JAYAPURA, radarsampit.jawapos.com – Sasagu, UMKM pengolah sagu asal Papua, tengah bersiap menembus pasar luar negeri. Hal itu setelah mencatat lonjakan kapasitas dan perhatian pembeli asing.
Dukungan dari Pertamina melalui Pertamina UMK Academy 2025 serta partisipasi pendiri Herlinda Sinaga dalam program Australia Awards 2024 (Women-led MSMEs – Ready to Export), menjadi pendorong utama langkah ekspansi itu.
Sasagu, yang berdiri sejak 2023, mengubah bahan pangan tradisional menjadi produk modern, yakni boba sagu, cookies sagu bebas gluten, dan tepung sagu siap pakai.
Kesuksesan produk itu muncul setelah dua tahun riset dan pengembangan resep. Termasuk di antaranya eksperimen mengganti bahan sulit didapat dengan sagu ketika kebutuhan meningkat saat PON XX 2021.
Kini, produk Sasagu mulai menembus rak supermarket besar di Jayapura dan menarik perhatian pembeli dari luar negeri.
Pendiri Sasagu Herlinda Sinaga menuturkan, pihaknya sempat dihadapkan pada tantangan pasokan bahan baku. Namun, hal itu justru memicu inovasi.
”Kesulitan mencari bahan memaksa kami berpikir ulang. Dari situ lahir formula sagu yang kini disukai konsumen,” kata Herlinda. Proses adaptasi tersebut mengantar usaha kecilnya menjadi lebih kompetitif.
Percepatan skala usaha Sasagu tak lepas dari program pembinaan Pertamina UMK Academy 2025.
Peserta mendapat pelatihan yang menyentuh produksi, pengemasan, branding, hingga strategi pemasaran digital melalui platform Learning Management System (LMS).
Hasilnya memuaskan. Ada peningkatan produksi, perbaikan kemasan, dan daya jual yang lebih kuat. Hal tersebut jadi faktor yang membuat Sasagu didekati calon pembeli dari Jerman dan Jepang.
Sementara itu, selain aspek bisnis, Sasagu juga mengedepankan keberlanjutan. Menurut Herlinda, setiap kali pihaknya mengambil sagu, akan ditanam kembali.
Dukungan terhadap jerih payah itu datang dari tim Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku.
Area Manager Communication Relation & CSR Ispiani Abbas menyorot hasil nyata program UMK Academy.
”Beberapa UMK peserta menunjukkan kemajuan signifikan. Hal ini bukti bahwa pembinaan terstruktur bisa mengangkat usaha lokal ke level ekspor.,” katanya.
Menurutnya, ada peningkatan jumlah peserta dari wilayah Papua-Maluku pada gelaran 2025.
Terobosan Herlinda tak hanya lokal. Seleksinya ke program Australia Awards 2024 memberi akses jaringan berupa pelatihan ekspor dan peluang pasar Australia.
Hal itu jadi tambahan modal sosial yang membuka jalur kerja sama internasional.
Herlinda dikabarkan menjadi salah satu perwakilan dari Indonesia yang mengikuti short course tersebut, membuka akses pendampingan bagi ekspor produk sagu.
Keberhasilan Sasagu dinilai jadi contoh bagaimana UMKM berbasis bahan lokal berpotensi menjadi komoditas ekspor.
Hal itu bila mendapat pembinaan, akses pasar, dan dukungan korporasi. Jika tren ini meluas, peluang peningkatan pendapatan daerah dan pelibatan lebih banyak petani sagu lokal terbuka lebar. (*/ign)
Editor : Gunawan.