PAPUA, radarsampit.jawapos.com – Markas Besar TNI mengecam keras tindakan brutal Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang menewaskan seorang warga lanjut usia, Mama Hertina Mirip, di Intan Jaya.
Peristiwa tragis ini semakin menambah daftar kekerasan yang dialami masyarakat sipil di wilayah konflik.
Mayjen Kristomei Sianturi, Kepala Penerangan (Kapuspen) TNI, menyampaikan hasil klarifikasi pihak berwenang dan keterangan saksi di lapangan memastikan bahwa kekerasan terhadap Mama Hertina dilakukan oleh kelompok bersenjata OPM, bukan oleh personel TNI.
”Berdasarkan data otoritas lokal dan laporan saksi mata, kematian Mama Hertina disebabkan tindakan keji kelompok separatis bersenjata OPM, bukan oleh aparat TNI,” tegas Kristomei.
Kristomei menuturkan bahwa tuduhan yang menyebut TNI terlibat hanyalah bagian dari kampanye hoaks yang bertujuan mendiskreditkan nama baik institusi.
Ia menambahkan bahwa pasukan TNI telah ditarik dari Kampung Sugapa Lama sejak 15 Mei sebagai bukti mereka berkomitmen melindungi warga sipil.
”Informasi palsu ini sengaja disebarkan untuk membangun opini negatif terhadap TNI,” ujarnya.
Korban, yang diketahui memiliki gangguan jiwa, terakhir terlihat pada 15 Mei di Kampung Mamba Bawah.
Saat berada dalam perjalanan kembali ke desa asalnya di Jaindapa, diduga ia dicegat dan dibunuh oleh kelompok OPM pimpinan Daniel Aibon Kogoya.
”Kami menghimbau publik untuk tidak mudah terpengaruh narasi fitnah. Fakta di lapangan justru memperlihatkan kekejaman kelompok separatis yang bahkan menyerang warga tanpa senjata,” kata Kristomei.
Di sisi lain, gangguan keamanan di Papua masih terus berlanjut. Pada Rabu (27/5), dua serangan terpisah di Wamena dan Yahukimo mengakibatkan dua anggota polisi terluka parah.
Brigjen Faizal Ramadhani, Kepala Operasi Satgas Damai Cartenz, memastikan korban kini dalam kondisi sadar dan menduga pelaku adalah kelompok kriminal bersenjata.
”Benar terjadi insiden di Wamena dan Yahukimo; korban sudah mendapatkan perawatan dan dalam kondisi sadar,” jelas Faizal.
Situasi tersebut menegaskan pentingnya memerangi propaganda OPM, tidak hanya melalui upaya keamanan, tetapi juga melalui edukasi publik agar lebih kritis terhadap informasi yang menyesatkan. Narasi bohong harus dilawan dengan fakta dan integritas. (*)
Editor : Gunawan.