Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Manusia dan Alam dalam Cerpen “Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon"

Admin • Sabtu, 25 April 2026 | 14:11 WIB
ilustrasi/gemini generated image
ilustrasi/gemini generated image

  

Oleh Natasya Atmim* | Editor Andriani SJ Kusni

 Persoalan degradasi kualitas lingkungan hidup hingga saat ini belum menemukan titik terang penyelesaian. Justru krisis ekologi semakin mencengkeram perhatian dunia. Alam selalu menjadi pihak yang dieksploitasi demi memenuhi berbagai kebutuhan manusia yang justru membuat kerusakan ekologi yang mengancam keberlangsungan hidup manusia sendiri.

Dalam cerpen “Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon”, karya sastra telah memberikan kesadaran budaya menghormati alam dan lingkungan, melalui dua tradisi yang ditonjolkan; passiliran dan rampanan kapa dalam adat masyarakat Tana Toraja. Pada passilirian, ada keyakinan tentang surga dan ibu pohon melalui pohon tarra. Pada rampanan kapa, ada kebudayaan yang disimbolkan melalui kerbau dan ada simbol kasta manusia melalui golongan tomakaka, tobuda, dan tokapua. Faisal Oddang memperlihatkan bagaimana manusia bergantung pada banyak sumber kehidupan yang telah tersedia di alam, sehingga alam yang menghidupi manusia.

Tulisan ini mengangkat cerpen karya Faisal Oddang, seorang pengarang dari Makassar, berjudul “Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon” yang akan dikupas melalui perspektif ekologi sastra. Cerpen ini menjadi pemenang pertama dalam Cerpen Pilihan Kompas tahun 2014.  Berlatar belakang budaya Toraja, cerpen tersebut menceritakan seorang bayi dikubur dalam pohon tarra dan menjadi objek pariwisata, tetapi sang ayah sendiri yang menjual tulang-belulang bayi itu kepada turis karena desakan masalah ekonomi.

Sejak pertama memuat cerpen tahun 1967, Kompas beranggapan bahwa menulis cerpen tak hanya memenuhi hasrat manusia untuk bercerita, tetapi juga memberi wadah akan kepentingan latihan intelektual sejak dini. Sangat menjadi harapan besar di kemudian hari lahir generasi yang mahir bernarasi, juga cakap dalam kemampuan olah pikir. Menilik karya sastra menggunakan perspektif ekologi diharapkan dapat membuka pikiran masyarakat untuk peka terhadap alam dan mengetahui perilaku-perilaku yang mengakibatkan degradasi alam tidak hanya berasal dari perbuatan yang secara gamblang terlihat buruk, tetapi juga bisa berupa tradisi yang telah diajarkan turun-menurun dalam sebuah kelompok masyarakat.

Dalam kaitannya dengan kajian sastra, istilah ekologi dipakai dalam pengertian beragam. Pertama, ekologi yang dipakai dalam pengertian yang dibatasi dalam konteks ekologi alam. Kajian ekologi dalam pengertian pertama ini juga dikenal dalam dua ragam, yaitu kajian ekologi dengan menekankan aspek alam sebagai inspirasi karya sastra dan kajian ekologi yang menekankan pembelaan atau advokasi terhadap kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh perbuatan manusia. Kedua, ekologi yang dipakai dalam pengertian ekologi budaya yang ditentukan oleh pola hidup dan perbedaaan karakteristik wilayah (Endraswara, 2016: 13). Degradasi alam yang ditampilkan dalam cerpen “Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon” ditunjukkan dalam beberapa peristiwa. Terdapat beberapa aspek yang masuk dalam perhatian perspektif ekologi sastra yaitu ketergantungan manusia pada alam yang menjadi sumber kehidupan.

 

Pohon Tarra

Keberadaan pohon tarra sudah ada sejak ratusan tahun lalu, sama usianya dengan adat passiliran sudah dilakukan oleh nenek moyang Orang Toraja yang menganut kepercayaan Aluk Todolo. Pohon tarra hanya dapat tumbuh dan bisa ditemukan di Desa Kambira, Tana Toraja, Sulawesi Selatan (KSPN Toraja, 2016). Pohon ini dapat tumbuh dengan ukuran yang sangat besar mencapai diameter sekitar 80 hingga 100 cm. Dalam cerpen ini terdapat hubungan sastra dengan alam sebagai sumber kehidupan manusia. Bagi masyarakat Toraja, pohon tarra ini tidak jauh berbeda dengan pohon kelapa. Bukan dari segi bentuk, tapi dari segi pemanfaatan. Buah pohon tarra yang mirip sukun sering digunakan oleh masyarakat Toraja untuk dijadikan sayur. Batangnya kuat dan besar sehingga bisa dijadikan tempat peristirahatan terakhir bagi para bayi yang belum tumbuh gigi. Dalam cerpen ini terdapat upaya pelestarian terhadap pohon tarra untuk selalu dijaga kesuburannya.

“Di Passiliran ini, kendati begitu ringkih, tubuh Indo tidak pernah menolak memeluk anak-anaknya. Di sini, di dalam tubuhnya—bertahun-tahun kami menyusu getah. Menghela usia yang tak lama. Perlahan membiarkan tubuh kami lumat oleh waktu—menyatu dengan tubuh Indo. Lalu kami akan berganti menjadi ibu—makam bagi bayi-bayi yang meninggal di Toraja. Bayi yang belum tumbuh giginya. Sebelum akhirnya kami ke surga” (Oddang, 2019: 47). Faisal Oddang menunjukkan keberadaan pohon tarra dalam adat Toraja sebagai sebuah pemakaman untuk bayi yang meninggal di bawah usia satu tahun. Masyarakat Toraja menyebutnya sebagai Passiliran, kuburan bayi dari pohon tarra. Memang pohon tarra merupakan salah satu pohon yang memiliki banyak getah berwarna putih. Getah berwarna putih ini dipercaya dapat menjadi pengganti ASI. Pohon itu merupakan tempat persinggahan untuk bayi-bayi yang meninggal dunia sebelum menuju surga.

Meskipun tidak menuturkan secara detail dalam cerpen, Faisal Oddang membuat penjelasan lebih detail dalam novel Puya ke Puya yang terbit pada tahun 2015. Mengenai kuburan bayi tersebut, mayat bayi yang dapat disimpan atau dimakamkan di pohon tarra adalah mayat bayi yang usianya belum berusia 6 bulan dan belum tumbuh gigi. Mayat bayi disimpan dan dimasukkan ke dalam pohon tarra yang dilubangi sesuai dengan ukuran badan sang bayi. Meski dalam satu pohon ditempati banyak mayat bayi, namun pohon ini tidak pernah mengeluarkan bau busuk. Hal ini didasari keyakinan bahwa pohon tarra adalah wujud yang menghidupi. Mayat bayi yang dimasukkan ke dalam pohon tarra dengan sendirinya akan menyatu berkat adanya getah pohon tarra yang berwarna putih. Pada kenyataannya setelah 20 tahun, pohon tara akan kembali dalam keadaan bersih dan dapat ditempati mayat bayi lainnya.

“Pagi tidak datang seperti biasa, lambat—lamat-lamat. Hari ini pagi dibangunkan oleh Indo, passiliran gempar. Indo murka. Anak-anaknya ketakutan. Rambut-rambut Indo berguguran. Meranggas satu-satu. Getahnya mengucur deras menjadi air mata.” (Oddang, 2019: 57)

“Indo masih murka. Hampir tumbang tubuhnya lantaran tak dapat memendam dendam. Ia kehilangan anaknya.” (Oddang, 2019: 57)

Setidaknya ada dua konsepsi menarik yang memperkuat bagaimana tradisi Toraja mendidik masyarakatnya hingga menjadi sebuah lingkungan yang menghidupi manusia. Pertama, kepercayaan tentang surga. Menurut kepercayaan Aluk Todolo, kehidupan dan kematian merupakan keberlanjutan kehidupan dari alam fana ke alam arwah atau yang disebut dengan Puya. Kehidupan dan kematian tidak memiliki batas yang jelas. Kematian hanyalah merupakan perubahan bentuk, alam dan wujud. Kehidupan merupakan jembatan emas untuk sampai ke alam gaib, yaitu arwah tetap dapat mengadakan hubungan dengan kehidupan manusia di alam nyata. Sementara itu, semua yang dilakukan di alam fana merupakan refleksi kehidupan di surga. Konsepsi ini disimbolkan dengan beberapa bentuk pengorbanan di setiap tahapan upacara kematian, misalnya berupa penyediaan bekal kubur. Kesempurnaan tahapan dalam upacara kematian seseorang dan status sosialnya ketika hidup, akan menentukan dimana posisi arwahnya itu berada. Kedua, tentang ibu pohon. Tidak hanya sekedar menjadi tempat penguburan, pohon tarra juga dianggap sebagai Indo (Ibu) dari mayat-mayat bayi yang dikuburkan di sana. Seperti yang disebutkan sebelumnya, pohon tarra yang mengeluarkan getah berwarna putih dianggap sebagai asi layaknya seorang ibu. Pengarang menciptakan dunia baru yang menceritakan bagaimana Indo (pohon tarra) berbincang hingga melindungi bayi-bayinya. Saat tokoh aku dicuri oleh Ambe dari Runduma untuk dijual, Indo pohon tarra dilukiskan begitu merasakan emosi hingga daun-daunnya berguguran dan getahnya mengucur deras seperti air mata. Sebagaimana emosi seorang ibu yang anaknya dicuri dari pangkuannya. Kepercayaan ini juga sejalan dengan posisi pohon yang dianggap sebagai sumber kehidupan. Pohon yang tumbuh di bumi menjadi sumber kehidupan.

 

Rampanan Kapa

Rampanan kapa merupakan pesta adat pernikahan dalam Toraja. Penulis menjelaskan bagaimana sebuah tradisi justru menjebloskan manusia ke dalam jurang utang dan keborosan saat manusia justru ingin belajar membina lembar kehidupan baru dalam pernikahan. Demi mengikuti tradisi yang tak pandang kondisi ekonomi siapa pun masyarakat Toraja, sebuah upacara pernikahan diawali dengan seabrek utang demi melanjutkan sebuah tradisi turun-temurun.

“Ambemu tokapua, sama seperti indomu, tak ayal, rampanan kapa harus dihelat mewah di tongkonan mereka. Tak boleh tidak. Kalau lancang menghindar, tulah akan menimpa. Katamu, kematianmu berawal dari sana.” (Oddang, 2019: 53)

“Mereka tak pernah akur setelah rahasia pernikahannya terbongkar. Ambemu menanggung borok utang. Sebagai kaum bangsawan, ambemu wajib membayar dengan dua belas kerbau dewasa untuk menyunting indomu. Jadilah ia memungut uang di kiri-kanan, tentu dengan bunga yang tinggi. Setelah lebih setahun pernikahan mereka utang ratusan juta itu belum juga dapat ambemu lunasi. Jadi ia sering marah.” (Oddang, 2019: 53)

Ada dua simbol yang setidaknya muncul dalam gambaran pengarang terhadap tradisi pesta pernikahan adat Toraja. Pertama, simbol kasta ditunjukan oleh kebangsawanan yang dimiliki keluarga Runduma. Kedudukan di masyarakat Tana Toraja mempengaruhi seseorang dalam upacara pemakaman yang akan digelar. Secara singkat, ambenya Runduma berasal dari kaum bangsawan sehingga menjadikannya seorang yang berkasta lebih tinggi dari masyarakat yang lain. Oleh karena itu, rampanan kapa harus digelar semeriah mungkin. Kedua, kerbau juga merupakan simbol dari kebudayaan upacara adat di Toraja. Kerbau merupakan hal terpenting di masyarakat Tana Toraja. Dalam upacara rambu solo untuk pemakaman, setiap ada yang meninggal, masyarakat pasti akan memotong kerbau yang dipercayai sebagai kendaraan menuju puya (surga) dan bertemu dengan para leluhur. Untuk pesta pernikahan, pihak lelaki yang berasal dari kaum bangsawan harus menyunting perempuannya dengan dua belas kerbau dewasa.

Persoalan degradasi kualitas lingkungan hidup hingga saat ini belum menemukan titik terang penyelesaian. Justru krisis ekologi semakin mencengkeram perhatian dunia. Alam selalu menjadi pihak yang dieksploitasi demi memenuhi berbagai kebutuhan manusia yang justru membuat kerusakan ekologis yang mengancam keberlangsungan manusia sendiri; sebuah perilaku yang menghasilkan perasaan ambivalen.

Meskipun cerpen menjadi bentuk seni kreatif dan pemikiran kritis yang tampak lebih disepelekan dari pada penelitian sains atau kebijakan pemerintah, karya sastra telah memberikan kesadaran budaya mencintai lingkungan dan menyentuh kepekaan hati masyarakat terhadap alam. Karya sastra dapat menjadi barometer budaya dan berperan sebagai agen perubahan.

Dalam cerpen “Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon”, meskipun kritik sosial dilontarkan dengan apik oleh pengarang, cerpen ini tetap bersifat antroposentris dan “tidak hijau”. Terdapat unsur ekologi alam karena pengarang mengaitkan sastra dalam upaya pelestarian dan alam sebagai sumber kehidupan. Alam dirawat untuk memenuhi hasrat kultural dan ekonomi manusia.[]

 

*Penulis tinggal di Palangka Raya, bekerja di Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah

 

Editor : Heru Prayitno
#masyarakat adat #Sahewan Panarung