Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Bukit Santuai Paling Sering Dilanda Banjir di Kotim

Yuni Pratiwi Iskandar • Senin, 5 Januari 2026 | 21:55 WIB
Multazam Kepala Pelaksana BPBD Kotim
Multazam Kepala Pelaksana BPBD Kotim

SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Sepanjang tahun 2025, banjir masih menjadi bencana hidrometeorologi yang dominan terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Dari sejumlah wilayah yang terdampak, salah satunya Kecamatan Bukit Santuai tercatat sebagai daerah dengan frekuensi banjir tertinggi.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim Multazam menjelaskan bahwa sebagian besar desa di Bukit Santuai berada di sepanjang bantaran sungai. Kondisi tersebut membuat wilayah ini rentan terendam saat debit air meningkat akibat hujan denagn intensitas tinggi.

“Karakter wilayah sangat mempengaruhi. Rata-rata permukiman berada dekat sungai, sehingga ketika air meluap, banjir sulit dihindari,” ujarnya.

Data BPBD Kotim mencatat, selama 2025 terdapat 114 kejadian bencana dan kondisi darurat yang berhasil ditangani hingga tuntas.

Dari jumlah tersebut, banjir memndominasi dengan 44 kejadian, disusul kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebanyak 36 kejadian, cuaca ekstrem 26 kejadian, serta delapan operasi pencarian dan pertolongan.

Berdasarkan rekapitulasi kejadian banjir per kecamatan, Bukit Santuai mencatat delapan kali banjir sepanjang 2025. Posisi berikutnya ditempati Kecamatan Tualan Hulu dengan tujuh kejadian, disusul Telaga Antang dan Mentaya Hilir Selatan maisng-masing lima kejadian.

Kecamatan Cempaga Hulu mengalami empat kali banjir, Parenggean tiga kali, serta sejumlah kecamatan lain dengan frekuensi satu hingga dua kejadian.

Multazam memaparkan, pola banjir di Kotim terbagi ke dalam dua karakter wilayah. Untuk kawasan utara seperti bukit Santuai, Tualan Hulu, Telaga Antang, Parenggean, dan Antang Kalang, banjir umumnya dipicu curah hujan tinggi yang menyebabkan sungai meluap.

Sementara di wilayah selatan, banjir sering terjadi akibat kombinasi hujan deras dan pasang air laut, seperti di Kecamatan Pulau Hanaut, Teluk Sampit, serta Mentaya Hilir Selatan dan Utara.

Menghadapi kondisi tersebut, BPBD Kotim telah menyiapkan Rencana Kontingensi sebagaipanduan strategis penanganan bencana. Dokumen ini disusun sebelum bencana terjadi, berbasis analisis risiko, dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan agar respons darurat dapat berjalan cepat dan terkoordinasi.

“Tujuannya jelas, menyelamatkan nyawa, melindungi aset masyarakat, dan memastikan penanganan bencana berjalan terpadu,” kata Multazam.

Menariknya, pada 2025 Kabupaten Kotim menjadi salah satu dari enam kabupaten di Indonesia yang ditunjuk untuk penerapan digitalisasi Rencana Kontingensi.

Langkah ini dinilai memperkuat kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi ancaman bencana yang breulang.

Selain itu, BPBD Kotim mengoperasikan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) selama 24 jam. Pusat ini berfungsi sebagai media informasi, komunikasi, dan komando, mulai dari tahap pra-bencana hingga pascabencana.

Sepanjang Januari hingga Desember 2025, seluruh aktivitas operasi penanggulangan bencana tercatat secara digital melalui sistem BPBD Kotim sebanyak 364 kali. Data tersebut menjadi bahan evaluasi sekaligus dasar penyusunan kajian riisiko bencana di daerah.

“Pencatatan ini penting untuk melihat kinerja sekaligus memetakan potensi  risiko ke depan,” pungkas Multazam. (yn/fm) 

Editor : Farid Mahliyannor
#bpbd #banjir #kotim #bukit santuai