SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com — Di tengah derasnya perkembangan teknologi, Dinas Pendidikan Kabupaten Kotawaringin Timur (Disdik Kotim) menegaskan bahwa keberadaan guru tetap menjadi kunci utama dalam dunia pendidikan.
Kasi Peserta Didik dan Pengembangan Karakter SMP Disdik Kotim, M. Ikram Muhajir mengingatkan bahwa teknologi hanya alat bantu bukan pengganti peran pendidik.
Menurut Ikram, kemudahan mencari informasi melalui internet tidak serta-merta dapat membentuk karakter peserta didik.
“Belajar lewat Google itu mudah, tinggal mencari jawaban. Tetapi pembentukan karakter, tanpa guru itu tidak akan berjalan. Guru tidak akan bisa digantikan oleh teknologi, sehebat apa pun perkembangannya,” tegasnya.
Ikram menekankan, masa depan pemanfaatan teknologi sepenuhnya berada di tagan para pendidik. Para guru, kata dia, harus mampu membimbing siswa agar menggunakan teknologi secara positif.
“Harapan kami, Bapak Ibu gurulah yang membimbing anak-anak dalam menggunakan teknologi. Apa yang boleh, aap yang tidak, itu perlu diarahkan. Teknologi canggih sekalipun tidak bisa menggantikan peran seorang guru,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa guru juga harus terus belajar agar tidak tertinggal dari zaman. Metode mengajar lama, menurutnya, tidak lagi relevan untuk generasi saat ini.
“Guru harus menyesuaikan zaman. Cara mengajar era dulu tidak bisa diterapkan lagi sekarang. Guru harus kolaboratif dan adaptif,” kata Ikram.
Ia juga mengimbau peserta didik untuk berhati-hati dalam menerima informasi di media sosial. Maraknya konten palsu yang semakin sulit dibedakan akibat penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) menjadi perhatian khusus.
“Pesan kami untuk anak-anak, jangan mudah percaya informasibdi media sosial. Banyak yang rtampak nyata, padahal hoaks. Hati-hati dalam mencari informasi,” tuturnya.
Disdik Kotim juga mengingatkan sekolah agar memanfaatkan bantuan Interactive Flat Panel (IFP) yang diberikan Kementerian Pendidikan. Perangkat pembelajaran digital itu diharapkan benar-benar digunakan untuk memperkuat proses belajar mengajar.
“IFP jangan hanya jadi pajangan. Ini modal kita untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih mendalam dan menarik. Guru harus bisa mengoperasikan dan menjadikannya media belajar yang efektif,” katanya.
Ikram berharap seluruh guru, baik yang senior maupun yang muda, sama-sama aktif belajar teknologi.
“Jangan sampai siswa lebih hebat dari gurunya. Guru senior pun harus belajar, guru muda bisa membantu. Yang penting, jangan pernah berhenti mengikuti perkembangan,” pungkasnya. (yn/fm)
Editor : Farid Mahliyannor