Oleh Frans Sane Lake *
Beberapa minggu terakhir, media sosial Timor Leste dipenuhi sebuah video yang hangat sekaligus mengharukan. Presiden José Ramos-Horta terlihat mencari seorang sahabat lamanya, ada seorang lelaki Dayak dari Kalimantan yang pernah menjadi teman diskusi dan penopang hidupnya pada masa pengasingan di Paris awal 1980-an.
Ketika melihat video itu, saya langsung terdiam. Saya mengenal orang itu. Namanya Kusni Sulang. Beliau temanku sejak 15 tahun lalu di kota cantik Palangkaraya.
Tapi sebenarnya sudah lama saya mengenalnya. Awalnya bukan melalui politik, melainkan melalui sastra. Dulu di awal tahun 2000an kami pernah berada dalam mailing list “Hitam Putih”, ruang diskusi para peminat puisi, kebudayaan dan pemikiran kritis. Lama sekali saya melupakan ruang itu, sampai kemudian sekitar tahun 2010 kami bertemu langsung di Kalimantan Tengah dalam sebuah diskusi buku budaya Dayak. Saya menjadi salah satu pembedah buku saat itu. Perlahan saya mengenal Kusni dan istrinya lebih dekat. Kami berkawan baik. Banyak kisah hidupnya saya dengar langsung, sebagian saya rekam dalam ingatan. Tentang pengasingan, sastra, perjuangan, identitas Dayak dan dunia yang berubah terlalu cepat.
Kusni tidak pernah hidup sebagai tokoh besar. Ia tinggal sederhana di Palangka Raya seperti warga biasa lainnya. Kami kadang bertemu dalam diskusi budaya, advokasi masyarakat adat, atau percakapan kecil tentang sastra dan sejarah. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, meski tinggal di kota yang sama, kami sempat lama tidak berkontak.
Lalu tiba-tiba media sosial mempertemukan kembali sejarah dengan ingatan. Dalam unggahan Instagram-nya, Ramos Horta menulis bahwa ia pertama kali bertemu Kusni di Paris, ketika Kusni bekerja di “Restaurant Indonesie”. Ia menyebut Kusni sebagai salah satu pendukung setia perjuangan rakyat Timor Leste. Bahkan, menurut Ramos, Kusni berkali-kali membantunya dan pernah membuka rumahnya sendiri ketika ia membutuhkan tempat tinggal.
Kalimat itu sangat kuat. Di tengah dunia politik yang sering penuh kepentingan, kita menemukan fragmen persahabatan yang begitu manusiawi, dimana seorang lelaki Dayak dari Kalimantan membuka rumahnya bagi seorang pejuang bangsa yang belum memiliki negara.
Kita sering membayangkan sejarah lahir di meja diplomasi, ruang sidang PBB, atau markas gerilya. Padahal kadang sejarah justru tumbuh dari ruang-ruang sederhana: restoran kecil, kamar sempit pengasingan, kopi murah, percakapan sastra, dan solidaritas orang-orang yang hidup jauh dari tanah airnya.
Paris pada masa itu bukan hanya kota romantic, tapi juga kota pengasingan. Banyak aktivis politik, seniman, intelektual dan pelarian politik Asia-Afrika bertemu di sana. Di tengah dinginnya Eropa, mereka membangun jejaring solidaritas lintas bangsa. Dan di salah satu sudut kota itu, seorang Dayak dari Kalimantan dan seorang pejuang Timor Leste membangun persahabatan.
Yang menarik, hubungan mereka ternyata tidak hanya politik, tetapi juga sastra. Dalam unggahannya, Ramos Horta menyebut Kusni sebagai penyair berbakat yang banyak menulis puisi tentang Timor Leste, tentang Nicolau Lobato, Fretilin, Xanana Gusmao, bahkan tentang Ramos Horta sendiri.
Di sini kita melihat sesuatu yang mulai jarang ditemukan hari ini, dimana puisi sebagai bentuk solidaritas politik. Sastra tidak hanya lahir dari estetika, tetapi juga dari keberpihakan kemanusiaan. Dan puisi bisa menjadi rumah bagi bangsa yang sedang terluka.
Mungkin itu sebabnya kisah ini terasa begitu emosional. Ia bukan nostalgia kosong, melainkan perjumpaan kembali antara sejarah, persahabatan dan ingatan moral.
Tahun-tahun berlalu. Timor Leste akhirnya merdeka. Ramos Horta menjadi penerima Nobel Perdamaian dan Presiden negara. Xanana Gusmão menjadi salah satu figur paling penting dalam sejarah Asia Tenggara modern.
Sementara Kusni kembali ke Indonesia, menyelesaikan pendidikan doktoralnya, lalu pulang bekerja bersama komunitasnya di Kalimantan.
Ia tidak menjadi selebritas politik. Tidak muncul dalam buku sejarah resmi Indonesia. Juga tidak hidup di pusat kekuasaan.
Tetapi rupanya Ramos Horta tidak pernah melupakannya. Melalui media sosial, Presiden Timor Leste itu akhirnya berhasil menemukan kembali sahabat lamanya di Palangka Raya. Kusni lalu diundang secara khusus ke Dili untuk menjadi tamu dalam “President Horta Show”, duduk satu ruang bersama Ramos Horta, dan menerima penghargaan kehormatan dari negara Timor Leste.
Momen pelukan mereka di Dili terasa jauh melampaui seremoni kenegaraan. Itu seperti pelukan dua orang yang pernah saling menjaga ketika dunia belum berpihak pada mereka.
Ada sesuatu yang sangat langka di sana, yakni kesetiaan pada ingatan. Di zaman ketika manusia mudah dilupakan dan relasi sosial sering diukur oleh manfaat politik, Ramos Horta justru memperlihatkan bahwa sejarah juga dibangun oleh rasa terima kasih.
Bahwa sebuah bangsa tidak lahir sendirian. Selalu ada tangan-tangan sunyi yang membantu menopangnya, yakni orang yang membuka rumah, menjaga percakapan, menulis puisi atau sekadar menemani malam-malam pengasingan agar harapan tidak padam.
Kisah Kusni Sulang dan Ramos Horta memperlihatkan bahwa solidaritas sejati sering kali melampaui batas negara, identitas, bahkan sejarah resmi. Ia lahir dari perjumpaan antarmanusia yang percaya bahwa martabat dan kebebasan harus dibela bersama.
Dan mungkin memang tidak semua orang yang membantu mengubah sejarah akan masuk buku pelajaran.
Sebagian hanya hidup sederhana di kota kecil seperti Palangka Raya, menulis puisi, berdiskusi budaya, lalu suatu hari dipanggil kembali oleh sejarah melalui pelukan hangat seorang Presiden di Dili.
* Sani Lake adalah pegiat JPIC Kalimantan, agroekologi, masyarakat adat & penikmat sastra di Kalimantan
Editor : Heru Prayitno