radarsampitjawapos.com- Persaingan papan atas Super League 2025/2026 makin memanas. Meski tertinggal sembilan poin dari Persib Bandung, Persija Jakarta menegaskan belum akan menyerah dalam perburuan gelar juara.
Optimisme itu muncul meski Macan Kemayoran baru saja menelan hasil pahit. Bertandang ke markas Bhayangkara Presisi Lampung FC di Stadion Sumpah Pemuda, Bandar Lampung, mereka takluk dengan skor 1-3 pada pekan ke-26.
Hasil tersebut terasa menyakitkan karena Persija sebenarnya tampil menjanjikan sejak awal laga. Bahkan, mereka mampu mencetak gol cepat saat pertandingan baru berjalan satu menit.
Umpan lambung akurat dari Allano Lima sukses dimanfaatkan Rayhan Hannan. Sundulan tajamnya membuat Persija Jakarta unggul lebih dulu dan sempat mengendalikan jalannya pertandingan.
Keunggulan cepat itu sempat memberi harapan besar. Permainan rapi dan penguasaan bola yang tenang membuat Persija Jakarta terlihat percaya diri menekan tuan rumah.
Namun, situasi berubah menjelang akhir babak pertama. Bhayangkara Presisi Lampung FC mampu menyamakan kedudukan melalui Moussa Sidibe pada menit ke-28.
Gol tersebut menjadi titik balik bagi jalannya pertandingan. Skor 1-1 bertahan hingga turun minum, sekaligus mengubah momentum yang sebelumnya dikuasai tim tamu.
Baca Juga: Persebaya Surabaya Pimpin 5 Tim Denda Terbesar di Super League 2025/2026
Memasuki babak kedua, tekanan terhadap Persija Jakarta semakin berat. Mereka harus bermain dengan 10 orang setelah Jordi Amat menerima kartu kuning kedua.
Kondisi ini jelas memengaruhi keseimbangan permainan. Kehilangan satu pemain membuat ruang di lini pertahanan semakin terbuka dan sulit dikontrol.
Meski begitu, Persija Jakarta sempat menunjukkan mentalitas kuat. Dalam kondisi kalah jumlah pemain, mereka justru mampu kembali unggul pada menit ke-63.
Gol tersebut lahir dari aksi Fabio Calonego melalui tendangan bebas indah. Bola meluncur mulus tanpa bisa dijangkau kiper lawan, membuat skor berubah menjadi 2-1.
Sayangnya, keunggulan itu kembali tak bertahan lama. Bhayangkara Presisi Lampung FC berhasil bangkit dan memanfaatkan situasi keunggulan jumlah pemain.
Dendy Sulistyawan mencetak gol penyama kedudukan pada menit ke-86 lewat tendangan bebas. Momentum pun sepenuhnya berbalik ke pihak tuan rumah.
Drama berlanjut di masa tambahan waktu. Moussa Sidibe kembali mencatatkan namanya di papan skor pada menit 90+3’, memastikan kemenangan 3-1 bagi tim tuan rumah.
Kekalahan ini membuat langkah Persija Jakarta semakin berat dalam perburuan gelar juara.
Tak hanya itu, posisi Persija Jakarta juga terus ditempel ketat oleh tim-tim di bawahnya. Konsistensi menjadi pekerjaan rumah utama jika ingin tetap bersaing hingga akhir musim.
Pelatih Mauricio tak menutupi rasa kecewanya usai pertandingan. Ia menyoroti perubahan performa timnya setelah unggul lebih dulu yang justru berujung petaka.
“Kami memulai pertandingan sesuai dengan apa yang kami rencanakan. Kami sangat tenang di dalam penguasaan bola, kami tahu di mana bisa menemukan ruang untuk sampai ke gawang lawan. Kami berhasil mencetak gol dan masih ada beberapa peluang lagi untuk menyelesaikan di gawang lawan."
“Apa yang seharusnya memberikan kami semangat dan motivasi, malah membawa kekecewaan. Kami tiba-tiba berhenti bermain, kami mulai memberikan ruang di lini pertahanan yang tidak seharusnya diberikan, sampai kita kemasukan gol dari bola liar di dalam kotak penalti,” ucapnya.
Mauricio juga menegaskan kartu merah menjadi titik krusial yang mengubah jalannya pertandingan. Bermain dengan 10 pemain membuat situasi semakin sulit dikendalikan.
“Setelah babak kedua, saya tidak punya banyak hal yang bisa dikatakan karena permainan benar-benar terkondisikan oleh pengusiran (kartu merah) satu pemain kami,” ujarnya.
“Sangat sulit bermain dengan kurang satu pemain. Beberapa pemain pun belum mencapai performa terbaiknya, dan dengan satu pemain kurang, segalanya menjadi sangat sulit.”
Meski hasil buruk ini menjadi pukulan telak, Mauricio memastikan timnya tidak akan menyerah. Ia menegaskan Persija Jakarta akan terus berjuang hingga kompetisi berakhir.
Sikap tersebut menjadi sinyal persaingan belum sepenuhnya selesai. Dengan sisa pertandingan yang ada, peluang tetap terbuka meski semakin menipis.
Kini, tantangan terbesar bagi Persija Jakarta adalah menjaga konsistensi performa. Selain itu, kedalaman skuad dan disiplin permainan juga menjadi faktor penting dalam menghadapi laga-laga krusial berikutnya.
Jika mampu bangkit, bukan tidak mungkin mereka kembali memberi tekanan untuk Persib Bandung. Namun jika inkonsistensi berlanjut, mimpi juara bisa semakin menjauh dari genggaman.(moc/ba/jpc)
Editor : Agus Jaka Purnama