.
Baca Juga: Kotim Zona Merah Karhutla: Ketika Tanah Gambut Mulai "Batuk" dan Air Tawar Jadi Barang Mewah
Biar ndak bingung, celah yang ditemukan Ibrahim ini namanya broken link hijacking. Bahasa gampangnya begini: di situs NASA itu ada tautan luar (link eksternal) yang sudah mati atau kedaluwarsa tapi masih nempel di sana.
Nah, kalau link mati itu dibiarkan, penjahat siber yang asli bisa mengambil alih link tersebut buat dipasang malware atau situs judi, yang otomatis bisa merusak reputasi NASA.
Ibrahim melihat celah itu, lalu melaporkannya ke pihak NASA sebelum keduluan dihack orang jahat. Malah dia yang menyelamatkan muka NASA!
Tapi ya namanya juga berhadapan sama lembaga internasional, perjuangan Ibrahim ini ndak langsung mulus kayak jalan tol yang baru diaspal.
Ayah Ibrahim, Pak Aminudin, bercerita kalau proses verifikasinya butuh waktu hampir dua bulan. Namanya juga bocah baru belajar, laporan pertama dan kedua dari Ibrahim sempat ditolak mentah-mentah oleh tim IT NASA karena dianggap ndak valid atau duplikat (sudah pernah dilaporkan orang lain).
Tapi dasar bocah Boyolali punya mental sekuat besi, dia ndak patah arang. Di laporan ketiga yang sudah dia perbaiki, tim NASA langsung melongo, menyatakan laporannya valid, dan mengirimkan sertifikat penghargaan.
Yang bikin kita makin geleng-geleng kepala adalah fakta kalau Ibrahim ini belajar semuanya secara otodidak alias mandiri.
Baca Juga: Hotspot Tembus 415 Titik, Kabut Asap Mulai Selimuti Sampit
Awalnya dia cuma iseng dengerin saran temen-temennya di media sosial buat mendalami dunia cyber security.
Karena tinggal di wilayah pedesaan dengan fasilitas dan akses yang serba terbatas, modal utamanya cuma satu: rajin menonton tutorial di YouTube dan telaten mempraktikkannya lewat Google.
"Kesulitannya itu belum paham materi. Kadang-kadang juga nonton tutorial YouTube," ujar Ibrahim dengan polosnya.
Bisa dibayangkan. Di tengah keterbatasan sinyal atau perangkat di desa, bocah ini bisa memahami materi coding dan hacking tingkat dewa yang mahasiswa kuliahan semester akhir saja kadang masih sering remedial. Luar biasa betul!
Ke depan, Ibrahim punya cita-cita mulia pengin jadi ahli keamanan siber profesional yang bisa ikut kompetisi teknologi internasional.
Sekarang pun, dia sudah mulai mencicil mimpinya dengan rajin membagikan konten edukasi seputar coding di akun Instagram pribadinya. Waduh, kecil-kecil sudah jadi guru siber.
Kisah Ibrahim ini adalah tamparan keras sekaligus inspirasi buat kita semua. Keterbatasan tempat tinggal di desa atau minimnya fasilitas formal itu ternyata ndak bisa memenjarakan isi kepala kalau kita punya tekad sedalam lautan.
YouTube kalau dipakai dengan benar ternyata fungsinya ndak cuma buat nonton video gosip, tapi bisa melahirkan hacker cilik penyelamat NASA dari Boyolali.
Sukses terus buat Ibrahim! Semoga nanti pemerintah pusat atau daerah ndak telat mendeteksi bakat berharga ini. Jangan sampai aset bangsa yang jenius begini malah dipinang dan digaji gede sama negara luar duluan gara-gara di negeri sendiri ndak dirawat. (*)