SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas II Sampit membentuk Forum Bandara Sehat sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi kedaruratan kesehatan, termasuk wabah penyakit dan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Bandara H. Asan Sampit.
Pembentukan forum tersebut dilakukan bersamaan dengan penyusunan dokumen rencana kontinjensi yang melibatkan berbagai instansi lintas sektor.
Kepala BKK Kelas II Sampit, I Gusti Ayu Agung Darmawati, mengatakan forum tersebut dibentuk untuk memperkuat sinergi dan koordinasi antarinstansi dalam menghadapi berbagai potensi kedaruratan yang dapat terjadi di pintu masuk wilayah melalui bandara.
"Hari ini Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas II Sampit melaksanakan rapat koordinasi penyusunan dokumen rencana kontinjensi sekaligus pembentukan Forum Bandara Sehat. Kegiatan ini merupakan upaya memperkuat sinergi dan kolaborasi dengan lintas sektor terkait," ujarnya saat Rapat Koordinasi Penyusunan Dokumen Rencana Kontinjensi dan Sosialisasi Bandara Sehat Bandara H. Asan Sampit yang digelar di Ruang Pertemuan La Foule Caffe Jalan Jeruk I Sampit, Senin (20/7).
Menurut Agung Darmawati, dokumen rencana kontinjensi akan menjadi pedoman bagi seluruh instansi dalam menangani berbagai kondisi darurat, mulai dari ancaman penyakit menular hingga dampak musim kemarau yang berpotensi memicu karhutla.
Ia menjelaskan, setiap instansi memiliki peran sesuai tugas dan fungsinya yang akan dikoordinasikan oleh pihak pengelola bandara.
“Dari sektor kesehatan ada Balai Kekarantinaan Kesehatan, puskesmas, rumah sakit, dan Dinas Kesehatan. Masing-masing memiliki tugas dan peran yang nantinya dikoordinasikan oleh Kepala Bandara,” katanya.
Agung Darmawati menegaskan, keberhasilan mewujudkan Bandara Sehat tidak dapat dicapai hanya oleh BKK, tetapi memerlukan dukungan seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat pengguna jasa bandara.
“Kami berharap semua pihak terlibat, baik instansi terkait maupun masyarakat pengguna jasa bandara. Kegiatan ini tidak hanya menyusun dokumen rencana kontinjensi, tetapi juga membentuk Bandara Sehat. Seluruh unsur harus berkontribusi dalam upaya pencegahan dan kesiapsiagaan,” tegasnya.
Rapat koordinasi tersebut diikuti sekitar 55 peserta secara luring dan puluhan peserta lainnya secara daring. Peserta berasal dari Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) H. Asan Sampit, Dinas Kesehatan, Dinas Perhubungan, Dinas Sosial, rumah sakit, serta berbagai instansi terkait lainnya.
Setelah Forum Bandara Sehat terbentuk dan komitmen bersama ditandatangani, BKK akan melaksanakan asesmen untuk mengukur tingkat kesiapan seluruh unsur yang terlibat.
Hasil penilaian tersebut akan menjadi dasar pemenuhan berbagai persyaratan agar Bandara H. Asan Sampit dapat diusulkan meraih predikat Bandara Sehat pada 2028.
Sementara itu, Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) H. Asan Sampit, Abdul Haris, mengatakan pihaknya mendukung penuh pembentukan Forum Bandara Sehat melalui penguatan koordinasi antara pengelola bandara, perusahaan ground handling, dan Balai Kekarantinaan Kesehatan.
Menurutnya, rapat tersebut juga membahas alur penanganan apabila terjadi wabah penyakit di bandara, termasuk pembagian peran setiap instansi agar seluruh pemangku kepentingan siap bertindak apabila terjadi kondisi darurat.
“Kami telah membahas alur penanganan apabila terjadi wabah, termasuk peran masing-masing stakeholder, sehingga semua pihak siap apabila terjadi kondisi darurat,” pungkasnya. (ktr-2)
Editor : Slamet Harmoko