Oleh Dr. Setia Budhi* | Editor Andriani SJ Kusni
Di ruang-ruang sidang internasional dan pusat ekonomi dunia, narasi hari ini didominasi oleh kecemasan: krisis energi yang menghantui, fluktuasi harga pangan yang liar, hingga ancaman perubahan iklim yang kian nyata. Dunia seolah sedang tersandera oleh ketergantungan pada rantai pasok global yang rapuh. Namun, jika kita menilik jauh ke pedalaman Kalimantan, khususnya pada masyarakat Dayak di lahan basah, kita akan menemukan sebuah antitesis yang kuat. Di sana, kemandirian bukan sekadar jargon politik, melainkan napas hidup yang teruji zaman.
Masyarakat Dayak telah lama mempraktikkan sebuah model adaptasi yang luar biasa mandiri. Mereka membangun benteng ketahanan yang tidak difondasikan pada kekuatan modal, melainkan pada keharmonisan dengan ekosistem lokal. Inilah sebuah prototipe kehidupan masa depan yang justru berakar pada kearifan masa lalu.
Energi tanpa Sandera Fosil
Saat banyak negara limbung akibat ketergantungan pada energi fosil, masyarakat ini telah memutus rantai ketergantungan tersebut. Tanpa perlu antre tabung LPG atau pusing dengan kenaikan harga BBM yang kerap memicu inflasi, mereka berdaulat melalui alam.
Pada waktunya nanti, aliran sungai dan air terjun yang tak pernah berhenti dikonversi secara cerdik menjadi energi penggerak kincir air, mikrohidro dimanfaatkan sebagai sumber energi mekanis. Untuk kebutuhan panas domestik, mereka tidak membakar hutan, melainkan memunguti ranting-ranting pohon yang jatuh secara berkelanjutan. Ini adalah praktik ekonomi sirkular yang sejati mengambil apa yang disediakan alam tanpa merusaknya.
Kedaulatan Pangan: Melampaui Dominasi Beras
Sektor pangan menjadi pilar paling krusial dalam resiliensi ini. Di saat dunia mencemaskan stok gandum dan beras, masyarakat Dayak justru merayakan keberagaman jenis beras. Mereka tidak membiarkan nasib perutnya digantungkan pada satu jenis biji-bijian saja. Selain beras, sumber karbohidrat mereka melimpah dan tangguh terhadap kondisi tanah asam maupun genangan air. Ubi, singkong, dan sagu menjadi cadangan energi yang selalu tersedia di alam. Umbut rotan, kelapa dan sagu misalnya, adalah “Bank Pangan” alami yang tak akan basi sebelum dipanen, memberikan rasa aman di tengah ketidakpastian musim.
Kebutuhan protein pun terpenuhi secara cerdas dari kekayaan biodiversitas lokal. Mereka memanfaatkan aliran sungai dan rawa untuk mendapatkan ikan sungai yang melimpah, dengan jenis ikan yang beraneka ragam seperti lais, tapah, baung, sanggiringan, udang galah, saluang, tabiring, riu, haruan, toman, sepat, papuyu dan ikan air tawar yang lain seperti jelawat. Tak jarang hewan buruan dari hutan yang dikelola secara adat menjadi pelengkap nutrisi yang didapat secara mandiri. Di sini, protein bukan barang mewah yang harus dibeli dalam kemasan plastik di supermarket, melainkan anugerah yang disediakan oleh ekosistem yang terjaga.
Kedaulatan pangan Dayak tidak berhenti pada apa yang bisa dipanen hari ini, tetapi juga pada bagaimana menyimpannya untuk hari esok. Jauh sebelum dunia mengenal istilah ketersediaan cadangan pangan (food security), masyarakat Dayak telah menjadi ahli dalam teknologi fermentasi. Mereka mengolah ikan dan daging melalui proses fermentasi (seperti wadi atau ikan asin) sebagai cadangan protein yang mampu bertahan lama tanpa bantuan mesin pendingin (no food-freezer).
Kecerdasan ini juga terlihat dari cara mereka mengelola limpahan buah musiman. Daging buah durian yang melimpah tidak dibiarkan terbuang, melainkan difermentasi menjadi tempoyak yang kaya akan probiotik. Bahkan, bagian yang dianggap limbah oleh industri modern, seperti kulit buah cempedak, diolah menjadi mandai—sebuah sumber nutrisi unik yang menjadi bukti betapa efisiennya mereka dalam mengelola alam.
Dapur yang Merdeka dan Vitamin dari Hutan
Kemandirian ini merambah hingga ke penggunaan minyak goreng. Ketika masyarakat perkotaan menjerit akibat kelangkaan minyak sawit pabrikan, masyarakat Dayak tetap tenang. Kelimpahan pohon kelapa di lahan basah diolah menjadi minyak goreng mandiri.
Lengkap dengan asupan vitamin yang melimpah dari buah-buahan di kebun dan hutan, pola makan mereka adalah representasi dari kemewahan alami. Buah-buahan tropis yang tumbuh liar maupun ditanam dalam sistem agroforestry memastikan kebutuhan nutrisi mikro terpenuhi tanpa harus bergantung pada suplemen pabrikan. Dengan semboyan “no oil factory, no LPG, no food-freezer”, mereka telah memproteksi diri dari “permainan” harga global.
Pesan dari Pedalaman
Apa yang ditunjukkan oleh masyarakat Dayak adalah sebuah ekosistem tertutup yang tangguh. Kebutuhan dasar (basic needs) manusia terpenuhi secara lokal tanpa harus terombang-ambing oleh fluktuasi global. Pola hidup yang terintegrasi dengan alam ini menciptakan sebuah sistem pertahanan yang tidak mengenal istilah “impor pangan” atau “kerawanan energi”.
Bagi Orang Dayak, sangatlah jelas bahwa ketahanan sejati tidak datang dari kemampuan untuk membeli, melainkan dari kemampuan untuk mengelola apa yang ada di sekitar ekososial dan budaya. Masyarakat Dayak telah memberi kita cetak biru tentang bagaimana cara bertahan hidup dengan martabat—tanpa harus menjadi budak dari rantai pasok global yang kian rapuh.[]
Tepian Sungai Barito, 9 April 2026
*Penulis adalah seorang antropolog asal Dayak Bakumpai, mengajar di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Pengasuh rubrik ini mengucapkan terima kasih atas partisipasi dan selalu mengundang para penulis, akademisi dan para pembaca untuk turut menyampaikan buah pikiran melalui rubrik Halaman Budaya dan rubrik Halaman Masyarakat Adat di Harian ini.
Editor : Heru Prayitno