Radarsampit.jawapos.com – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Tengah kembali meningkat seiring kondisi curah hujan yang belum merata. Hal tersebut berdasarkan pemantauan terbaru dari Stasiun Meteorologi H Asan Kotawaringin Timur.
Peta potensi kebakaran yang dirilis menunjukkan sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah berada pada kategori risiko tinggi, yang ditandai dengan warna merah. Kondisi ini mengindikasikan tingginya potensi terjadinya kebakaran, terutama di wilayah dengan vegetasi kering.
Berdasarkan prognosis cuaca 24 jam ke depan, hujan diperkirakan turun di sejumlah wilayah. Namun, akumulasi curah hujan sejak 18 Januari 2026 pukul 07.00 WIB dinilai belum merata dan belum cukup untuk meningkatkan kelembapan tanah secara signifikan. Situasi tersebut masih memungkinkan terjadinya kebakaran lahan, khususnya di daerah rawan.
Sementara itu titik panas terdapat sebanyak 8 titik di Kotim ; Kecamatan Antang Kalang yakni di Kuluk Telawang 3 titik dan Sungai Hanya 1 titik.
Kecamatan Telaga Antang sebanyak 2 titik yakni di Tumbang Puan dan Tumbang Boloi.
Selanjutnya Kecamatan Bukit Santuai 1 titik di Tumbang Tawan, dan Kecamatan Cempaga Hulu 1 titik di Desa Tumbang Koling.
Rekapitulasi titik panas (hotspot) dalam 24 jam terakhir menunjukkan adanya sejumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan rendah hingga menengah.
Beberapa wilayah kecamatan yang perlu diwaspadai antara lain Arut Selatan dan Antang Kalang, yang terpantau memiliki kepadatan titik panas lebih tinggi dibanding wilayah lainnya.
Citra satelit HIMAWARI-8 yang direkam pada pukul 07.00 WIB memperlihatkan pola awan yang tidak merata di wilayah Kotawaringin Timur dan sekitarnya.
Kondisi ini menandakan cuaca yang masih fluktuatif dan berpotensi berubah dalam beberapa waktu ke depan.
Imbauan kepada Masyarakat
BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla. Warga diminta tidak melakukan pembakaran terbuka, baik untuk membuka lahan maupun aktivitas lainnya, serta turut menjaga lingkungan sekitar agar tidak mudah terbakar.
Masyarakat juga disarankan untuk rutin memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG. (oes)
Editor : Slamet Harmoko