Oleh: Sukardi Gau* | Editor: Andriani SJ Kusni
Pada akhir tahun 1995, saya pernah menyusuri jalur sungai dari Banjarmasin menuju Palangka Raya. Perjalanan dimulai dari kawasan depan Masjid Raya Sabilal Muhtadin di Banjarmasin menggunakan transportasi air berupa speedboat atau yang saat itu lebih sering disebut taksi air. Moda transportasi sungai seperti itulah yang menjadi urat nadi utama penghubung Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Jalan lintas darat belum terbuka seperti sekarang. Sungai menjadi jalur utama yang mempertemukan kampung, pasar, dermaga kecil, dan kehidupan masyarakat di sepanjang bantaran.
Sebagaimana lazimnya, suasana sungai sudah ramai sejak pagi hari. Jukung dan kapal kecil hilir mudik membawa penumpang serta barang kebutuhan masyarakat. Dari kawasan Sungai Martapura di Banjarmasin, perjalanan kemudian terhubung ke aliran Sungai Barito yang lebar dan sibuk oleh aktivitas perdagangan air.
Perjalanan menuju Palangka Raya ditempuh hampir seharian dan baru tiba pada sore hari di pelabuhan Palangka Raya, sekitar kawasan Flamboyan. Di sepanjang perjalanan, kapal melewati kawasan Marabahan, wilayah Kuala Kapuas, hingga daerah Pulang Pisau melalui jalur anjir yang menjadi penghubung antarsungai antara Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Dari sana terlihat hamparan rawa gambut, rumah-rumah kayu di tepian air, lanting milik warga, serta perahu-perahu kecil yang menjadi alat transportasi utama masyarakat saat itu.
Sesekali tampak aktivitas pasar kecil di tepian sungai, anak-anak mandi di sungai, dan warga yang memanfaatkan air untuk kebutuhan sehari-hari. Perjalanan itu memperlihatkan bahwa sungai pada masa itu benar-benar menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Kalimantan.
Sungai sebagai Ruang Bahasa
Jujur saja, perjalanan itu memberi kesan mendalam. Di beberapa persinggahan terdengar beragam bahasa daerah digunakan secara alami dalam percakapan sehari-hari. Bahasa Banjar, Ngaju, Bakumpai, dan berbagai tutur lokal lainnya hidup berdampingan mengikuti aliran sungai. Dari perjalanan itulah, saya memahami bahwa sungai dan bahasa ibu memiliki hubungan yang sangat erat dalam kehidupan masyarakat Kalimantan.
Di Kalimantan, sungai bukan sekadar bentang alam. Sungai adalah jalan kehidupan, ruang perjumpaan, sumber pangan, jalur perdagangan, hingga tempat lahirnya kebudayaan dan bahasa. Dari Sungai Barito, Kahayan, Kapuas, Katingan, Mentaya, hingga Arut, denyut kehidupan masyarakat tumbuh bersama arus air yang menghubungkan kampung-kampung di pedalaman dengan kota-kota di tepian. Di sepanjang sungai itulah bahasa ibu diwariskan, dilafalkan, dan dipertahankan lintas generasi.
Anak-anak di bantaran sungai dahulu tumbuh dengan mendengar bahasa ibunya sejak pagi. Mereka mendengar sapaan orang tua ketika menyiapkan jukung, percakapan di lanting, pantun di pasar terapung, hingga nasihat para tetua kampung ketika malam datang. Bahasa Banjar, Ngaju, Maanyan, Bakumpai, Ot Danum, dan berbagai bahasa Dayak lainnya hidup dalam ruang keseharian yang sangat dekat dengan sungai. Bahasa-bahasa itu bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga pengetahuan tentang alam.
Dalam bahasa daerah Kalimantan, banyak istilah yang tidak mudah diterjemahkan ke bahasa lain. Ada penamaan khusus untuk jenis arus sungai, musim ikan, hutan rawa, hingga cara membaca tanda-tanda alam. Masyarakat mengenal berbagai jenis ikan sungai seperti jelawat, baung, patin, toman, lais, hingga haruan. Mereka juga mengenali tumbuhan riparian dan ekosistem rawa gambut yang menjadi penyangga kehidupan. Semua pengetahuan itu diwariskan melalui bahasa ibu.
Karena itulah, hilangnya bahasa ibu sesungguhnya bukan hanya hilangnya kata-kata. Yang ikut hilang adalah memori kolektif tentang sungai dan cara hidup masyarakat Kalimantan. Ketika generasi muda tidak lagi fasih menggunakan bahasa daerahnya, secara perlahan mereka juga kehilangan kedekatan dengan ruang budaya yang membesarkannya.
Hari ini, tantangan itu semakin nyata. Banyak anak di perkotaan Kalimantan tumbuh lebih akrab dengan bahasa media sosial dibanding bahasa ibunya sendiri. Percakapan di rumah mulai bergeser sepenuhnya ke bahasa Indonesia. Di sisi lain, sungai-sungai kita juga menghadapi tekanan besar. Pencemaran, sedimentasi, sampah plastik, kerusakan daerah aliran sungai, dan eksploitasi lingkungan menyebabkan kualitas air menurun.
Di Kalimantan Tengah, misalnya, sejumlah daerah aliran sungai menghadapi persoalan kekeruhan dan pencemaran akibat aktivitas manusia. Sungai Barito yang sejak dahulu menjadi nadi transportasi dan perdagangan kini juga menghadapi tantangan ekologis yang tidak ringan. Padahal sungai ini bukan hanya urusan ekonomi, tetapi juga identitas budaya masyarakat bantaran.
Menjaga Sungai, Menjaga Bahasa Ibu
Kita perlu menyadari bahwa menjaga bahasa ibu dan menjaga sungai sesungguhnya adalah perjuangan yang saling berkaitan. Bahasa tumbuh dari lingkungan hidup. Jika sungai rusak, ruang hidup budaya ikut menyempit. Sebaliknya, tatkala bahasa ibu melemah, hubungan emosional masyarakat dengan sungai juga dapat ikut berkurang.
Dalam banyak tradisi Dayak, sungai dipandang bukan sekadar sumber daya, melainkan bagian dari kehidupan yang harus dihormati. Ada nilai gotong royong, keseimbangan, dan rasa hormat terhadap alam yang diwariskan melalui cerita rakyat, mantra, syair, dan ungkapan adat. Filosofi seperti handep hapakat atau semangat kebersamaan menjadi pengingat bahwa manusia hidup berdampingan dengan alam, bukan menguasainya secara serampangan.
Karena itu, upaya pelestarian bahasa ibu tidak cukup hanya melalui peringatan seremonial. Bahasa daerah perlu dihidupkan kembali dalam keluarga, sekolah, ruang publik, dan media lokal. Anak-anak perlu mendengar cerita rakyat dalam bahasa daerahnya, menyanyikan lagu-lagu tradisional, dan memahami istilah-istilah lokal tentang sungai serta hutan. Media massa lokal di Kalimantan juga dapat mengambil peran penting dengan memberi ruang bagi tulisan berbahasa daerah, cerita rakyat, atau rubrik budaya sungai. Radio komunitas, sanggar seni, dan sekolah dapat menjadi tempat tumbuhnya kembali kebanggaan terhadap bahasa ibu.
Di sisi lain, kepedulian terhadap sungai harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Mengurangi sampah plastik, menjaga kebersihan bantaran, memperkuat edukasi lingkungan, serta mendorong pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan adalah bagian dari tanggung jawab bersama. Sungai yang sehat akan menjaga kehidupan masyarakat, termasuk kebudayaan dan bahasa yang hidup di sekitarnya.
Kalimantan sejak dahulu dikenal sebagai pulau seribu sungai. Julukan itu bukan hanya penanda geografis, tetapi juga penanda peradaban. Di tepi sungai-sungai itulah lahir cerita, lagu, pantun, dan bahasa ibu yang membentuk identitas masyarakat. Jadi sebetulnya menjaga bahasa ibu berarti menjaga akar kebudayaan kita. Karena itu, menjaga sungai berarti menjaga ruang hidup tempat kebudayaan itu tumbuh. Jika keduanya hilang, yang tersisa hanyalah nama tanpa makna.
Sudah saatnya masyarakat Kalimantan kembali menempatkan bahasa ibu dan sungai sebagai warisan bersama yang harus dijaga dan dirawat. Sebab, dari arus sungai dan dari tutur bahasa ibulah kita belajar mengenali jati diri kita sebenarnya. Apa pun itu, hal ini menjadi pengalaman yang sangat mengagumkan bagi saya karena masih sempat merasakan suasana kebahasaan masyarakat Kalimantan pada puluhan tahun silam.*****
*Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah. Alumni Institute of The Malay World and Civilization, Universiti Kebangsaan Malaysia
Editor : Heru Prayitno