PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Terminal Tipe B Natai Suka di Jalan Natai Arahan, Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), memerlukan perhatian serius dari pemerintah. Sejumlah fasilitas di terminal tersebut masih jauh dari memadai dan dikeluhkan para pengguna jasa.
Pantauan di lapangan menunjukkan area parkir belum dilakukan pengerasan, ruang istirahat terbatas, dan fasilitas toilet minim. Selain itu, penerangan di malam hari juga kurang memadai sehingga menimbulkan ketidaknyamanan dan potensi gangguan keamanan bagi masyarakat.
Kepala Terminal Natai Suka Syamsul Qomar membenarkan kondisi tersebut. Sebagai salah satu fasilitas publik di Kobar, terminal seharusnya mendapat perhatian lebih dalam hal infrastruktur dan pelayanan.
“Kalau berbicara fasilitas, memang masih banyak yang memerlukan perhatian. Terminal ini butuh sentuhan anggaran agar lebih bergairah,” ujarnya.
Meski fasilitas terbatas, Syamsul menyebutkan bahwa jumlah penumpang di Terminal Natai Suka justru terus meningkat. Saat ini, rata-rata penumpang yang datang dan berangkat mencapai sekitar 1.500 orang per hari, naik dari sebelumnya sekitar 1.000 orang.
“Peningkatan ini menunjukkan bahwa terminal masih berperan penting dalam menunjang mobilitas masyarakat,” katanya.
Selain pembenahan fasilitas, pihak terminal juga berencana mengalihkan pintu keluar kendaraan. Posisi pintu keluar saat ini dinilai berbahaya karena berada di jalan turunan curam dan rawan kecelakaan.
“Rencananya pintu keluar akan didekatkan dengan pintu masuk. Saat ini tanah sedang diratakan menggunakan excavator, dan ditargetkan mulai dikerjakan tahun depan,” jelas Syamsul.
Saat ini, aktivitas keberangkatan di Terminal Natai Suka mencapai 12 kali per hari. Layanan tersebut dilayani oleh sejumlah perusahaan otobus (PO), antara lain PO Yessoe sebanyak 5 kali, PO Logos 5 kali, PO Agung Mulia 1 kali, dan DAMRI 1 kali. Trayek yang dilayani mencakup Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) dan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP), yang menghubungkan Pangkalan Bun dengan berbagai wilayah di Kalimantan Tengah maupun luar provinsi.
Syamsul menambahkan, peningkatan jumlah penumpang juga dipengaruhi oleh meningkatnya kualitas layanan perusahaan otobus. Kehadiran bus kelas sleeper menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.
“Bus-bus sleeper sekarang makin diminati karena lebih nyaman untuk perjalanan jauh,” ungkapnya.
Namun, ia menegaskan bahwa lonjakan penumpang biasanya terjadi pada momen tertentu seperti Idul Fitri serta Natal dan Tahun Baru, sedangkan di hari biasa jumlah penumpang relatif stabil.
(sam/yit)
Editor : Heru Prayitno