SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com — Jumlah penyandang diabetes melitus (DM) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tercatat paling tinggi di Kalimantan Tengah (Kalteng).
Data dari Aplikasi Sehat Indonesiaku milik Kementerian Kesehatan menunjukkan, dari total 9.168 kasus di provinsi ini, sebanyak 3.502 di antaranya berasal dari Kotim.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotim Umar Kaderi menegaskan bahwa tingginya jumlah tersebut tidak serta-merta mecerminkan kondisi kesehatan masyarakat yang buruk.
Menurutnya, angka itu justru muncul krena program deteksi dini dan layanan cek kesehatan gratis yang selama ini berjalan masif.
“Target nasional untuk cek kesehatan itu 36 persen, dan kita sudah di posisi 38 persen. Ini data dari aplikasi Kemenkes, artinya apa yang kita kerjakan memang tercatat,” ujarnya, Selasa (2/12/2025).
Ia menambahkan, pihaknya tidak menutupi hasil skrining penyakit apa pun. Baik diabetes, jantung, hingga ODGJ, semuanya dilaporkan apa adanya dan digunakan sebagai dasar intervensi kesehatan.
“Data itu yang jadi acuan kita untuk penyuluhan. Kalau potensi penyakit terdeteksi lebih cepat, kita bisa mengambil langkah awal sebelum berkembang ke kondisi berat. Diabetes bisa berujung jantung atau gagal ginjal, itu yang kita cegah,” jelasnya.
Tingginya angka diabetes di Kotim, kata Umar, dipengaruhi dua faktor. Pertama, capaian deteksi dini yang lebih tinggi dibanding daerah lain. Kedua, Kotim merupakn kabupaten dengan jumlah penduduk terbesar di Kalteng sehingga secara proporsional jumlah kasus juga lebih banyak.
“Bisa jadi daerah lain belum mencapai target pemeriksaan. Selain itu, jumlah penduduk kita memang paling besar, jadi efeknya terlihat di data,” ucapnya.
Ia mengingatkan bahwa pola makan dan gaya hidup masih menjadi pemicu utama diabetes. Mayoritas penderita di Kotim berada pada kelompok usia di atas 50 tahun, meski faktor keturunan maupun ktidakseimbangan berat badan juga berpengaruh.
“Berat badan tidak ideal itu sudah risiko. Tapi tetap saja pola makan dan aktivitas harian yang paling menentukan. Kami imbau masyarakat menjaga pola hidup sehat, makan teratur, oahraga cukup, dan istirahat yang baik,” katanya.
Bagi warga yang terdeteksi diabetes dalam kategori ringan, kata Umar, perubahan pola makan dan aktivitas masih bisa membantu memperbaiki kondisi. Namun untuk kategori yang kadar gulanya sudah tinggi, penanganan membutuhkan perhatian lebih.
“Yang penting gula darah itu stabil. Jangan sampai melonjak karena bisa berdampak pada ginjal dan jantung. Begitu juga tensi, harus dijaga,” tegasnya.
Ia menutup penjelasan dengan memastikan seluruh data kesehatan yang dirilis Kemenkes menjadi pedoman kerja Dinkes Kotim.
“Data itu menjadi dasar kami bergerak. Semua transparan, tidak ada yang kami tutupi,” ujarnya.
Dinkes Kotim berharap kesadaran masyarakat untuk rutin memeriksakan diri semakin meningkat sehingga angka penyakit kronis dapat ditekan. (yn/fm)
Editor : Farid Mahliyannor