Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Kasus Chromebook Seret Talenta Digital, Rhenald Kasali: Bisa Goyang Kepercayaan Anak Muda

Slamet Harmoko • Senin, 27 April 2026 | 08:09 WIB
Rhenald Kasali (IMAM HUSEIN/JAWA POS)
Rhenald Kasali (IMAM HUSEIN/JAWA POS)

 

JAKARTA, radarsampit.jawapos.com – Kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook yang menjerat Ibrahim Arief alias Ibam makin jadi sorotan publik. Bukan cuma soal hukum, kasus ini juga memicu diskusi luas soal kepercayaan talenta digital terhadap negara.

Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, ikut angkat suara. Ia menilai kasus ini punya dampak besar, apalagi sudah ramai diperbincangkan di media sosial dengan engagement tinggi.

“Saya sebenarnya tidak ingin membahas terus, tapi percakapannya sudah sangat besar. Ini ramai sekali di publik,” ujarnya dalam unggahan Instagram, Minggu (26/4).

Perhatian publik makin tinggi karena tuntutan yang dihadapi Ibam terbilang berat. Dalam perkara ini, ia dituntut 15 tahun penjara, denda Rp1 miliar subsider 190 hari kurungan, serta uang pengganti Rp16,9 miliar subsider 7,5 tahun penjara. Jika dikumulasi, total ancaman hukuman bisa mencapai 22,5 tahun.

“Kita baca hukumannya kalau ditotal bisa sampai 22,5 tahun. Ini tentu menimbulkan banyak pertanyaan soal rasa keadilan,” kata Rhenald.

Talenta Digital Langka Jadi Sorotan

Menurut Rhenald, kasus ini makin kompleks karena menyangkut sosok yang dianggap sebagai talenta digital langka di Indonesia. Ia menyoroti bahwa SDM di bidang teknologi masih sangat terbatas dibanding negara lain.

“Kalau India punya talenta digital banyak, bahkan bisa ekspor. Indonesia masih langka, mencarinya sulit,” ujarnya.

Ia juga menyinggung kondisi Ibam yang disebut tengah mengalami gangguan kesehatan saat menjalani proses hukum. Hal ini menambah perhatian publik terhadap kasus tersebut.

Dalam konteks global, Rhenald menyebut Ibam sebenarnya memiliki peluang besar berkarier di luar negeri, termasuk tawaran kerja di perusahaan teknologi dengan gaji miliaran rupiah per tahun.

Namun, pilihan untuk tetap berkontribusi di dalam negeri justru menjadi sorotan. Menurutnya, banyak talenta digital Indonesia di luar negeri yang punya keinginan pulang dan mengabdi.

“Pertanyaan seperti ‘haruskah saya pulang ke Indonesia?’ itu sering saya dengar dari mereka yang di luar negeri,” tuturnya.

Kekhawatiran soal Kepastian Hukum

Di sisi lain, kasus ini juga memunculkan kekhawatiran terkait kepastian hukum bagi para profesional, khususnya yang terlibat sebagai konsultan.

Rhenald menyebut, ada kekhawatiran bahwa talenta digital bisa menghadapi risiko hukum, meskipun tidak terbukti menerima aliran dana.

“Ini yang jadi perhatian, bagaimana rasa aman bagi mereka untuk berkarya di dalam negeri,” ujarnya.

Ia berharap proses hukum berjalan adil dan bijaksana, serta tidak menggerus semangat talenta digital untuk berkontribusi bagi Indonesia.

“Semoga keputusan yang diambil benar-benar adil, dan talenta digital kita tetap bisa mengabdi dengan baik untuk negara,” pungkasnya. (jpg)

Editor : Slamet Harmoko
#korupsi chromebook #ibam #Rhenald Kasali #anak muda