Heru Prayitno• Sabtu, 21 Februari 2026 | 06:55 WIB
Heru Prayitno Oleh Heru Prayitno, Redaktur Radar Sampit
Peredaran narkotika di Kalimantan Tengah kian mengkhawatirkan. Jalan Lintas Trans Kalimantan, khususnya wilayah Lamandau, seolah menjadi koridor empuk lalu lintas sabu dari Kalimantan Barat menuju berbagai daerah, seperti Sampit, Palangka Raya, bahkan lintas provinsi ke Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.
Rentetan pengungkapan kasus dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan pola yang berulang: jalur yang sama, modus yang beragam, dan aktor lapangan yang silih berganti.
Sebagai contoh, pada 17 April 2025, 1 kilogram sabu dari Pontianak hendak dikirim ke Sampit disergap aparat di Jalan Trans Kalimantan Kilometer 18 Nanga Bulik. Kurang dari sebulan berselang, 6 Mei 2025, 1,1 kilogram sabu dibawa menggunakan mobil Kijang Innova dengan tujuan Sampit.
Memasuki pertengahan hingga akhir 2025, intensitas pengungkapan meningkat. Tanggal 12 Agustus 2025, sabu seberat 2 kilogram disita di Desa Cuhai, Lamandau.
Pada pertengahan September 2025, aparat menyita 46,7 kilogram sabu dari dalam mobil Daihatsu Sigra. Jumlah fantastis yang diduga hendak diedarkan lintas provinsi dari Kalimantan Barat menuju Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.
Pada 17 November 2025, sabu lebih dari 1 kilogram disamarkan dalam bungkusan menyerupai kado ulang tahun, dengan iming-iming upah Rp15 juta bagi kurir.
Kasus terbaru, Polres Lamandau bersama Polda Kalteng menggagalkan penyelundupan lebih dari 35 kilogram sabu dan sekitar 15 ribu butir ekstasi yang diangkut menggunakan Toyota Raize di Jalan Lintas Trans Kalimantan, Kecamatan Delang, Kabupaten Lamandau, pada 10 Februari 2026.
Kita patut memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada jajaran kepolisian atas pengungkapan kasus-kasus besar tersebut.
Penyitaan puluhan kilogram sabu jelas menyelamatkan ribuan generasi muda dari ancaman kehancuran.
Ini menunjukkan kesigapan aparat dalam membaca pola dan memperketat pengawasan jalur rawan.
Namun, apresiasi saja tidak cukup. Fakta yang tak bisa diabaikan adalah bahwa banyak kasus yang terungkap berhenti pada level kurir. Mereka memang bagian dari mata rantai kejahatan, tetapi bukan pengendali utama.
Para pemesan, bandar besar, dan aktor intelektual di balik jaringan lintas provinsi ini seolah tetap berada di balik bayang-bayang.
Jika pola pengiriman terus berulang di titik-titik yang sama, ini mengindikasikan bahwa jaringan di hulu belum benar-benar diputus.
Selama bandar besar dan pemodal utama tidak tersentuh, penangkapan kurir hanya akan menjadi kerja tambal sulam.
Kurir bisa ditangkap hari ini, tetapi besok akan muncul kurir baru dengan iming-iming bayaran cepat di tengah tekanan ekonomi.
Karena itu, dibutuhkan langkah strategis dan menyeluruh.
Kepolisian perlu memperkuat pendekatan follow the money. Penelusuran aliran dana, kerja sama dengan PPATK, serta pembongkaran jaringan komunikasi digital harus menjadi prioritas.
Penanganan tidak boleh berhenti pada barang bukti fisik dan pelaku lapangan, melainkan harus menembus struktur komando.
Kedua, pemerintah daerah di Kalimantan Tengah harus lebih proaktif. Pencegahan tidak cukup dengan sosialisasi seremonial.
Dibutuhkan program berkelanjutan di sekolah, kampus, dan komunitas, termasuk penguatan ekonomi masyarakat di wilayah rawan agar warga tidak mudah tergiur menjadi kurir.
Jalur Trans Kalimantan sebagai urat nadi logistik harus dilengkapi dengan pengawasan terpadu berbasis teknologi.
Ketiga, masyarakat memegang peran krusial. Keberanian melapor, kepedulian terhadap lingkungan sekitar, serta pengawasan sosial menjadi benteng pertama.
Peredaran narkotika tidak mungkin berlangsung tanpa celah sosial. Ketika masyarakat bersikap apatis, jaringan akan tumbuh subur.
Peredaran sabu di Kalimantan Tengah bukan sekadar persoalan hukum, melainkan ancaman serius bagi masa depan daerah.
Jalur yang sama, modus yang terus berkembang, dan iming-iming uang cepat menjadi kombinasi berbahaya. Penangkapan besar harus menjadi momentum untuk naik kelas dalam strategi pemberantasan.
Sudah saatnya perang melawan narkotika tidak hanya berakhir pada headline penangkapan kurir, tetapi benar-benar menyentuh dan melumpuhkan aktor utama di balik layar. Tanpa itu, kita hanya memotong ranting, sementara akarnya tetap menghujam kuat di tanah Bumi Tambun Bungai. (***)