JAKARTA, radarsampit.jawapos.com – Pemerintah terus memperkuat komitmennya mendukung usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang telah menjadi pilar utama perekonomian nasional.
Dengan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan perannya dalam menciptakan lapangan kerja, UMKM menjadi sektor prioritas dalam agenda pembangunan ekonomi.
Wakil Menteri UMKM, Helvi Moraza, menyampaikan, upaya untuk meningkatkan daya saing dan kapasitas UMKM menuju ekspor dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor, penguatan akses pembiayaan, serta program pendampingan intensif.
”Kami memiliki program strategis yang bertujuan membawa UMKM naik kelas. Salah satunya, kami menargetkan lahirnya pelaku UMKM unggulan yang siap bersaing di pasar internasional," ujarnya.
Helvi juga menjelaskan bahwa pemerintah bekerja sama dengan berbagai lembaga, termasuk PT Permodalan Nasional Madani (PNM), dalam membina pelaku UMKM di level awal.
”PNM memiliki peran strategis untuk membimbing UMKM dari tahap paling dasar hingga mampu meningkatkan skala usahanya. Kami menargetkan setidaknya 10 UMKM berbakat yang akan dipercepat proses naik kelasnya," tambahnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa setelah UMKM mencapai level yang lebih tinggi, mereka akan diarahkan untuk memanfaatkan skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) guna mendukung pertumbuhan bisnis mereka.
Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Jawa Tengah, Rahmat Dwisaputra, menyatakan bahwa pihaknya secara aktif memfasilitasi UMKM untuk memasuki pasar global.
Salah satu kisah suksesnya adalah Kwadungan Java Coffee, yang berhasil mengirimkan produk kopinya ke Taiwan.
”Pesanan pertama berupa 15 ton green bean senilai Rp1,1 miliar telah terealisasi, dan pada tahun 2025 mereka kembali menerima pesanan kedua sebesar 19 ton dengan nilai Rp1,6 miliar," ungkap Rahmat.
Kwadungan Java Coffee, produsen kopi arabika dengan merek dagang Kopi Arabika Sindoro, memanfaatkan biji kopi yang berasal dari lahan petani di Kwadungan Gunung, Kabupaten Temanggung.
Saat ini, UMKM tersebut berupaya meningkatkan volume ekspor, yang sebelumnya mencapai 50 ton per tahun.
Rahmat menambahkan bahwa konsistensi dalam menjaga kualitas dan kuantitas produk adalah kunci untuk mempertahankan daya saing UMKM di pasar internasional.
”Selain itu, kolaborasi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan para pemangku kepentingan lainnya sangat penting dalam memastikan keberlanjutan pengembangan UMKM," katanya.
Dengan sinergi yang kuat dan dukungan dari berbagai pihak, UMKM diharapkan dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional. (*)
Editor : Gunawan.