NANGA BULIK, radarsampit.jawapos.com – Kondisi Jalan Simpang Sepaku–Perigi di Kabupaten Lamandau kian memprihatinkan. Selain menjadi pertaruhan nama besar pemerintah daerah, jalan tersebut kini juga menjadi taruhan nyawa bagi masyarakat yang melintas. Tidak sedikit kendaraan mengalami kecelakaan akibat rusaknya ruas jalan tersebut.
Pada musim hujan seperti sekarang, jalan semakin licin, lubang melebar dan dalam, serta batu-batu besar bermunculan di tengah jalan karena tergerus air. Beberapa bagian jalan yang rendah pun berubah menjadi kubangan lumpur.
Bupati Lamandau Rizky Aditya Putra tidak menutupi kondisi tersebut. Berbeda dari sebagian kepala daerah yang enggan dikritik, ia justru memposting keluhan warganya di media sosial, termasuk kisah pilu seorang warga yang kehilangan bayi karena terlambat mendapatkan pengobatan akibat kondisi jalan rusak itu.
“Saya turut prihatin dan sedih. Banyak keluhan warga yang masuk terkait kerusakan Jalan Sepaku–Perigi ini. Yang paling membuat saya terpukul adalah cerita orang tua yang kehilangan anaknya karena terlambat berobat,” ujar Bupati termuda di Kalimantan tersebut.
Rizky menjelaskan, keterbatasan anggaran daerah membuat perbaikan jalan harus dilakukan secara bertahap. Tahun ini, perbaikan baru dilakukan di sekitar Bundaran Sepaku.
“Rencananya, akan ada tambahan anggaran perbaikan dari APBD provinsi dan kabupaten pada tahun depan. Namun karena jalan ini butuh penanganan darurat, dalam waktu dekat—bulan November ini—kami akan mengerahkan CSR dari sejumlah perusahaan untuk memperbaiki ruas tersebut,” ungkapnya.
Salah satu kisah warga yang viral di media sosial datang dari akun @yopi07c, yang juga diunggah ulang oleh Bupati. Dalam unggahan itu, Yopi menceritakan perjuangannya membawa sang bayi, Gania Azaleya (Leya), ke rumah sakit.
“Hari ini kami melaju dengan ketakutan. Tujuan kami UGD Kabupaten. Leya, bayi kecil kami, sudah tiga hari demam tinggi. Sudah berobat ke dua klinik berbeda, tapi demamnya tak kunjung turun. Akhirnya kami putuskan ke ibu kota kabupaten,” tulisnya.
Yopi mengisahkan bagaimana ia berusaha melajukan mobil secepat mungkin di jalan rusak sambil berharap pengendara lain memberi jalan. Namun, perjalanan sulit itu berakhir tragis—bayinya meninggal dunia sebelum tiba di rumah sakit.
“Jika saja jalan ini sedikit lebih baik, mungkin Leya masih bisa diselamatkan. Kalau jalan tetap seperti ini, entah berapa lagi nyawa yang melayang—ibu melahirkan bisa saja meninggal di jalan,” tulisnya lagi.
“Kami tidak ingin menyalahkan siapa pun, hanya menagih janji agar jalan ini segera diperbaiki.”
Tragedi tersebut menambah panjang daftar keluhan masyarakat terhadap kondisi infrastruktur jalan di Lamandau, khususnya di jalur vital Simpang Sepaku–Perigi yang menjadi penghubung utama antarwilayah. (mex/yit)
Editor : Heru Prayitno