Radar Utama Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno Kalteng

Bukti Komitmen Go International, UMSA Jalin Kerjasama dengan Muhammadiyah Australia College dan PCIM Melbourne

Heny Pusnita • Kamis, 4 Desember 2025 | 20:53 WIB
KONFERENSI : Rektor UMSA bersama jajarannya ikut serta menghadiri International Conference Progressive and Fun Education yang diikuti perwakilan dari 11 Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiah di Clayto
KONFERENSI : Rektor UMSA bersama jajarannya ikut serta menghadiri International Conference Progressive and Fun Education yang diikuti perwakilan dari 11 Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiah di Clayto

SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com - Universitas Muhammadiyah Sampit (UMSA) terus melakukan pengembangan dalam peningkatan kualitas pendidikan. Perluasan jalinan kerjasama dilakukan tidak hanya ditingkat nasional bahkan hingga internasional.

Jika 15 Februari 2025 lalu, UMSA melakukan kunjungan ke National Taiwan Normal University di Kota Taipei, baru-baru ini tepatnya Selasa, 25 November 2025, Rektor Muhammadiyah Sampit Ramadansyah beserta jajaran berkunjung ke Muhammadiyah Australia College.

"Kunjungan ke Muhammadiyah Academy College kami lakukan untuk kolaborasi terkait sistem pembelajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat secara internasional," kata Ramadansyah, Rektor UMSA, Rabu (3/12/2025).

Dalam pertemuan tersebut, UMSA bersama 11 perwakilan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiah di Indonesia menyimak paparan dari Roszana selaku Kepala Sekolah Muhammadiyah Academy College Australia (MAC) setingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Dalam paparannya, Roszana menyampaikan tujuan MAC yang membawa misi syiar dakwah dalam dunia pendidikan. Ia juga mengenalkan proses pembelajaran di MAC, penerapan kurikulum pendidikan, sarana prasarana dan rencana pengembangan MAC ke depan.

MAC menerapkan proses pembelajaran deep learning yang memberikan peluang institusi menghasilkan generasi yang inovatif dan kreatif memberdayakan diri dengan memanfaatkan metode kecerdasan buatan atau dikenal Artificial Intelligence (AI).

Pembelajaran deep learning, menurutnya sangat lah penting untuk memberikan pengalaman belajar yang otentik dan bermakna kepada peserta didik.

AI membawa pengalaman belajar yang baru yang mendatangkan banyak hal positif pada dunia pendidikan, namun juga bisa berdampak negatif apabila tidak digunakan dengan bijak.

Menurutnya, Indonesia perlu mempertimbangkan kematangan pola kebijakan dalam pendidikan, berkaca pada Australia yang telah memiliki sistem yang terorganisir dengan baik dan mempermudah proses implementasi di lapangan.

PENANDATANGANAN : Rektor UMSA Ramadansyah berfoto bersama Yudi selaku Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Melbourne usai penandatanganan kerjasama di Almina Lebanese Restaurant in Docklands, Selasa
PENANDATANGANAN : Rektor UMSA Ramadansyah berfoto bersama Yudi selaku Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Melbourne usai penandatanganan kerjasama di Almina Lebanese Restaurant in Docklands, Selasa

"Harapan kami, pola pembelajaran di MAC dapat menjadi bahan evaluasi dan gambaran kepada para dosen UMSA yang kedepannya dapat mengadopsi pola pembelajaran deep learning dan pemanfaatan AI," ujar Ramadansyah.

Dihari yang sama, Ramadansyah bersama Wakil Rektor I UMSA Bidang Akademik Hardianti Aprina dan Wakil Rektor II UMSA Bidang Keuangan dan SDM Mahmuddin dan Dosen Pendidikan Bahasa Inggris Ajah Saputra juga menghadiri acara Conference International Progressive and Fun Education ke-11 di Clayton Monash University.

Dalam konferensi ini, mempertemukan para pakar pendidikan dari Australia, Brunei Darussalam, dan Indonesia. 

"Kami bersama 11 perwakilan PTMA berdiskusi banyak hal menyoroti dinamika dan masa depan sistem pendidikan Indonesia dan Australia, khususnya dalam konteks pengembangan konsep pendidikan Deep Learning di era kecerdasan buatan," kata Hardianti Aprina.

Kegiatan ini sebagai salah satu bagian dari implementasi kerja sama antara Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah dan Monash University pada 17 Oktober 2025 yang bertempat di Kantor Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Yogyakarta.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari tiga negara, yaitu Prof Yuli Rahmawati (Atdikbud KBRI Canberra, Australia), Assoc Prof Joanne Blannin (Monash University, Australia), Norazmie Yusof, Ph.D (Universitas Brunei Darussalam), Muhammad Sayuti, Ph.D (Universitas Ahmad Dahlan), serta Uslan, Ph.D (Universitas Muhammadiyah Kupang). 

Setiap pemateri menyampaikan pandangan dan penelitian terbaru terkait pembelajaran bermakna, teknologi digital, dan pengembangan guru profesional lintas negara.

Ketua Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (LPTK PTMA) yang juga selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Harun Joko Prayitno menegaskan bahwa Indonesia perlu membuka masa depan pendidikan yang lebih menyenangkan dan humanis. Ia menyoroti kecenderungan pendidikan nasional yang terlalu berorientasi pada target dan pencapaian angka, sehingga menekan peserta didik dan mengurangi minat mereka terhadap proses belajar. 

KUNJUNGAN : Pertemuan Rektor UMSA Ramadansyah beserta jajaran bersama Kepala Sekolah Muhammadiyah Australia Collage (MAC) Roszana di Melbourne, Australia, Selasa (25/11) pagi.
KUNJUNGAN : Pertemuan Rektor UMSA Ramadansyah beserta jajaran bersama Kepala Sekolah Muhammadiyah Australia Collage (MAC) Roszana di Melbourne, Australia, Selasa (25/11) pagi.

"Sistem pendidikan harus memberi ruang bagi siswa untuk menikmati pembelajaran, mengembangkan kreativitas, serta menemukan makna dalam setiap aktivitas belajar," kata Harun Prayitno yang juga sebagai Koordinator Pelaksana Progressive and Fun Education ke-11.

Harun berharap sistem pendidikan di Australia, yang dikenal progresif dan mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan berpusat pada siswa, dapat menjadi inspirasi bagi transformasi pendidikan di Indonesia. 

"Pendidikan harus dibangun dalam suasana yang inklusif, penuh perhatian, bermakna, dan menyenangkan, terutama di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan yang semakin pesat," ujarnya.

Sejalan dengan tema besar kegiatan tahun ini,  “Deep Learning for Progressive and Fun Education: Building Inclusive, Mindful, Meaningful, and Joyful Learning in the AI ​​Era”, para narasumber memaparkan gagasan penting mengenai inovasi pendidikan. 

Prof Yuli Rahmawati sebagai pencetus konsep pendidikan Deep Learning di Indonesia, menyampaikan materi mengenai Deep Learning for Education in the Digital Era, menekankan pentingnya pembelajaran yang menumbuhkan refleksi, kolaborasi, dan kemandirian peserta didik. 

Prof Joanne Blannin juga menyebut bahwa Indonesia dan Australia mempunyai peluang dalam mengembangkan model pembelajaran mendalam yang adaptif terhadap kebutuhan regional dan perubahan digital.

Sementara itu, Muhammad Sayuti, Ph.D memaparkan hasil studi perbandingan mengenai program pengembangan profesional guru di Indonesia dan Australia, yang menunjukkan perlunya integrasi antara peningkatan kompetensi pedagogis dan pemanfaatan teknologi digital. 

Dari Brunei Darussalam, Norazmie Yusof, Ph.D berbagi temuan penelitian tentang persepsi siswa terhadap penggunaan AI dalam pembelajaran sastra Melayu, memberikan gambaran mengenai kesiapan siswa dalam konteks pendidikan digital di Asia Tenggara.

Uslan, Ph.D menutup jajaran pemateri dengan membahas pentingnya penguatan karakter dan pembelajaran yang bermakna sebagai inti dari pendidikan yang humanis dan progresif.

RENCANA KERJASAMA : Rektor UMSA Ramadansyah berfoto bersama Ibnu Jamal selaku Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah Sydney dalam kunjungan silaturahmi di Sydney, Australia, Kamis (27/11).
RENCANA KERJASAMA : Rektor UMSA Ramadansyah berfoto bersama Ibnu Jamal selaku Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah Sydney dalam kunjungan silaturahmi di Sydney, Australia, Kamis (27/11).

Selain menghadirkan para pembicara internasional, ProfunEdu 11th juga diikuti sebanyak 62 presenter dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan Australia. Hal ini menunjukkan besarnya inovasi dalam mengembangkan inovasi pendidikan, sekaligus mempertegas posisi ProfunEdu sebagai platform penting untuk pertukaran gagasan dan praktik terbaik di tingkat internasional.

Melalui penyelenggaraan ProfunEdu 11th di Monash University, Asosiasi LPTK PTMA bersama para mitra internasional meneguhkan komitmen untuk memperkuat kualitas pendidikan melalui kolaborasi lintas negara. 

Pertemuan konferensi internasional, bukan menjadi akhir kegiatan dalam membawa misi UMSA mengembangkan kualitas pendidikan.

Pada Selasa (25/11/2025) sore, Rektor UMSA Ramadansyah juga memanfaatkan waktu dan momentum yang tepat untuk melakukan penandatanganan perjanjian kerjasama dengan Yudi selaku Pimpinan Cabang Istimewa Melbourne. Kerjasama tersebut terkait penelitian dan pengabdian masyarakat.

Sehari setelahnya,pada Kamis 27 November 2025, Rektor UMSA Ramadansyah beserta jajarannya terbang ke Kota Sydney dalam kunjungan silaturahmi sekaligus rencana kerjasama di bidang penelitian dan pengabdian masyarakat secara internasional yang disambut baik oleh Ibnu Jamal selaku Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah Sydney. (soc/hgn)

Editor : Farid Mahliyannor
#Perguruan Tinggi #pendidikan #kerjasama #universitas