SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) belum menunjukkan tanda mereda.
Memasuki Senin (20/7/2026), jumlah hotspot atau titik panas kembali bertambah, sementara potensi hujan di wilayah ini masih sangat rendah.
Berdasarkan pembaruan data BMKG Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit, terdeteksi 29 hotspot dalam 24 jam terakhir yang tersebar di sejumlah kecamatan. Titik panas paling banyak terpantau di Kecamatan Telaga Antang, disusul Antang Kalang, Bukit Santuai, Mentaya Hulu, Mentaya Hilir Utara, Baamang, Tualan Hulu, dan Parenggean.
Kondisi tersebut sejalan dengan analisis parameter cuaca yang menunjukkan sebagian besar wilayah Kotim masih berada pada kategori sangat mudah terbakar. Area berwarna merah masih mendominasi peta potensi kemudahan terjadinya kebakaran untuk 20 hingga 21 Juli 2026.
Situasi semakin diperparah karena BMKG memprakirakan tidak ada potensi pertumbuhan awan hujan di Kabupaten Kotawaringin Timur hingga Selasa (21/7) pukul 07.00 WIB. Artinya, peluang turunnya hujan yang dapat membantu membasahi lahan gambut masih sangat kecil.
Tanpa adanya hujan, vegetasi dan lahan gambut yang mengering menjadi semakin rentan terbakar. Kondisi ini juga meningkatkan risiko meluasnya kebakaran apabila muncul sumber api, baik akibat aktivitas manusia maupun faktor lainnya.
Data rekapitulasi BPBD Kotim hingga 18 Juli 2026 mencatat sebanyak 415 hotspot telah terdeteksi sepanjang tahun ini. Dari jumlah tersebut, telah terjadi 84 kejadian karhutla, dengan 76 kejadian berhasil ditangani petugas.
Sementara itu, total luas lahan yang terbakar mencapai 171,39 hektare. Kecamatan Baamang dan Mentawa Baru Ketapang masih menjadi wilayah dengan jumlah penanganan kebakaran terbanyak, sedangkan Kota Besi menjadi kecamatan dengan akumulasi hotspot tertinggi sepanjang tahun 2026.
Melihat kondisi cuaca yang masih kering, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Sedikit saja percikan api berpotensi memicu kebakaran yang cepat meluas, terutama di kawasan gambut.
Pemerintah bersama BPBD, BMKG, TNI, Polri, Manggala Agni, dan berbagai unsur terkait terus memantau perkembangan titik panas serta bersiaga melakukan penanganan cepat guna mencegah kebakaran meluas dan mengakibatkan kabut asap semakin parah. (oes)
Editor : Slamet Harmoko