Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Whistleblower Dugaan Korupsi Pelabuhan JICT Ditemukan Tewas Mengenaskan di Rumahnya, Murni Perampokan?

Slamet Harmoko • Sabtu, 7 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermanto Usman (65).
Ermanto Usman (65).

Radarsampit.jawapos.com - Warga Perumahan Prima Asri, Jatibening, Pondok Gede, Kota Bekasi mendadak gempar.

Seorang pria lanjut usia, Ermanto Usman (65), ditemukan meninggal dunia bersimbah darah di dalam kediamannya pada Senin (2/3/2026).

Tragedi ini tidak hanya menelan nyawa Ermanto, namun juga membuat istrinya, PW (60), berada dalam kondisi kritis di Rumah Sakit Primaya Bekasi.

 

Sunyi Mencekam di Waktu Sahur

Insiden memilukan ini pertama kali terungkap oleh anak bungsu korban, DNA.

Biasanya, DNA dibangunkan sang ibu sekitar pukul 03.00 WIB untuk bersantap sahur. Namun, dini hari itu suasana rumah terasa sunyi mencekam.

Saat turun ke lantai bawah karena alarm ponselnya berbunyi pukul 04.15 WIB, DNA justru mendapati pemandangan mengerikan.

Ermanto sudah terbujur kaku tak bernyawa di atas kasur, sementara ibunya tergeletak di lantai dengan luka parah.

Sosok Ermanto Usman: Aktivis Pelabuhan yang Berani

Nama Ermanto Usman bukanlah orang sembarangan. Di dunia industri pelabuhan, ia dikenal sebagai figur yang sangat vokal.

Mantan Ketua Serikat Pekerja PT Jakarta International Container Terminal (JICT) ini memiliki reputasi sebagai aktivis yang berani pasang badan demi hak-hak buruh.


"Ermanto dikenal luas sebagai figur yang berani. Bahkan setelah pensiun, ia masih dipercaya menjabat sebagai Ketua Paguyuban Pensiunan JICT," ungkap kakak kandung korban, Dalsaf Usman.

Vokal Bongkar Kerugian Negara Rp4,08 Triliun

Yang mengejutkan, nama Ermanto kembali mencuat pada Desember 2025 lalu.

Dalam sebuah siniar (podcast) di kanal YouTube Forum Keadilan TV, ia secara gamblang membongkar kejanggalan kontrak JICT dengan perusahaan asing asal Hong Kong.

Ermanto menjadi salah satu sosok kunci di balik terbentuknya Pansus DPR RI yang kala itu diketuai Rieke Diah Pitaloka.

Ia menyoroti hasil audit investigasi BPK tahun 2018 yang menyatakan adanya kerugian negara fantastis mencapai Rp4,08 triliun.

"Ini dianggap angin lalu. Padahal ada rekomendasi hak angket dan hasil audit BPK. Kalau dikelola sendiri tanpa pihak asing, negara bisa meraup untung Rp17 triliun hingga Rp25 triliun," tegas Ermanto dalam siniar tersebut.

Hingga saat ini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan mendalam untuk mengungkap tabir di balik kematian mengenaskan sang aktivis pelabuhan ini.

Masyarakat pun menanti apakah kejadian ini murni perampokan atau ada motif lain di baliknya. (did/jpg)

Editor : Slamet Harmoko
#korupsi #Korupsi JICT #Ermanto Usman